[Ulasan] Tokoh Manusiawi yang Hidup di “Dunia Dalam Kurung” karya Erni Febriyani
![]() |
| Ulasan ini disampaikan dalam acara bedah buku "Dunia Dalam Kurung" |
Buku Dunia Dalam Kurung karya Erni Febriyani membuka dirinya dengan sebuah pertanyaan: Siapa saja orang-orang yang selama ini hidup di dalam tanda kurung kehidupan? Mereka ada, tetapi sering terabaikan. Mereka hadir, tetapi suaranya kalah oleh hiruk-pikuk dunia. Gagasan itu sebenarnya sudah ditegaskan sejak halaman prakata, ketika Erni menyebut bahwa di dalam kurunglah berbagai luka, rahasia, dan suara-suara kecil bersembunyi. Tema tersebut kemudian menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh cerpen dalam buku ini.
Cerpen pembuka, Nada-Nada yang Tak Diminta, menjadi pintu masuk yang tepat untuk memahami cara Erni memandang dunia. Kisah dua sahabat yang menghabiskan malam di alun-alun berubah menjadi ruang refleksi tentang para pengamen, pedagang kaki lima, tukang parkir, dan orang-orang yang bekerja di pinggir kehidupan kota. Cerita ini tidak berusaha meledak-ledak. Tidak ada konflik besar ataupun penyelesaian yang dramatis. Justru di situlah kekuatannya. Erni membiarkan pembaca memandangi tokoh-tokohnya sebagaimana mereka memandangi orang-orang di sekitar alun-alun: perlahan, reflektif, dan penuh empati.
Ada satu kalimat yang menarik perhatian sejak awal cerita, “Malam tak menunjukkan tanda-tanda ingin beristirahat.” Kalimat semacam ini menunjukkan kecenderungan Erni yang gemar menggunakan metafora dan personifikasi untuk memperkuat suasana. Pilihan bahasanya cukup puitis, tetapi masih dapat mengikuti alur cerita dengan baik.
Kecenderungan itu kembali muncul dalam cerpen kedua, Cokelat Hangat di Ujung Senja. Cerita tentang seorang anak pertama yang merasa tersisihkan setelah kehadiran adiknya ini sebenarnya mengangkat tema yang tidak sederhana. Luka batin tokohnya begitu besar hingga muncul keinginan untuk mengakhiri hidup. Namun yang menarik, Erni memilih menyampaikan semuanya melalui sudut pandang yang terasa polos dan jujur. Kepolosan tersebut membuat konflik emosional tokohnya terasa lebih manusiawi.
Di cerpen ini juga muncul beberapa ungkapan menarik seperti “Bokap lo udah pasang tanduk” atau “senyum yang lebih mirip dinding—datar.” Ungkapan-ungkapan seperti itu memperlihatkan usaha penulis mencari cara yang segar untuk menggambarkan perasaan tokohnya. Sekali lagi, Erni tidak tergoda untuk menyelesaikan semua persoalan. Ia tidak memaksa tokoh berdamai dengan orang tuanya. Tidak ada rekonsiliasi besar yang dipaksakan demi menghadirkan akhir yang bahagia. Cerita ditutup karena memang kisah yang ingin diceritakan sudah selesai. Sisanya diserahkan kepada pembaca untuk menafsirkan sendiri.
Cerpen Rumah yang Terlalu Diam menjadi salah satu cerita yang paling kuat dalam kumpulan ini. Sejak awal, Erni berhasil membangun suasana rumah yang terasa menekan melalui detail-detail kecil. Salah satu kalimat yang sangat efektif adalah, “Setiap hari laki-laki itu memperlakukan Mama seperti bagian dari perabot rumah.” Kalimat tersebut bukan hanya metafora yang tepat guna, tetapi juga langsung memberi gambaran tentang relasi kuasa yang terjadi di dalam keluarga.
Cerita ini mengisahkan seorang ibu yang selama bertahun-tahun diperlakukan tidak layak oleh suaminya hingga akhirnya muncul tanda-tanda perlawanan. Menariknya, Erni tidak menggambarkan konflik rumah tangga secara vulgar atau ekstrem. Ia hanya memberi petunjuk-petunjuk kecil dan membiarkan pembaca menyusun sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Pendekatan ini membuat cerita terasa lebih matang dan lebih menghargai kecerdasan pembacanya.
Dari sisi teknis penceritaan, cerpen ini juga terasa cukup filmis. Perpindahan adegan dilakukan dengan ritme yang membuat ketegangan meningkat perlahan. Twist yang disiapkan di bagian akhir juga bekerja dengan baik. Meski demikian, ada sedikit catatan pada aspek tata letak. Bagian bertuliskan “My Memories” sempat terasa seperti memasuki judul cerpen baru, padahal ternyata masih bagian dari cerita yang sama. Dalam medium buku, pembaca hanya mengandalkan teks sehingga tata letak perlu membantu memperjelas maksud penulis. Penggunaan font berbeda atau ilustrasi sederhana mungkin dapat membantu mengurangi ambiguitas tersebut.
Tiga cerpen awal dalam buku ini memperlihatkan napas yang serupa: tokoh-tokohnya adalah orang-orang yang merasa terkurung oleh lingkungan sosial maupun keluarganya sendiri. Dalam konteks itu, judul Dunia Dalam Kurung terasa relevan. Erni tampaknya memulai kepengarangannya dari hal-hal yang dekat dengan pengalaman sosial di sekitarnya. Pilihan yang cukup wajar, bahkan penting, terutama bagi penulis yang sedang membangun suara kepengarangannya sendiri.
Pada cerpen Residu Baja, Erni mencoba keluar dari zona nyaman dengan menghadirkan tokoh utama laki-laki. Pada awalnya saya sempat meragukan pilihan ini karena sebagian besar tokoh utama sebelumnya adalah perempuan. Namun keraguan itu perlahan terjawab ketika penulis berhasil menggambarkan dunia kerja seorang buruh konstruksi dengan cukup meyakinkan. Detail-detail suasana proyek dan kehidupan kelas pekerja terasa hidup. Meski demikian, ada catatan teknis yang perlu diperhatikan. Menjelang bagian akhir cerita terjadi perubahan sudut pandang dari narator “aku” menjadi penyebutan tokoh sebagai “dia”. Perubahan seperti ini tentu bisa dilakukan, tetapi membutuhkan konsistensi yang ketat. Pada beberapa bagian masih terdapat suara narator “aku” yang muncul kembali secara tiba-tiba sehingga sedikit mengganggu pembaca yang memperhatikan detail penceritaan.
Empat cerpen berikutnya, yaitu Jejak Lumpur Merah, Anatomi Kepalsuan, Logika yang Menjadi Bulu, dan Lingkaran Tanpa Sudut, bergerak ke wilayah misteri, mistis, dan dunia khayali. Ada karakter manusia yang berubah menjadi kucing, cincin tua dengan sejarah tertentu, hingga berbagai elemen yang menuntut logika dunia cerita yang berbeda dari realitas sehari-hari.
Di titik inilah riset dan konsistensi logika cerita menjadi sangat penting. Fiksi memang memberi kebebasan untuk menciptakan dunia baru, tetapi setiap dunia tetap membutuhkan aturan mainnya sendiri. Pembaca harus percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi masih masuk akal dalam kerangka dunia yang dibangun oleh cerita tersebut.
Satu hal lain yang cukup menarik perhatian adalah pilihan judul. Sebagian besar judul cerpen dalam buku ini terdengar puitis dan estetis. Begitu pula dengan judul bukunya. Namun terkadang hubungan antara judul dan isi cerita belum sepenuhnya terasa kuat. Ada kesan bahwa nilai estetik bahasa lebih diutamakan dibanding keterkaitan langsung dengan isi cerita. Tentu saja ini bukan kesalahan. Banyak penulis memilih judul yang bersifat simbolik atau metaforis. Namun saya pribadi lebih menyukai judul yang memiliki hubungan yang jelas dengan inti cerita sehingga ekspektasi pembaca dan isi cerita dapat bertemu dengan lebih baik.
Hal serupa juga berlaku pada judul buku Dunia Dalam Kurung. Umumnya kumpulan cerpen mengambil salah satu judul cerpen sebagai judul buku. Namun bukan berarti harus selalu demikian. Dalam kasus ini, judul buku tampaknya dipilih untuk merangkum keseluruhan tema yang menghubungkan cerpen-cerpen di dalamnya. Keputusan tersebut tentu menjadi hak penulis dan penerbit, yang kadang juga mempertimbangkan aspek pemasaran maupun daya tarik judul di mata calon pembaca.
Secara keseluruhan, Dunia Dalam Kurung adalah debut yang menjanjikan. Cerpen-cerpennya dapat dibaca dan dinikmati dengan cukup baik. Selain mengangkat tema keluarga, Erni juga mencoba menjelajahi berbagai latar seperti dunia buruh bangunan, pendidikan, kedokteran, hingga persidangan. Keberanian mengeksplorasi berbagai ruang sosial ini merupakan modal yang baik untuk perkembangan kepengarangannya di masa depan.
Tantangan berikutnya adalah memperkuat riset, menjaga konsistensi teknis penceritaan, dan terus mempertajam hubungan antara gagasan, judul, serta isi cerita. Jika kemampuan tersebut terus diasah, bukan tidak mungkin dunia-dunia kecil yang selama ini hidup di ((dalam kurung)) akan tumbuh menjadi semesta cerita yang semakin luas dan matang pada karya-karya berikutnya. Selamat!
Cilegon, 06/06/2026

Comments
Post a Comment