[Catatan] Menjadi Manusia Utuh di Tengah Teknologi yang Kian Riuh
Hai, perkenalkan, saya Ubaidil F. atau lebih akrab disapa Ade Ubaidil. Lahir dan besar di kampung kecil bernama Cibeber, kota Cilegon, provinsi Banten. Anak bungsu dari empat bersaudara. Ayah saya seorang guru agama, ibu saya ibu rumah tangga yang kini berjualan kecil-kecilan di depan rumah. Kami bukan keluarga berada, tapi kami dibesarkan dalam nilai bahwa pendidikan bisa membawa kehidupan yang lebih baik. Saya adalah satu-satunya anak yang menyelesaikan pendidikan S1, dan kini sedang menempuh S2 Magister Sastra dengan jurusan Scriptwriting & Copywriting di Universitas Kristen Petra, Surabaya.
Dulu, saat saya diterima kuliah, saya sempat merasa ragu. Apakah saya akan bisa menyelesaikannya? Apakah ada gunanya? Tapi setiap kali melihat kesungguhan bapak dan ibu dalam memberi dukungan, saya tahu saya harus melanjutkan. Saya belajar tak hanya untuk diri saya, tapi untuk mereka yang percaya bahwa pendidikan adalah jembatan yang tidak boleh putus.
Perjalanan
saya di dunia literasi bermula pada tahun 2012. Saya belajar secara otodidak, mengikuti lomba lokal dan nasional,
menelan banyak kekalahan sampai menang di satu dua lomba, hingga buku
pertama saya terbit di tahun
2013. Hingga akhir 2024, dua belas buku telah saya terbitkan, sebagian besar bertema sosial,
pendidikan, dan relasi antar manusia. Buku-buku ini bukan hanya dibaca, tapi
juga digunakan sebagai bahan skripsi dan tesis oleh mahasiswa dari berbagai
kampus. Salah satu
buku bahkan akan difilmkan melalui kerja sama dengan salah satu perusahaan besar di Banten. Namun, bagi saya, esensinya
bukan di sana. Saya
selalu mengingat kembali niat awal saya memutuskan menulis. Saya ingin menghadirkan bacaan dan kisah
yang menyentuh hati banyak orang.
Di tahun 2014 pula saya
bergabung dengan komunitas seni dan literasi
Rumah Dunia. Di sana saya bertemu orang-orang yang percaya bahwa menulis bisa
menjadi jalan hidup. Kami belajar menulis, berbagi bacaan, dan bermimpi
bersama. Meskipun banyak dari mereka akhirnya memilih jalan lain, saya tetap
melanjutkan jalan terjal ini sebagai penulis lepas—atau yang lebih saya senangi disebut sebagai pencerita.
Dari
komunitas itu, saya menjadi relawan dan turut membangun media digital sastra
bernama Kurungbuka.com
pada tahun 2018.
Saya menjadi Pemimpin Redaksi pertamanya hingga hari ini. Kami membuka ruang bagi siapa
pun penulis dari seluruh Indonesia untuk mengirimkan karya, baik fiksi maupun nonfiksi. Karya yang lolos kurasi
akan diterbitkan dan diberikan honorarium kecil. Ini semua kami lakukan secara swadaya.
Dari relawan, untuk penulis. Lambat laun, Kurungbuka tumbuh. Kini kami memiliki pegawai dan
satu dua sponsor kecil. Meski bertahan di media sastra bukan hal mudah, kami
terus berusaha merawat
semangatnya: memberikan ruang bagi yang belajar menulis, terutama dari daerah
yang jarang mendapat panggung nasional.
Kami memanfaatkan media sosial sebaik mungkin. Setiap karya yang terbit
di website, kami sebarkan semua informasinya di media sosial. Semuanya terasa
tumbuh secara organik. Banyak konten kreator yang menyadari keberadaan media
kami, lalu mereka turut menyebarkan informasinya. Surat elektronik kami
seketika dipenuhi kiriman cerpen, puisi, dan berbagai tulisan dari anak-anak
muda dari berbagai pelosok daerah yang konon mendapatkan informasinya dari
media sosial seperti TikTok dan Instagram. Kami menyambut baik, artinya banyak
anak muda yang gemar menulis dan membutuhkan ruang untuk menyalurkan hobinya. Saya tahu, itulah alasan mengapa
kami harus bertahan. Media itu bukan hanya tempat menulis, tapi rumah untuk
suara-suara kecil yang selama ini tak terdengar.
Tahun
2018, saya juga mendirikan komunitas film pendek bernama RSM Production. Kami
merekam cerita-cerita lokal, kisah inspiratif warga desa, dan menghadirkannya
dalam format film pendek, saya mengajak anak muda kampung
berkarya bersama. Lalu awal 2025, saya bersama seorang teman membentuk komunitas baca Gala Buku. Setiap
minggu, kami membaca buku bersama
lalu mendiskusikannya secara terbuka. Tujuannya sederhana: menciptakan
ruang aman untuk berpikir, bertanya, dan berdebat secara sehat. Dalam
pertemuan-pertemuan itu, saya melihat perubahan kecil yang nyata. Anak-anak
muda yang tadinya malu-malu, kini berani menyampaikan gagasannya. Mereka mulai terbiasa berbeda pendapat
tanpa merasa perlu menang. Saya percaya, di sanalah karakter mulai tumbuh, bukan dari doktrin tapi dari
proses mengalami dan menyadari bersama. Bagi
saya, semua ini adalah bagian dari pembangunan karakter—proses membentuk masyarakat
yang sadar, reflektif, dan mampu memahami dunia secara utuh.
Namun
dunia hari ini berbeda. Teknologi berkembang luar biasa cepat. Semua bisa
diakses dalam sekejap. Kita bisa membaca dari layar, berdiskusi dari jarak
jauh, bahkan belajar dari mana saja. Tapi, teknologi yang memudahkan juga
membawa tantangan: karakter manusia perlahan tergeser. Saya menyaksikan sendiri
bagaimana generasi muda kini menjadi lebih cepat emosi, terbiasa dengan
informasi palsu, dan terjebak dalam perang opini di media sosial. Teknologi bukanlah penyebab langsung
kerusakan karakter, tapi ia bisa menjadi pemicunya jika tak dikendalikan. Kita
seperti kehilangan kedalaman berpikir. Banyak yang gagap menghadapi derasnya
arus digital, lalu terjerumus dalam judi online, pinjaman online ilegal, berita hoaks, dan budaya saling serang.
Kita sibuk terkoneksi, tapi kehilangan keterhubungan yang sejati. Di sinilah saya melihat pentingnya menjaga
dan mengingatkan satu sama lain agar
kita tetap menjadi manusia utuh di tengah teknologi yang riuh. Bagi saya,
kuncinya ada pada karakter. Dan literasi adalah jalan masuknya.
Saya
percaya bahwa literasi bisa menjadi pembentuk karakter. Lewat membaca, seseorang
belajar menunda emosi, mencerna sudut pandang lain, dan menyusun argumen. Lewat
menulis, seseorang belajar bertanggung jawab atas pikirannya. Lewat diskusi,
seseorang belajar untuk tidak selalu merasa paling benar. Maka ketika teknologi
memudahkan akses, literasilah yang menjaga arah. Pendidikan karakter tidak lagi
cukup diajarkan lewat nasihat, ia harus dibiasakan lewat proses berpikir dan
bertindak setiap hari. Literasi bukan
hanya kemampuan membaca dan menulis, tapi juga kemampuan memahami, menyaring,
dan menanggapi dengan bijak. Lewat literasi, kita belajar menunda reaksi,
membuka diri pada perspektif lain, serta bertanggung jawab atas setiap pikiran
yang kita sebarkan. Inilah yang saya ajarkan dalam setiap pelatihan menulis,
dari SD hingga SMA. Bukan sekadar teknik, tapi kebiasaan berpikir kritis dan
menyikapi perbedaan dengan kepala dingin.
Tahun 2022 lalu, saya diundang oleh
Perpustakaan Nasional RI untuk mendampingi Gol A Gong, Duta Baca Indonesia
memberi pelatihan menulis bagi siswa SMA-sederajat di Kabupaten Rote Ndao, Nusa
Tenggara Timur. Selama satu bulan, bekerja sama dengan teman-teman Media
Pendidikan Cakrawala kami berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa kemampuan menulis bisa membawa saya
terbang jauh ke pulau-pulau yang ingin saya kunjungi sewaktu kecil dulu.
Di salah satu kelas yang saya ajar, ada
seorang anak yang begitu antusias belajar menulis cerpen. Saya meminta semua
siswa membacakan ceritanya, lalu tibalah ke seorang anak perempuan ini. Ia
menulis cerita tentang keluarga dan cita-citanya. Menjelang akhir cerita, ia
tiba-tiba menangis. Ketika cerita selesai dibacakan, kami di satu ruangan kelas
itu tertegun, karena ceritanya begitu bagus dan tulus sampai tak terasa saya
pun menitikkan air mata, disusul siswa-siswa lainnya. Mereka bertepuk tangan
lalu merangkul si pemilik cerita. Dari sana saya sadar, pendidikan
karakter tidak melulu soal teori atau nilai raport. Kadang, ia tumbuh dari
keberanian anak kecil menuliskan apa yang ia rasakan dengan jujur. Karena
yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati orang lain yang membacanya.
Saya
percaya, karakter adalah kompas moral yang membuat teknologi tetap manusiawi.
Tanpanya, kita akan tersesat dalam kecepatan dan kemudahan. Maka lewat Rumah
Baca Garuda, Gala Buku, RSM Production, dan Kurungbuka.com, saya ingin menjaga nilai-nilai itu tetap hidup.
Karena cerita—dalam bentuk buku, film, atau diskusi—adalah cara kita belajar
menjadi manusia. Cara kita pulang.
Keputusan
saya untuk melanjutkan S2 bukanlah hal yang mudah. Saya lulus S1 tahun 2018, dan baru enam tahun kemudian, saya berani mengambil
keputusan besar untuk melanjutkan studi. Ada banyak pertimbangan. Salah satunya
adalah kondisi keluarga. Ayah saya sudah pensiun, dan ibu saya membantu ekonomi
keluarga dengan berjualan di warung kecil kami. Mereka mendukung, tetapi
kemampuan finansial kami terbatas. Saya harus mencari biaya sendiri. Saya
menabung dari pekerjaan menulis dan proyek-proyek kecil. Ada hari-hari ketika
saya hampir menyerah. Saya bertanya-tanya apakah semua ini sepadan. Tapi setiap
kali saya kembali mengajar, kembali membuka buku bersama teman-teman dan siswa yang saya ajar, semangat saya kembali menguat. Ada
kebahagiaan yang tak bisa dibayar uang: melihat mata mereka berbinar saat
menemukan satu kalimat yang mengubah pandangannya tentang dunia. Saya semakin sadar bahwa pendidikan
ini penting—bukan hanya untuk saya, tapi untuk banyak orang yang akan saya
sentuh lewat karya.
Saat
ini saya tengah menyusun tesis tentang peristiwa letusan Gunung Krakatau tahun 1883 dan pemberontakan Geger Cilegon tahun 1888—dua peristiwa besar yang
mengubah tanah kelahiran saya. Saya ingin menuliskannya dalam bentuk novel dan
skenario film. Ini adalah bentuk cinta saya kepada kampung halaman. Bagi saya, ini adalah bentuk kontribusi
paling nyata: menjadikan sejarah sebagai cermin masa kini. Saya percaya bahwa
karakter bangsa bisa dibentuk lewat cerita-cerita yang menggugah, menyadarkan, dan memberi arah lewat karakter-karakter yang dihadirkan. Sebuah cara untuk berkata: “Sejarah kita
penting. Cerita kita layak dikenang.”
Banyak
orang tidak tahu bahwa pemberontakan Geger Cilegon adalah salah satu jejak
penting perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial. Saya ingin membangkitkan
ingatan itu, agar generasi muda tahu bahwa sejarah bukan hanya tentang masa
lalu, tapi tentang siapa kita hari ini. Dan teknologi bisa menjadi jembatan
paling efektif untuk menyampaikannya—asal digunakan dengan niat yang benar.
Namun,
proses riset dan penulisan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi
saya tinggal dan kuliah di luar kota. Saya sering bertanya dalam hati, apakah
saya bisa membawa keluarga saya ke Surabaya saat wisuda nanti? Apakah saya bisa
menyelesaikan studi ini tanpa harus membebani orang tua? Di tengah kecemasan
itu, saya mendapat informasi tentang Beasiswa Unggulan ini. Bagi saya, ini
bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Ini adalah harapan. Sebuah kesempatan
untuk terus melangkah tanpa harus menoleh ke belakang dengan keraguan.
Saya
memiliki mimpi yang besar. Saya ingin menjadi bagian dari industri kreatif
Indonesia sebagai penulis skenario profesional. Saya ingin membuat film panjang
yang menyentuh, yang membangun kesadaran, yang memperbaiki cara kita memahami
diri sendiri dan orang lain. Saya ingin terus hadir di kampung saya, mengajar,
mengajak anak-anak muda untuk membaca, menulis, dan membuat karya. Saya ingin
Rumah Baca Garuda terus hidup. Saya ingin Gala Buku dan RSM Production tetap
menjadi ruang belajar yang bermakna. Tentu saja mimpi ini tidak bisa saya wujudkan seorang diri.
Memang benar, teknologi bisa
mempercepat segalanya, tapi
karakterlah yang menjaga kita agar tidak kehilangan arah. Dan di zaman serba
cepat ini, saya percaya bahwa kita butuh lebih banyak orang yang mau
melambat—untuk berpikir, merasa, dan membangun sesuatu yang berarti.
Dengan beasiswa ini, saya tidak hanya ingin menyelesaikan pendidikan saya. Saya ingin melanjutkan perjuangan panjang untuk menyemai karakter lewat literasi. Karena saya percaya, ketika teknologi berlari, manusia harus tetap menggenggam kendalinya. Dan untuk itu, karakter adalah kompasnya agar kita tetap menjadi manusia yang utuh.
Cilegon, 23 Juli 2025
________________________________________________
*) Esai ini saya tulis untuk seleksi Beasiswa Unggulan 2025
Comments
Post a Comment