[Self-Depression] Semua Tentang Waktu

Foto diambil saat akan pulang setelah 6 bulan ngekos di BSD, Tangerang.

Dulu waktu kecil saya ingin sekali cepat-cepat dewasa. Rasanya menyenangkan membayangkan hidup tanpa larangan. Bisa pergi sendiri, bisa membeli apa yang saya mau, bisa menentukan hidup sendiri tanpa harus meminta izin kepada siapa pun. Waktu itu saya pikir menjadi dewasa adalah bentuk paling utuh dari kebebasan. Saya tidak tahu bahwa setelah dewasa justru manusia menjadi semakin terikat pada banyak hal yang tidak pernah ia pilih sendiri.

Ternyata untuk melakukan apa pun perlu uang. Dan untuk mendapatkan uang orang harus bekerja. Untuk bisa bekerja orang harus berebut tempat dengan banyak manusia lain yang sama-sama ingin hidup. Saya baru sadar setelah dewasa, sebagian besar hidup manusia ternyata hanya tentang bertahan. Tentang bangun pagi, memaksa tubuh tetap berjalan meski lelah, lalu menukar waktu dengan sesuatu yang disebut penghasilan agar hidup bisa terus bergerak.

Kadang saya berpikir, siapa sebenarnya orang pertama yang menemukan konsep uang? Dan kenapa seluruh hidup manusia setelah itu terasa berubah? Seolah-olah semua hubungan akhirnya punya keterkaitan dengan waktu dan tenaga. Orang bekerja agar punya uang. Lalu uang digunakan agar suatu hari kita bisa membeli waktu. Waktu untuk pulang lebih cepat. Waktu untuk duduk lebih lama bersama keluarga. Waktu untuk bertemu teman. Waktu untuk mencintai hidup tanpa terburu-buru. Kita meluangkan waktu untuk bekerja dan mencari uang, setelah mendapatkan uang kita ingin mengambil kembali waktu yang pernah kita korbankan. Paradoks sekali hidup ini. Mungkin karena itulah saya sangat sensitif soal waktu.

Belakangan saya sering memikirkan sesuatu yang terlihat sepele, tapi entah kenapa mengganggu saya cukup lama: kenapa orang susah sekali bilang “tidak”, tapi mudah sekali membatalkan?

Saya tidak sedang membicarakan satu orang saja. Ada beberapa orang dalam hidup saya yang seperti itu. Mereka yang membuat janji sendiri, menentukan harinya sendiri, terdengar begitu yakin bisa datang, lalu ketika hari itu tiba semuanya berubah begitu saja. Diundur. Ditunda. Kadang tanpa kabar yang jelas. Kadang bahkan hilang begitu saja sampai akhirnya saya mengerti sendiri bahwa pertemuan itu memang tidak pernah benar-benar dianggap penting baginya.

Yang paling aneh, mereka bisa saja tiba-tiba muncul di depan rumah saya di waktu lain tanpa perencanaan apa pun. Seolah waktu saya selalu tersedia. Seolah hidup saya bisa berhenti kapan saja hanya karena mereka ingin bertemu. Dan saya selalu mencoba memahami itu.

Saya selalu berusaha melihat sesuatu dari banyak sudut pandang karena saya tahu hidup orang lain tidak pernah benar-benar mudah. Mungkin mereka sibuk. Mungkin ada masalah. Mungkin ada keadaan yang berubah mendadak. Saya mencoba memaklumi banyak hal sebelum menyalahkan siapa pun. Tapi lama-lama saya lelah juga meyakinkan diri sendiri terus-menerus bahwa semua itu wajar.

Karena semakin dipikirkan, yang membuat saya kecewa sebenarnya bukan soal pertemuannya batal atau tidak jadi. Saya tidak pernah mempermasalahkan orang tidak bisa bertemu saya. Sungguh. Saya tidak pernah merasa semua orang harus meluangkan waktunya untuk saya. Yang mengganggu adalah bagaimana mudahnya seseorang membuat janji tanpa benar-benar memikirkan waktu orang lain. Mungkin karena saya sendiri tidak terbiasa melakukan itu.

Kalau saya memang belum yakin bisa datang, saya akan bilang belum bisa. Saya lebih memilih dianggap "sombong" daripada memberi kepastian palsu yang ujung-ujungnya saya ingkari sendiri. Sebab saya tahu rasanya menunggu. Saya tahu rasanya mengosongkan hari untuk seseorang. Saya tahu rasanya menolak agenda lain karena merasa sudah punya janji yang harus dijaga. Dan saya tahu rasanya ketika semua itu ternyata dianggap biasa saja oleh orang lain. Kadang dari hal-hal kecil seperti itu saya jadi merasa: mungkin saya memang tidak sepenting itu dalam hidup mereka, sehingga mereka bisa dengan mudah menyepelekannya tanpa pertimbangan apa pun. Karena kalau seseorang benar-benar menganggap kita penting, bukankah ia akan lebih hati-hati menjaga waktu yang sudah dijanjikan?

Entahlah.

Mungkin ini memang bagian dari menjadi dewasa. Semakin bertambah umur, kita semakin sering menyadari bahwa tidak semua hubungan memiliki kadar kesungguhan yang sama. Ada orang yang hadir hanya ketika sempat. Ada yang datang hanya ketika sedang ingin. Ada juga yang memperlakukan keberadaan kita seperti ruang tunggu: tidak selalu dibutuhkan, tapi ingin tetap tersedia ketika mereka perlu. Dan lucunya, manusia sering tidak sadar bahwa yang sedang mereka ambil dari orang lain bukan cuma waktu satu atau dua jam. Mereka mengambil perhatian. Mengambil kesiapan. Mengambil energi mental seseorang yang sejak awal sudah menyediakan ruang untuk mereka. Karena setiap janji sebenarnya bukan cuma soal tanggal dan jam. Ada hidup orang lain yang ikut disusun di dalamnya.

Makanya saya selalu percaya bahwa orang besar adalah orang yang menghargai waktu. Sebab pada akhirnya hidup manusia memang hanya tentang waktu. Kita lahir dengan waktu yang terus berkurang setiap hari, lalu menghabiskan hidup dengan cara-cara yang aneh untuk mempertahankan sisa waktu itu. Kita bekerja mati-matian demi masa depan, padahal diam-diam yang sebenarnya kita cari hanyalah kesempatan untuk hidup lebih tenang bersama orang-orang yang kita sayangi. Dan ironisnya, di tengah dunia yang semakin sibuk ini, justru menghargai waktu orang lain menjadi sesuatu yang langka.

Semalam saya teringat satu kutipan dari James Hollis saat mendengar podcast Andrew Huberman. Tiga kalimat pendek yang entah kenapa terus terngiang di kepala saya: Shut up. Suit up. Show up.”

Awalnya terdengar sederhana. Bahkan terdengar seperti motivasi klise yang biasa berseliweran di media sosial. Tapi semakin dipikirkan, semakin terasa menampar.

Shut up. Diam. Bukan berarti kita tidak boleh sedih atau kecewa, tapi hidup memang tidak selalu memberi ruang untuk terus mengeluh. Di luar sana ada banyak orang yang memikul hidup jauh lebih berat tanpa sempat menceritakan semuanya kepada siapa pun; tidak bisa makan hari ini, ada orang yang anaknya terbunuh, ada orang yang tidak memiliki rumah. Berhentilah merengek. Dan kadang saya sadar, sebagian luka memang tidak membutuhkan penjelasan panjang. Ia hanya perlu diterima sebagai bagian dari hidup yang harus dilalui.

Suit upBersiap. Benahi dirimu. Karena dunia tidak peduli apakah hari ini kita sedang kecewa, patah hati, kehilangan semangat, atau merasa tidak dianggap. Hidup tetap berjalan. Tagihan tetap datang. Pekerjaan tetap menunggu. Dan kita tetap harus bangun pagi sambil membawa kepala yang kadang bahkan tidak baik-baik saja.

Show up. Tunjukkan. Bukan pamer. Tetap menjalani hidup meski berkali-kali kecewa pada manusia. Tetap memberikan dan melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tetap menjadi orang yang berusaha menghargai waktu orang lain meski waktu kita sendiri sering disepelekan. Tetap menjadi diri sendiri meski dunia pelan-pelan mengajarkan bahwa ketulusan kadang tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama.

Mungkin memang begitu rasanya menjadi dewasa. Kita mulai memahami bahwa tidak semua orang akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Dan itu menyakitkan bukan karena kita berharap diperlakukan istimewa, tetapi karena kita sadar: ternyata menjaga perasaan dan waktu orang lain tidak otomatis membuat orang melakukan hal yang sama kepada kita.

Cilegon, 13 Mei 2026

Comments

Popular posts from this blog

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] Saat Manusia Berteman dengan Alien: Jantung Sebenarnya Film "Project Hail Mary"

[Ulasan Serial] Luka, Makan, Cinta: Ketika Luka Meracik Rasa Menjadi Cinta

[RESENSI] NEGERI KABUT KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (GRASINDO, 2016)

[CATATAN] Sekilas Tentang Rumah Baca Garuda

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni

[Ulasan Film] Na Willa: Slice of Life, Magis, dan Catatan Kecil untuk Film Anak-Anak