[Catatan] Di Antara yang Patah dan Pulih - Kata Pengantar untuk Buku Puisi "Dukkha" karya Beatrix Yunarti Manehat
![]() |
—Pengalaman personal atas pembacaan buku puisi Dukkha karya Beatrix Yunarti Manehat.
Membaca puisi-puisi Beatrix dalam
Dukkha adalah pengalaman yang menyerupai menyimak
bisikan hati seseorang yang sedang belajar mencinta dan memahami luka dalam
diam. Tak banyak orang mampu menulis dengan kejujuran serentan ini, apalagi
dari seorang yang kita kenal selama ini bergulat di ruang-ruang akademik yang disiplin dan struktural. Namun
justru di sinilah kejutannya: Beatrix menulis puisi dengan kerendahan hati yang
langka dan kelembutan yang tidak dibuat-buat.
Di balik keteraturannya dalam ranah akademik, Beatrix ternyata menyimpan ruang yang begitu peka dan reflektif—terasa abstrak tetapi bisa kita rasakan. Ia memiliki sisi penyair yang tak hanya mampu menangkap perasaan, tetapi juga menyajikannya dalam bentuk narasi yang dekat, tulus, dan penuh empati. Puisinya tidak dibuat untuk tampil mencolok atau memikat lewat metafora kompleks—melainkan hadir seperti teman lama yang duduk diam di samping kita, mendengarkan, dan terkadang berbicara pelan, namun menyentuh hati.
Buku ini dibagi menjadi empat bagian, dan masing-masing membawa kita menyusuri lintasan emosional: dari patah hati yang belum pulih, keraguan terhadap cinta yang baru, hingga keberanian membuka diri kembali. Setiap larik Beatrix seperti membisikkan sesuatu yang pernah kita rasakan tapi tak sempat kita ungkapkan sendiri. Ia menulis seperti orang yang tidak sedang mencoba “membuktikan” apa-apa, melainkan benar-benar sedang menyembuhkan.
Keistimewaan dari puisi-puisi ini bukan hanya dari temanya yang universal, tapi dari cara Beatrix mengolahnya dengan kesadaran akan batas-batas manusia. Ia tidak memaksa pembaca untuk setuju, ia hanya mengajak kita merasa—dan barangkali itulah fungsi paling jujur dari puisi: menjadi ruang yang aman bagi kerentanan kita.
Simak penggalan dari puisi berjudul Seutuh Itu, Cintamu:
Dicintai
olehmu seperti pulang sore hari,
lelah
dunia seakan luruh di tatapmu yang sabar.
Kau
tak hanya hadir, tapi mengerti,
menyediakan
dada seperti rumah—tak bertanya, hanya menerima.
Di buka dengan bab-bab keputusasaan dan keraguan, namun puisi yang ditaruh di bab paling akhir ini menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk pulih dalam mencintai.
Membaca buku ini, saya dibuat
rindu—bukan hanya pada orang, tetapi pada versi diri sendiri yang dulu pernah
berani mencinta dan terluka. Dan di sela rasa rindu itu, saya juga diliputi
kekaguman: bagaimana Beatrix menyusun kata-kata dengan keikhlasan yang membuat
luka terasa bukan sebagai akhir, melainkan pintu masuk menuju versi diri yang
lebih utuh.
Buku ini layak dibaca bukan hanya oleh mereka yang sedang jatuh cinta, tapi juga oleh siapa saja yang sedang belajar menerima, melepaskan, dan tumbuh. Karena seperti yang ditulis Beatrix dalam satu puisinya: Cinta memang begitu—tidak selalu benar, tapi jujur dalam rasa.
Cilegon, 15/05/2025

Comments
Post a Comment