Posts

Showing posts with the label Puisi-Puisi

[Catatan] Di Antara yang Patah dan Pulih - Kata Pengantar untuk Buku Puisi "Dukkha" karya Beatrix Yunarti Manehat

Image
    — Pengalaman personal atas pembacaan b uku p uisi Dukkha karya Beatrix Yunarti Manehat . Membaca puisi-puisi Beatrix dalam Dukkha adalah pengalaman yang menyerupai menyimak bisikan hati seseorang yang sedang belajar mencinta dan memahami luka dalam diam. Tak banyak orang mampu menulis dengan kejujuran serentan ini, apalagi dari seorang yang kita kenal selama ini bergulat di ruang-ruang akademik yang disiplin dan struktural. Namun justru di sinilah kejutannya: Beatrix menulis puisi dengan kerendahan hati yang langka dan kelembutan yang tidak dibuat-buat. Di balik kete raturannya dalam ranah akademik, Beatrix ternyata menyimpan ruang yang begitu peka dan reflektif— terasa abstrak tetapi bisa kita rasakan. Ia memiliki sisi penyair yang tak hanya mampu menangkap perasaan, tetapi juga menyajikannya dalam bentuk narasi yang dekat, tulus, dan penuh empati. Puisinya tidak dibuat untuk tampil mencolok atau memikat lewat metafora kompleks—melainkan hadir seperti teman lam...

[Puisi] Guru Engkau Adalah....

Image
image by shutterstock.com aku adalah batu dan engkau adalah air hujan yang jatuh dari langit  setiap tetesnya mengalir kesabaran seorang guru  aku adalah gelap dan engkau adalah lorong yang panjangnya menuntun ke cahaya  setiap langkahnya menapaki kegigihan seorang guru  aku adalah lilin dan engkau adalah api yang giat menekuri panas  setiap kobarannya memberi terang dan nyala bagi hati yang buta  aku adalah mati dan engkau adalah hidup yang senantiasa berbagi napas  setiap helaannya adalah ilmu yang bermanfaat sampai akhirat  aku adalah anak kecil yang merengek setiap hari  engkau adalah sepasang sayap yang mengajakku terbang melihat indahnya kuasa ilahi aku adalah air mata dan engkau jari-jemari yang setia menghapus kesedihan setiap tangismu adalah doa untuk kebaikan kami  wahai guru engkau adalah matahari yang tabah membangunkan malasku setiap pagi yang tak kenal lelah menyinari sudut-sudut gelap di hati kami ...

[Esai] Saya Selalu Membayangkan Duduk Bersebelahan dengan Pak Sapardi dan Berbisik (Bentara Budaya, 2020)

Image
  1/ pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri [1] Saya pernah dibuat kecewa oleh Sapardi. Saat itu kebetulan bulan Juni tapi langit tak sedang hujan. Novelnya yang berjudul sama dengan puisinya, Hujan Bulan Juni terbit. Mulanya saya enggan untuk membelinya, karena saya tak mau ekspektasi saya akan puisinya yang sudah tinggi, menurun. Namun bagaimana lagi, rasa penasaran timbul bak bisul di ujung pantatmu. Kalau tak lekas diobati atau dipecahkan, ia akan terus membesar dan cukup membuatmu gusar ketika hendak duduk. Maka dengan niat yang bulat, berangkatlah saya ke toko buku lalu membeli novel bersampul sederhana itu; dominasi antara warna krem dan abu-abu, tanpa gambar apa pun selain tulisan hujan bulan juni yang didesain seolah-olah pudar diterpa air hujan, lalu di bawahnya nama sastrawan besar itu tertera. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan novel itu dalam sekali duduk. Dua atau tiga jam saya...

[Catatan] Sewindu Berkarya; Kilas Balik Perjalanan Kepenulisan Ade Ubaidil

Image
  Sewindu sudah saya bergelut di dunia kepenulisan ini. Beragam karya telah berhasil saya tuliskan. Banyak sekali orang yang berjasa selama saya berproses meningkahi anak tangga kekaryaan. Saya tak bisa menyebutkan satu per satu lantaran terlampau banyak, yang jelas siapa pun yang pernah berbagi pengetahuan hingga hari ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Semua ini baru awalan. Setelah saya menyelami lautan aksara, ternyata terlampau dalam dunia kesusastraan ini, dan saya masih berada jauh di permukaan, dengan buih-buih yang sesekali lenyap tersapu angin. Saya tak ingin menjadi bagian dari buih-buih itu. Saya ingin menjadi ikan, pasir, terumbu karang, bahkan air laut itu sendiri. Saya ingin menghasilkan karya yang indah, yang bisa dinikmati oleh mereka para pembaca setia. Melalui tulisan, pikiran saya bisa merasa merdeka. Menulis juga bagi saya bisa sebagai terapi ketika ada perasaan yang sulit diungkapkan secara lisan. Maka setelah 8 tahun berkarya, saya tak akan pernah berh...

[Puisi] Sarmin dan Kampung Masa Kecilnya ( 4 Puisi untuk Cilegon)

Image
Ilustrasi by Rizqi Ramadhani Ali SARMIN DAN KAMPUNG MASA KECILNYA “Gunung dikeruk! Gunung dikeruk!” Sarmin berlarian dari ujung gang ke ujung hari Bukit tempat ia bermain gundu dan layangan Tinggal semata kaki Kambing dan bebek angonannya Berpencar ke sana-kemari Orang-orang makin tak peduli Mereka yakin Sarmin kumat lagi “Mana mungkin itu terjadi? Lihat bapak berdasi datang ke kampung berbagi rezeki....” Sahut Pak Beni sembari menanam padi Di sawah milik Pak Riyadi Sarmin tak dipercaya lagi Dari hari ke hari ia hanya bisa menangis Seorang diri Sampai suatu pagi Bapak berdasi yang pernah diceritakan Pak Beni Datang ke kampung kami Membawa barisan truk dan buldozer tinggi sekali “Tanah ini milik kami. Di sini mall akan berdiri!” Katanya tak hilang wibawa. Menyuruh anak buah Mengusir Pak Beni pergi Tak ada lagi sawah Tak ada lagi ladang Tak ada lagi bukit tinggi Sarmin merantau mencari Kampung lain untuk ditingg...

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

Image
Lake Maning Bocah [1] lake maning bocah menganan banyu wudhu ning balong musola lake maning bocah jorangan nyelentik pelér pas imam lan ma’mum sujud berjama’ah lake maning bocah pepelayon ning luteng masjid uber-uberan untal-untalan sejadah ning langgar kari yayi fulan nabuh bedug adan dewek qomat dewek salat dewek dunie ngerangkuli bocah kuat-kuat emak lan bapane sing nyered Cibeber, 2016 *** Emak kebul ngepul saking berimah banyu ngegolak geni murab-murab dade ngedidih mate perih emak kule kebayang sipeng wau pas tahajud do’e kepireng linggar haji linggar haji laksane ngedikir ati ngegeter awak nganggur dereng antuk gawe Cibeber, 2016 *** Ule lan Sawah wenten ule raksasa ngebelah sawah kali lan dadah walang, kinjeng, manuk emprit kuntul mabur pindah umah mame nde watuk sembari nyered-nyered kebo mobil lewat motor lewat nin...