[Catatan] Menjadi Manusia Utuh di Tengah Teknologi yang Kian Riuh

Pada suatu pagi di tahun 2014, saya mendorong rak kayu kecil ke depan teras rumah. Rak itu dibuat oleh bapak dan temannya dari kayu bekas, dilengkapi roda agar mudah dipindahkan. Di atasnya, berjajar koleksi buku-buku pribadi saya. Maksud hati ingin meminjamkan buku, sayangnya tak satu pun orang mampir. Mungkin mereka mengira buku-buku itu dijual. Ada rasa kecewa, tentu saja. Walaupun kemudian saya mencoba memahami bahwa tidak semua orang tumbuh dengan kebiasaan membaca. Bahkan di rumah saya sendiri, buku bukan prioritas utama. Karena hal itulah justru saya merasa semakin terpanggil untuk membuka ruang yang belum ada. Saya ingin membuktikan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, berhak mendapat kesempatan untuk mengenal dunia lewat buku. Saya tidak menyerah. Saya mencetak selebaran bertuliskan: “Baca Buku Gratis di Rumah Baca Garuda dengan daftar jenis buku-bukunya. Bersama keponakan saya, kami tempelkan pengumuman itu di tiap gang di kampung. Keesokan harinya, satu dua anak berdatangan. Santri dan pelajar mulai meminjam buku. Semuanya dimulai dari keresahan sederhana: saya tidak punya teman diskusi tentang buku.

Hai, perkenalkan, saya Ubaidil F. atau lebih akrab disapa Ade Ubaidil. Lahir dan besar di kampung kecil bernama Cibeber, kota Cilegon, provinsi Banten. Anak bungsu dari empat bersaudara. Ayah saya seorang guru agama, ibu saya ibu rumah tangga yang kini berjualan kecil-kecilan di depan rumah. Kami bukan keluarga berada, tapi kami dibesarkan dalam nilai bahwa pendidikan bisa membawa kehidupan yang lebih baik. Saya adalah satu-satunya anak yang menyelesaikan pendidikan S1, dan kini sedang menempuh S2 Magister Sastra dengan jurusan Scriptwriting & Copywriting di Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Dulu, saat saya diterima kuliah, saya sempat merasa ragu. Apakah saya akan bisa menyelesaikannya? Apakah ada gunanya? Tapi setiap kali melihat kesungguhan bapak dan ibu dalam memberi dukungan, saya tahu saya harus melanjutkan. Saya belajar tak hanya untuk diri saya, tapi untuk mereka yang percaya bahwa pendidikan adalah jembatan yang tidak boleh putus.

Perjalanan saya di dunia literasi bermula pada tahun 2012. Saya belajar secara otodidak, mengikuti lomba lokal dan nasional, menelan banyak kekalahan sampai menang di satu dua lomba, hingga buku pertama saya terbit di tahun 2013. Hingga akhir 2024, dua belas buku telah saya terbitkan, sebagian besar bertema sosial, pendidikan, dan relasi antar manusia. Buku-buku ini bukan hanya dibaca, tapi juga digunakan sebagai bahan skripsi dan tesis oleh mahasiswa dari berbagai kampus.  Salah satu buku bahkan akan difilmkan melalui kerja sama dengan salah satu perusahaan besar di Banten. Namun, bagi saya, esensinya bukan di sana. Saya selalu mengingat kembali niat awal saya memutuskan menulis. Saya ingin menghadirkan bacaan dan kisah yang menyentuh hati banyak orang.

Di tahun 2014 pula saya bergabung dengan komunitas seni dan literasi Rumah Dunia. Di sana saya bertemu orang-orang yang percaya bahwa menulis bisa menjadi jalan hidup. Kami belajar menulis, berbagi bacaan, dan bermimpi bersama. Meskipun banyak dari mereka akhirnya memilih jalan lain, saya tetap melanjutkan jalan terjal ini sebagai penulis lepas—atau yang lebih saya senangi disebut sebagai pencerita.

Dari komunitas itu, saya menjadi relawan dan turut membangun media digital sastra bernama Kurungbuka.com pada tahun 2018. Saya menjadi Pemimpin Redaksi pertamanya hingga hari ini. Kami membuka ruang bagi siapa pun penulis dari seluruh Indonesia untuk mengirimkan karya, baik fiksi maupun nonfiksi. Karya yang lolos kurasi akan diterbitkan dan diberikan honorarium kecil. Ini semua kami lakukan secara swadaya. Dari relawan, untuk penulis. Lambat laun, Kurungbuka tumbuh. Kini kami memiliki pegawai dan satu dua sponsor kecil. Meski bertahan di media sastra bukan hal mudah, kami terus berusaha merawat semangatnya: memberikan ruang bagi yang belajar menulis, terutama dari daerah yang jarang mendapat panggung nasional.

Kami memanfaatkan media sosial sebaik mungkin. Setiap karya yang terbit di website, kami sebarkan semua informasinya di media sosial. Semuanya terasa tumbuh secara organik. Banyak konten kreator yang menyadari keberadaan media kami, lalu mereka turut menyebarkan informasinya. Surat elektronik kami seketika dipenuhi kiriman cerpen, puisi, dan berbagai tulisan dari anak-anak muda dari berbagai pelosok daerah yang konon mendapatkan informasinya dari media sosial seperti TikTok dan Instagram. Kami menyambut baik, artinya banyak anak muda yang gemar menulis dan membutuhkan ruang untuk menyalurkan hobinya. Saya tahu, itulah alasan mengapa kami harus bertahan. Media itu bukan hanya tempat menulis, tapi rumah untuk suara-suara kecil yang selama ini tak terdengar.

Tahun 2018, saya juga mendirikan komunitas film pendek bernama RSM Production. Kami merekam cerita-cerita lokal, kisah inspiratif warga desa, dan menghadirkannya dalam format film pendek, saya mengajak anak muda kampung berkarya bersama. Lalu awal 2025, saya bersama seorang teman membentuk komunitas baca Gala Buku. Setiap minggu, kami membaca buku bersama lalu mendiskusikannya secara terbuka. Tujuannya sederhana: menciptakan ruang aman untuk berpikir, bertanya, dan berdebat secara sehat. Dalam pertemuan-pertemuan itu, saya melihat perubahan kecil yang nyata. Anak-anak muda yang tadinya malu-malu, kini berani menyampaikan gagasannya. Mereka mulai terbiasa berbeda pendapat tanpa merasa perlu menang. Saya percaya, di sanalah karakter mulai tumbuh, bukan dari doktrin tapi dari proses mengalami dan menyadari bersama. Bagi saya, semua ini adalah bagian dari pembangunan karakter—proses membentuk masyarakat yang sadar, reflektif, dan mampu memahami dunia secara utuh.


Namun dunia hari ini berbeda. Teknologi berkembang luar biasa cepat. Semua bisa diakses dalam sekejap. Kita bisa membaca dari layar, berdiskusi dari jarak jauh, bahkan belajar dari mana saja. Tapi, teknologi yang memudahkan juga membawa tantangan: karakter manusia perlahan tergeser. Saya menyaksikan sendiri bagaimana generasi muda kini menjadi lebih cepat emosi, terbiasa dengan informasi palsu, dan terjebak dalam perang opini di media sosial. Teknologi bukanlah penyebab langsung kerusakan karakter, tapi ia bisa menjadi pemicunya jika tak dikendalikan. Kita seperti kehilangan kedalaman berpikir. Banyak yang gagap menghadapi derasnya arus digital, lalu terjerumus dalam judi online, pinjaman online ilegal, berita hoaks, dan budaya saling serang. Kita sibuk terkoneksi, tapi kehilangan keterhubungan yang sejati. Di sinilah saya melihat pentingnya menjaga dan mengingatkan satu sama lain agar kita tetap menjadi manusia utuh di tengah teknologi yang riuh. Bagi saya, kuncinya ada pada karakter. Dan literasi adalah jalan masuknya.


Saya percaya bahwa literasi bisa menjadi pembentuk karakter. Lewat membaca, seseorang belajar menunda emosi, mencerna sudut pandang lain, dan menyusun argumen. Lewat menulis, seseorang belajar bertanggung jawab atas pikirannya. Lewat diskusi, seseorang belajar untuk tidak selalu merasa paling benar. Maka ketika teknologi memudahkan akses, literasilah yang menjaga arah. Pendidikan karakter tidak lagi cukup diajarkan lewat nasihat, ia harus dibiasakan lewat proses berpikir dan bertindak setiap hari. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tapi juga kemampuan memahami, menyaring, dan menanggapi dengan bijak. Lewat literasi, kita belajar menunda reaksi, membuka diri pada perspektif lain, serta bertanggung jawab atas setiap pikiran yang kita sebarkan. Inilah yang saya ajarkan dalam setiap pelatihan menulis, dari SD hingga SMA. Bukan sekadar teknik, tapi kebiasaan berpikir kritis dan menyikapi perbedaan dengan kepala dingin.


Tahun 2022 lalu, saya diundang oleh Perpustakaan Nasional RI untuk mendampingi Gol A Gong, Duta Baca Indonesia memberi pelatihan menulis bagi siswa SMA-sederajat di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Selama satu bulan, bekerja sama dengan teman-teman Media Pendidikan Cakrawala kami berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa kemampuan menulis bisa membawa saya terbang jauh ke pulau-pulau yang ingin saya kunjungi sewaktu kecil dulu.


Di salah satu kelas yang saya ajar, ada seorang anak yang begitu antusias belajar menulis cerpen. Saya meminta semua siswa membacakan ceritanya, lalu tibalah ke seorang anak perempuan ini. Ia menulis cerita tentang keluarga dan cita-citanya. Menjelang akhir cerita, ia tiba-tiba menangis. Ketika cerita selesai dibacakan, kami di satu ruangan kelas itu tertegun, karena ceritanya begitu bagus dan tulus sampai tak terasa saya pun menitikkan air mata, disusul siswa-siswa lainnya. Mereka bertepuk tangan lalu merangkul si pemilik cerita. Dari sana saya sadar, pendidikan karakter tidak melulu soal teori atau nilai raport. Kadang, ia tumbuh dari keberanian anak kecil menuliskan apa yang ia rasakan dengan jujur. Karena yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati orang lain yang membacanya.


Saya percaya, karakter adalah kompas moral yang membuat teknologi tetap manusiawi. Tanpanya, kita akan tersesat dalam kecepatan dan kemudahan. Maka lewat Rumah Baca Garuda, Gala Buku, RSM Production, dan Kurungbuka.com, saya ingin menjaga nilai-nilai itu tetap hidup. Karena cerita—dalam bentuk buku, film, atau diskusi—adalah cara kita belajar menjadi manusia. Cara kita pulang.


Keputusan saya untuk melanjutkan S2 bukanlah hal yang mudah. Saya lulus S1 tahun 2018, dan baru enam tahun kemudian, saya berani mengambil keputusan besar untuk melanjutkan studi. Ada banyak pertimbangan. Salah satunya adalah kondisi keluarga. Ayah saya sudah pensiun, dan ibu saya membantu ekonomi keluarga dengan berjualan di warung kecil kami. Mereka mendukung, tetapi kemampuan finansial kami terbatas. Saya harus mencari biaya sendiri. Saya menabung dari pekerjaan menulis dan proyek-proyek kecil. Ada hari-hari ketika saya hampir menyerah. Saya bertanya-tanya apakah semua ini sepadan. Tapi setiap kali saya kembali mengajar, kembali membuka buku bersama teman-teman dan siswa yang saya ajar, semangat saya kembali menguat. Ada kebahagiaan yang tak bisa dibayar uang: melihat mata mereka berbinar saat menemukan satu kalimat yang mengubah pandangannya tentang dunia. Saya semakin sadar bahwa pendidikan ini penting—bukan hanya untuk saya, tapi untuk banyak orang yang akan saya sentuh lewat karya.


Saat ini saya tengah menyusun tesis tentang peristiwa letusan Gunung Krakatau tahun 1883 dan pemberontakan Geger Cilegon tahun 1888—dua peristiwa besar yang mengubah tanah kelahiran saya. Saya ingin menuliskannya dalam bentuk novel dan skenario film. Ini adalah bentuk cinta saya kepada kampung halaman. Bagi saya, ini adalah bentuk kontribusi paling nyata: menjadikan sejarah sebagai cermin masa kini. Saya percaya bahwa karakter bangsa bisa dibentuk lewat cerita-cerita yang menggugah, menyadarkan, dan memberi arah lewat karakter-karakter yang dihadirkan. Sebuah cara untuk berkata: “Sejarah kita penting. Cerita kita layak dikenang.”


Banyak orang tidak tahu bahwa pemberontakan Geger Cilegon adalah salah satu jejak penting perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial. Saya ingin membangkitkan ingatan itu, agar generasi muda tahu bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang siapa kita hari ini. Dan teknologi bisa menjadi jembatan paling efektif untuk menyampaikannya—asal digunakan dengan niat yang benar.


Namun, proses riset dan penulisan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi saya tinggal dan kuliah di luar kota. Saya sering bertanya dalam hati, apakah saya bisa membawa keluarga saya ke Surabaya saat wisuda nanti? Apakah saya bisa menyelesaikan studi ini tanpa harus membebani orang tua? Di tengah kecemasan itu, saya mendapat informasi tentang Beasiswa Unggulan ini. Bagi saya, ini bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Ini adalah harapan. Sebuah kesempatan untuk terus melangkah tanpa harus menoleh ke belakang dengan keraguan.


Saya memiliki mimpi yang besar. Saya ingin menjadi bagian dari industri kreatif Indonesia sebagai penulis skenario profesional. Saya ingin membuat film panjang yang menyentuh, yang membangun kesadaran, yang memperbaiki cara kita memahami diri sendiri dan orang lain. Saya ingin terus hadir di kampung saya, mengajar, mengajak anak-anak muda untuk membaca, menulis, dan membuat karya. Saya ingin Rumah Baca Garuda terus hidup. Saya ingin Gala Buku dan RSM Production tetap menjadi ruang belajar yang bermakna. Tentu saja mimpi ini tidak bisa saya wujudkan seorang diri.


Memang benar, teknologi bisa mempercepat segalanya, tapi karakterlah yang menjaga kita agar tidak kehilangan arah. Dan di zaman serba cepat ini, saya percaya bahwa kita butuh lebih banyak orang yang mau melambat—untuk berpikir, merasa, dan membangun sesuatu yang berarti.


Dengan beasiswa ini, saya tidak hanya ingin menyelesaikan pendidikan saya. Saya ingin melanjutkan perjuangan panjang untuk menyemai karakter lewat literasi. Karena saya percaya, ketika teknologi berlari, manusia harus tetap menggenggam kendalinya. Dan untuk itu, karakter adalah kompasnya agar kita tetap menjadi manusia yang utuh.

Cilegon, 23 Juli 2025



________________________________________________

*) Esai ini saya tulis untuk seleksi Beasiswa Unggulan 2025


Comments

Popular posts from this blog

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

Kreativitas Dalam Dunia Penipuan: Pengalaman Pahit Awal Melamar Pekerjaan Melalui Job Fair

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

[RESENSI] NEGERI KABUT KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (GRASINDO, 2016)

[RESENSI] NOVEL: HUJAN BULAN JUNI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO (GPU, 2015)

[Cerpen] Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini? (Majalah Pusat, Edisi 30/2025)

[Catatan] Hiroshima, Sastra, dan Harapan yang Tumbuh di Antara Keduanya