Posts

[Ulasan Serial] Berlin and The Lady with an Ermine: Perampokan yang Terlalu Mudah dan Kisah Cinta yang Terlampau Riuh

Image
Skor: 8/10 Setelah musim pertamanya yang bagi saya terasa naik-turun, Berlin and The Lady with an Ermine (2026) berhasil tampil lebih meyakinkan. Serial ini mengikuti Berlin dan Damián yang kembali mengumpulkan kru mereka di Seville untuk menjalankan sebuah rencana besar. Di permukaan, target mereka adalah lukisan The Lady with an Ermine karya Leonardo da Vinci. Namun di balik itu, mereka sebenarnya ingin memberi pelajaran kepada Duke dan Duchess of Málaga yang pernah memeras Berlin. Dibandingkan serial Berlin (2023), musim ini terasa lebih matang. Karakter-karakternya berhasil membangun simpati penonton dengan lebih baik. Hubungan antartokoh yang menjadi plot sampingan juga mendapat porsi yang pas sehingga emosinya terasa lebih dalam dan membuat saya lebih terlibat dengan perjalanan mereka. Sayangnya, masalah yang sama masih muncul. Semua terasa terlalu mudah. Istana sebesar itu tampak dijaga seadanya dan sering kali terasa begitu sepi sehingga sulit dipercaya menjadi target yang san...

[Ulasan Film] Over the Hedge: Ajakan untuk Hidup Berdampingan dengan Alam

Image
Skor: 8/10 Dua puluh tahun lalu film ini pertama kali tayang, dan baru sekarang saya berkesempatan menontonnya melalui Netflix. Menariknya, meskipun sudah berusia dua dekade, tema yang diangkat Over the Hedge masih terasa relevan hingga hari ini. Film animasi ini mengisahkan sekelompok hewan hutan yang berusaha bertahan hidup setelah sebagian besar habitat mereka dibabat habis oleh manusia dan diubah menjadi kawasan perumahan elit. Dari sudut pandang para hewan, penonton diajak melihat bagaimana pembangunan yang dilakukan manusia sering kali mengabaikan makhluk lain yang juga bergantung pada alam untuk hidup. Salah satu hal yang membuat film ini menarik adalah keberhasilannya menceritakan persoalan lingkungan tanpa terasa menggurui. Isu serius tentang hilangnya habitat satwa dikemas melalui komedi yang ringan, petualangan yang seru, dan berbagai intrik yang melibatkan para karakter hewan. Akibatnya, pesan yang ingin disampaikan terasa lebih mudah diterima oleh penonton dari berbagai u...

[Ulasan Serial] The Wonderfools: Apa Jadinya Jika Tiga Orang Plenger Memiliki Kekuatan Super?

Image
Skor: 8,5/10  Tiga warga biasa yang sangat plenger, tiba-tiba karena suatu kejadian mendapatkan kemampuan superhero yang sangat di luar nurul. Apa yang akan terjadi setelahnya? Berlatar tahun 1999 menjelang tahun baru milenium aka tahun 2000, masyarakat di Korea Selatan dihebohkan oleh isu akan terjadinya kiamat alias hari akhir. Para penganut sekte "Gereja Keabadian" mengajak orang-orang untuk bergabung agar selamat dari hari kiamat. Padahal organisasi rahasia ini adalah organisasi jahat yang menggunakan kedok gereja untuk melakukan eksperimen ilegal demi memburu darah dan jantung "Anak Keabadian" Wunderkinder yang dipercaya dapat menyembuhkan segala penyakit dan memberikan kehidupan kekal. Serial komedi aksi ini dibintangi oleh Park Eun-Bin dan Cha Eun-Woo dan aktor kelas wahid lainnya. Saking bagus dan meyakinkan dan plengernya Park Eun-bin memerankan karakter Eun Chae-ni, barulah di episode akhir saya ngeh kalau dia ternyata yang memerankan karakter pengacara au...

[Ulasan Film] Goat: Animasi Segar dan Upaya Mengejar Mimpi

Image
Skor: 8,5/10 Animasi yang segar secara visual. Menawarkan cerita dengan formula standar: from zero to hero. Namun tetap seru diikuti karena "goat" di sini dibuat bermakna ganda sebab mengisahkan seekor kambing yang bercita-cita ingin menjadi atlet basket terbaik di wilayahnya. Pesan "dream big" yang terus diulang-ulang tampak menyenangkan sekali dan memberikan afirmasi positif sepanjang film. Sebagai orang yang tidak paham tentang olahraga basket menonton ini tetap mendapatkan keseruannya; ada jokes yang komikal di sisi lain berhasil menyentuh karena sejak awal Will Harris si kambing itu digambarkan bagaimana hubungan dengan ibunya yang begitu hangat. Sayangnya, cara ia mencapai sesuatu terasa sangat mudah. Sebab, dibanding para atlet yang lain, Will malah direkrut jadi atlet profesional hanya karena dia viral mendapatkan poin melawan atlet profesional dari tim lain walaupun dia tetap kalah tapi potongan videonya saja yang viral. Cilegon, 26 Mei 2026

[Ulasan Film] Modual Nekad: Film yang Beneran Nekad

Image
Skor: 6/10 Film yang beneran nekad. Film pertamanya nggak laku-laku amat tapi tetep bikin sekuelnya. Imam Darto sebagai writer-director sebetulnya punya track record bikin cerita bagus. Dia menulis skenario film Pretty Boys (2019) dan Selesai (2021) dengan cukup apik. Bedanya, kali ini ia duduk sebagai seorang Sutradarto juga. Film keduanya ini melanjutkan cerita tentang tiga saudara yang mencari uang agar lepas dari utang dan kebutuhan hidup sehari-harinya dengan cara melakukan tindakan kriminal dan penuh resiko. Premisnya cukup menjanjikan andai dia bisa fokus ke satu plot utama saja. Sayangnya tidak. Cerita yang ditulisnya cukup lemah di banyak aspek. Bahkan, saya yang termasuk menyukai tipe dry comedy khas Darto, di film ini beneran garing banget komedinya. Hernawan Yoga dan David Nurbianto yang duduk di kursi konsultan komedi. Saran saya Darto mesti mencoba mencari comcon yang lain. Awwe jaminan ngakak-kocak karena dia yang ada di balik suksesnya Agak Laen. Padahal, Modal Nekad pu...

[Ulasan] Halte Alam Baka: Premis Menarik yang Terlalu Banyak Simpul

Image
Skor:7/10 Novel Halte Alam Baka karya Kai Elian mengisahkan Julian, seorang wartawan muda yang menerima berbagai surat dan laporan tentang sebuah halte merah misterius. Konon, siapa pun yang singgah di halte itu berkesempatan bertemu kembali dengan orang-orang yang telah meninggal. Berangkat dari rasa penasaran, Julian mulai menyelidiki keberadaan halte tersebut. Penyelidikan itu kemudian membawanya pada rangkaian kisah yang saling terhubung, mulai dari keluarga politikus, hubungan orang tua dan anak yang terpisah, hingga rahasia-rahasia masa lalu yang terus menghantui para tokohnya.  Novel yang cukup tebal ini bergerak antara dua rentang waktu: masa kini dan era 1990-an. Pergantian sudut pandang sebenarnya bukan masalah besar, apalagi seluruh cerita memang saling berkaitan. Namun, saya merasa alur yang meloncat-loncat justru membuat pembacaan menjadi lebih rumit daripada yang seharusnya. Jika seluruh peristiwa masa lalu disampaikan secara lebih runut, saya kira cerita akan jauh l...

[Ulasan] Tokoh Manusiawi yang Hidup di “Dunia Dalam Kurung” karya Erni Febriyani

Image
  Ulasan ini disampaikan dalam acara bedah buku "Dunia Dalam Kurung" Buku Dunia Dalam Kurung karya Erni Febriyani membuka dirinya dengan sebuah pertanyaan: S iapa saja orang-orang yang selama ini hidup di dalam tanda kurung kehidupan? Mereka ada, tetapi sering terabaikan. Mereka hadir, tetapi suaranya kalah oleh hiruk-pikuk dunia. Gagasan itu sebenarnya sudah ditegaskan sejak halaman prakata, ketika Erni menyebut bahwa di dalam kurunglah berbagai luka, rahasia, dan suara-suara kecil bersembunyi. Tema tersebut kemudian menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh cerpen dalam buku ini. Cerpen pembuka, Nada-Nada yang Tak Diminta , menjadi pintu masuk yang tepat untuk memahami cara Erni memandang dunia. Kisah dua sahabat yang menghabiskan malam di alun-alun berubah menjadi ruang refleksi tentang para pengamen, pedagang kaki lima, tukang parkir, dan orang-orang yang bekerja di pinggir kehidupan kota. Cerita ini tidak berusaha meledak-ledak. Tidak ada konflik besar ataupun p...

[Catatan] Perjumpaan Awal dengan Gol A Gong dan Hal-Hal Terkait Kepenulisan

Image
Berfoto di Museum Literasi Gol A Gong Suatu siang di sudut kampus, sebuah bazar buku sedang ramai didatangi mahasiswa. Di antara lalu-lalang orang dan tumpukan buku yang berjejer di atas meja panjang, seorang mahasiswa kurus beralmamater kuning berhenti di salah satu stan. Matanya menyapu harga-harga buku yang tampak tidak bersahabat dengan sisa uang jajannya hari itu. Namun ada satu hal yang lebih besar daripada isi dompetnya: gengsi. Rasanya terlalu malu jika pulang tanpa membawa satu buku pun. Ia mulai mencari buku paling murah. Tangannya lalu berhenti pada sebuah buku bersampul kuning dengan judul nyentrik: "Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak" karya Gol A Gong (yang tahun ini akan dicetak ulang dengan sampul baru). Nama yang, saat itu, masih sangat asing baginya. Ia membeli buku itu bukan karena mengenal penulisnya, melainkan semata karena harganya yang paling masuk akal untuk ukuran kantong mahasiswa. Tapi jalan takdir tidak ada yang tahu ke mana ia akan berkelok...

[Catatan] Menjawab Pertanyaan tentang Film Yuni dan Proses Novelisasinya

Image
Kamila Andini (kiri) dan Ade Ubaidil (kanan). Dokumentasi oleh Gramedia Pustaka Utama *) Catatan untuk mahasiswa, peneliti, dan pewawancara Belakangan ini saya, Ade Ubaidil, cukup kewalahan karena sering mendapatkan pertanyaan terkait film dan novel Yuni untuk kebutuhan skripsi, tesis, jurnalistik sekolah, hingga diskusi publik. Karena banyak pertanyaan yang sebenarnya mirip atau berulang, saya mencoba merapikan beberapa jawaban di sini agar bisa menjadi rujukan awal untuk teman-teman yang ingin melakukan wawancara. Saya juga merasa perlu meluruskan satu hal penting sejak awal karena sering terjadi kesalahpahaman. Film Yuni  (2021) lahir terlebih dahulu dalam bentuk skenario yang ditulis oleh Kamila Andini dan Prima Rusdi, lalu divisualisasikan menjadi film. Setelah proses syuting berjalan, saya baru terlibat dalam pengalihwahanaan dari skenario film menjadi novel. Jadi posisi saya di karya ini adalah sebagai penulis novelisasi atau adaptasi novel Yuni , bukan penulis cerita awal ...

[Self-Depression] Semua Tentang Waktu

Image
Foto diambil saat akan pulang setelah 6 bulan ngekos di BSD, Tangerang. Dulu waktu kecil saya ingin sekali cepat-cepat dewasa. Rasanya menyenangkan membayangkan hidup tanpa larangan. Bisa pergi sendiri, bisa membeli apa yang saya mau, bisa menentukan hidup sendiri tanpa harus meminta izin kepada siapa pun. Waktu itu saya pikir menjadi dewasa adalah bentuk paling utuh dari kebebasan. Saya tidak tahu bahwa setelah dewasa justru manusia menjadi semakin terikat pada banyak hal yang tidak pernah ia pilih sendiri. Ternyata untuk melakukan apa pun perlu uang. Dan untuk mendapatkan uang orang harus bekerja. Untuk bisa bekerja orang harus berebut tempat dengan banyak manusia lain yang sama-sama ingin hidup. Saya baru sadar setelah dewasa, sebagian besar hidup manusia ternyata hanya tentang bertahan. Tentang bangun pagi, memaksa tubuh tetap berjalan meski lelah, lalu menukar waktu dengan sesuatu yang disebut penghasilan agar hidup bisa terus bergerak. Kadang saya berpikir, siapa sebenarnya orang...