[Catatan] Perjumpaan Awal dengan Gol A Gong dan Hal-Hal Terkait Kepenulisan

Berfoto di Museum Literasi Gol A Gong
Suatu siang di sudut kampus, sebuah bazar buku sedang ramai didatangi mahasiswa. Di antara lalu-lalang orang dan tumpukan buku yang berjejer di atas meja panjang, seorang mahasiswa kurus beralmamater kuning berhenti di salah satu stan. Matanya menyapu harga-harga buku yang tampak tidak bersahabat dengan sisa uang jajannya hari itu. Namun ada satu hal yang lebih besar daripada isi dompetnya: gengsi. Rasanya terlalu malu jika pulang tanpa membawa satu buku pun. Ia mulai mencari buku paling murah.

Tangannya lalu berhenti pada sebuah buku bersampul kuning dengan judul nyentrik: "Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak" karya Gol A Gong (yang tahun ini akan dicetak ulang dengan sampul baru). Nama yang, saat itu, masih sangat asing baginya. Ia membeli buku itu bukan karena mengenal penulisnya, melainkan semata karena harganya yang paling masuk akal untuk ukuran kantong mahasiswa.

Tapi jalan takdir tidak ada yang tahu ke mana ia akan berkelok membawamu pergi.

Buku murah itu ternyata tidak murahan. Dari halaman ke halaman, ia seperti menemukan pintu yang selama ini ia cari: jalan menuju dunia kepenulisan. Keinginan menjadi penulis yang sudah tumbuh sejak masa sekolah mendadak terasa mungkin untuk dijalani. Sampai kemudian ia tahu bahwa penulis buku itu mendirikan komunitas literasi bernama Rumah Dunia di Ciloang, Serang—tidak jauh dari kampusnya.


Sejak saat itu, ia mulai datang, belajar, lalu kerasan berada di antara orang-orang yang sefrekuensi. Ia berguru kepada Mas Gong, begitu ia kemudian memanggilnya. Dari rumah sederhana yang dipenuhi buku itulah, ia bertemu banyak penulis, mendengar banyak cerita, dan memahami bahwa menulis bukan hanya soal bakat, melainkan juga ketekunan merawat hidup.

Tahun 2014, saat mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-23, ia tergerak melakukan sesuatu yang serupa. Terinspirasi dari Rumah Dunia yang membuka akses membaca gratis bagi siapa saja, ia mendirikan perpustakaan mini Rumah Baca Garuda dari koleksi bukunya sendiri. Sebuah ruang kecil yang dibangun dari keyakinan sederhana; buku yang baik seharusnya tidak berhenti di rak pribadi.

Rumah Baca Garuda 2014-2025

Rumah Baca Garuda, 2026 - Sekarang

Bertahun-tahun kemudian, ia kembali bertemu kekaguman itu dalam bentuk yang berbeda. Tahun ini, Gol A Gong membuka “Museum Literasi Gol A Gong” di areal rumah pribadinya, dan ia sempat berkunjung ke sana. Memasuki museum itu seperti memasuki lorong perjalanan seorang penulis yang hidupnya benar-benar diabdikan untuk literasi. Di tiap ruangan, suasananya berbeda. Buku-buku karya Mas Gong dari terbitan pertama hingga ratusan judul lain tersusun rapi dan terarsip dengan penuh cinta.

Di sana ada pula karya para relawan Rumah Dunia dan penulis-penulis Banten. Ada buku-buku yang menginspirasi Mas Gong ketika menulis—termasuk terbitan tahun lawas 1950-an dan 1990-an—buku-buku yang usianya bahkan lebih tua daripada pengunjung yang datang membacanya hari ini.

Mas Gong berkata bahwa siapa pun boleh berkunjung. Bahkan, sambil bercanda ia bilang lebih baik disegerakan sebelum tahun depan ia kembali berkeliling dunia. Kalimat itu membuatnya tersenyum kecil.

Sebab pria kurus yang dulu membeli buku termurah di bazar kampus itu kini memang telah menjadi penulis besar, maksudnya telah menjadi pria besar (badannya). 😝

Namun di atas semua itu, ada satu hal yang paling ia kagumi dari Gol A Gong: ketika pertama kali merintis Rumah Dunia, Mas Gong tidak menamainya “Rumah Gol A Gong”, apalagi menambahkan gelar haji di depan namanya. Padahal saat itu namanya sudah jauh lebih dikenal dibanding banyak orang di sekitarnya. Tapi ia sadar, Rumah Dunia dibangun bersama-sama, tumbuh dari gotong royong dan semangat berbagi.

Mungkin karena itulah tempat itu terasa hidup sampai hari ini~

Cilegon, 19 Mei 2026

Comments

Popular posts from this blog

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Serial] Luka, Makan, Cinta: Ketika Luka Meracik Rasa Menjadi Cinta

[Self-Depression] Semua Tentang Waktu

[Ulasan Film] Saat Manusia Berteman dengan Alien: Jantung Sebenarnya Film "Project Hail Mary"

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni

[CATATAN] Sekilas Tentang Rumah Baca Garuda

[Cerpen] Pohon Mangga di Pekarangan Rumah