[Ulasan Serial] Berlin and The Lady with an Ermine: Perampokan yang Terlalu Mudah dan Kisah Cinta yang Terlampau Riuh

Skor: 8/10

Setelah musim pertamanya yang bagi saya terasa naik-turun, Berlin and The Lady with an Ermine (2026) berhasil tampil lebih meyakinkan. Serial ini mengikuti Berlin dan Damián yang kembali mengumpulkan kru mereka di Seville untuk menjalankan sebuah rencana besar. Di permukaan, target mereka adalah lukisan The Lady with an Ermine karya Leonardo da Vinci. Namun di balik itu, mereka sebenarnya ingin memberi pelajaran kepada Duke dan Duchess of Málaga yang pernah memeras Berlin.

Dibandingkan serial Berlin (2023), musim ini terasa lebih matang. Karakter-karakternya berhasil membangun simpati penonton dengan lebih baik. Hubungan antartokoh yang menjadi plot sampingan juga mendapat porsi yang pas sehingga emosinya terasa lebih dalam dan membuat saya lebih terlibat dengan perjalanan mereka.

Sayangnya, masalah yang sama masih muncul. Semua terasa terlalu mudah. Istana sebesar itu tampak dijaga seadanya dan sering kali terasa begitu sepi sehingga sulit dipercaya menjadi target yang sangat sulit ditembus. Serial ini dari total 8 episode yang masing-masing sekitar satu jam, menghabiskan sebagian besar episodenya untuk membangun rencana, penjajakan cinta tiap karakter, dan konsep perampokan, tetapi ketika aksi besar benar-benar terjadi, eksekusinya justru terasa singkat. Baik pencurian lukisan maupun perampokan terhadap Duke banyak diselesaikan melalui rangkaian montage sehingga ketegangan yang seharusnya menjadi daya tarik utama malah berkurang. Saya terus menunggu hambatan besar, bentrokan dengan polisi, atau situasi yang benar-benar mengancam rencana mereka, tetapi itu tidak pernah benar-benar datang.

Saya juga sempat berharap serial ini lebih fokus pada cerita utamanya. Namun, seperti banyak produksi Netflix lainnya, masih ada selipan adegan seksual dan subplot hubungan yang menurut saya tidak terlalu diperlukan. Beberapa adegan ciuman bahkan terasa berulang hingga kehilangan daya tariknya. Ada pula kisah cinta segitiga yang dibangun dengan cara yang agak aneh; seorang karakter perempuan tidak bisa menentukan pilihannya, sementara kedua laki-laki yang terlibat seolah menerima situasi itu begitu saja. Lalu cinta diam-diam antarlelaki yang khas Netflix banget. Bagi saya, subplot semacam ini terasa dipaksakan masuk ke dalam cerita.

Di luar itu, serial ini justru menarik ketika membahas dunia seni. Informasi tentang lukisan, koleksi karya seni, dan nilai historis di baliknya disampaikan dengan cukup baik sehingga menambah daya tarik cerita. Saya bahkan beberapa kali merasa lebih tertarik pada pembahasan seninya daripada aksi perampokannya sendiri.

Kejutan yang paling menyenangkan tentu kemunculan Profesor. Kehadirannya sebagai adik Berlin berhasil membangkitkan nostalgia penggemar Money Heist. Karakter ini masih memiliki daya tarik yang kuat, dan kemunculannya menjadi hadiah kecil yang cukup efektif bagi mereka yang merindukan semesta serial tersebut.

Secara keseluruhan, Berlin and The Lady with an Ermine adalah peningkatan dari musim sebelumnya. Karakternya lebih hidup, emosinya lebih terasa, dan dunia yang dibangunnya lebih menarik. Meski ketegangannya masih kurang dan beberapa subplot terasa tidak perlu, serial ini tetap menjadi tontonan yang seru dan menghibur untuk diikuti sampai akhir.

Cilegon, 07 Juni 2026

Comments

Popular posts from this blog

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Self-Depression] Semua Tentang Waktu

[Catatan] Menjawab Pertanyaan tentang Film Yuni dan Proses Novelisasinya

Kreativitas Dalam Dunia Penipuan: Pengalaman Pahit Awal Melamar Pekerjaan Melalui Job Fair

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

[Catatan] Tanggapan Hilmi Faiq, Redaktur Sastra Kompas atas Kumcer "Perangkap Pikiran Beni Kahar" Karya Ade Ubaidil

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Catatan] Perjumpaan Awal dengan Gol A Gong dan Hal-Hal Terkait Kepenulisan

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Film] Anaconda: Saat Sinefil Berkumpul dan Me-remake Film Versinya Sendiri