[Catatan] Menjadi Manusia Utuh di Tengah Teknologi yang Kian Riuh
Pada suatu pagi di tahun 2014, saya mendorong rak kayu kecil ke depan teras rumah. Rak itu dibuat oleh bapak dan temannya dari kayu bekas, dilengkapi roda agar mudah dipindahkan. Di atasnya, berjajar koleksi buku-buku pribadi saya. Maksud hati ingin meminjamkan buku, sayangnya t ak satu pun orang mampir. Mungkin mereka mengira buku-buku itu dijual. Ada rasa kecewa, tentu saja. Walaupun kemudian s aya mencoba memahami bahwa tidak semua orang tumbuh dengan kebiasaan membaca. Bahkan di rumah saya sendiri, buku bukan prioritas utama. Karena hal itulah j ustru saya merasa semakin terpanggil untuk membuka ruang yang belum ada. Saya ingin membuktikan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, berhak mendapat kesempatan untuk mengenal dunia lewat buku. S aya tidak menyerah. Saya mencetak selebaran bertuliskan: “Baca Buku Gratis di Rumah Baca Garuda ” dengan daftar jenis buku-bukunya. B ersama keponakan saya, kami tempelkan pengumuman itu di tiap gang di kampung . Keesokan harinya, ...