[Catatan] Tanggapan Hilmi Faiq, Redaktur Sastra Kompas atas Kumcer "Perangkap Pikiran Beni Kahar" Karya Ade Ubaidil

  

Buku karya Ade Ubaidil ini berisi banyak cerpen menarik. Salah satunya tentu saja Perangkap Pikiran Beni Kahar yang kemudian dia jadikan judul buku kumpulan cerpen ini. Tapi tulisan saya ini akan mengupas tiga cerpen lain yakni, Perempuan Tua di Jembatan Sungai ÅŒta, Pertanda, dan Tidak Ada Gereja di Kota Ini.

Ketiga cerpen tersebut menawarkan ragam pengalaman membaca yang kuat secara emosional, relevan secara tematik, dan solid dari segi struktur. Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri, namun tetap memegang prinsip-prinsip dasar penulisan cerpen yang baik di era sekarang: cerita yang kuat, karakter yang hidup, dan keberanian mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan kontemporer.

Cerpen Perempuan Tua di Jembatan Sungai ÅŒta mengisahkan tentang Tatsuo dan adiknya, Misae, dalam latar waktu menjelang peristiwa bom Hiroshima. Awalnya, cerpen ini seperti dongeng realistis tentang kasih sayang kakak-adik dan hubungan manusia dengan binatang (seekor panda bernama Appa). Namun kisah ini kemudian menyelinap menuju ranah sejarah dan trauma, saat suara ledakan besar menghancurkan ketenangan. Endingnya menampilkan seorang perempuan tua yang setiap hari datang ke jembatan dengan harapan melihat keajaiban yang pernah ia alami di masa kecil—resonansi emosional yang kuat sekali, mengingatkan pada teori Edgar Allan Poe tentang unity of effect, di mana seluruh unsur cerita diarahkan pada satu efek emosional yang dalam. 

Sementara struktur naratifnya mengikuti alur klasik: perkenalan, konflik, dan sebuah resolusi yang melankolis. Tokoh-tokohnya pun terasa nyata dan menyentuh—Tatsuo digambarkan sebagai remaja yang sedang tumbuh dalam konflik batin dan eksternal, sementara Appa, si panda, menjadi metafora sekaligus karakter hidup yang sarat makna.

Cerpen Pertanda menghadirkan suasana yang lebih hening, reflektif, dan dalam banyak hal, subtil. Tokoh utamanya adalah Agus, remaja yang harus mengurus kakaknya yang sakit parah akibat emfisema. Hubungan keduanya begitu kuat dan emosional, tetapi tidak ditunjukkan lewat pernyataan eksplisit—melainkan lewat ingatan Agus, tindakan-tindakannya, dan tentu saja, perasaan sunyi yang menyelimuti keseluruhan cerita. 

Endingnya terbuka, dengan simbol-simbol kematian (keranda dalam mimpi, serangga sekarat), tanpa pernah secara langsung menyebutkan apakah sang kakak meninggal atau tidak. Ini mengingatkan pada pendekatan Anton Chekhov yang lebih menekankan kesan dan realisme daripada penyelesaian konflik secara gamblang. Cerita ini juga memperlihatkan kuatnya penggunaan efek naratif: semua bagian cerita tampak mendukung emosi utama, yaitu kehilangan yang mendekat dan ketakberdayaan menghadapi nasib.

Sementara itu, Tidak Ada Gereja di Kota Ini berdiri sebagai cerpen yang paling kompleks dan politis di antara ketiganya. Tokoh utamanya, Cecilia, adalah seorang perempuan pekerja bar, ibu tunggal, dan penyintas kekerasan yang harus berjuang demi menghidupi anaknya, Dante. Cerita ini mengalir di antara masa lalu dan masa kini, menggambarkan bagaimana ia beralih dari pekerjaan ke pekerjaan, menghadapi pengusiran dari rumah suami, hingga tiba di Kota C yang tak menyediakan ruang ibadah bagi umat Kristen. Narasi ini begitu kuat dalam membangun konflik struktural—antara minoritas dan mayoritas, perempuan dan kekuasaan sosial, tubuh dan moralitas. 

Penggambaran adegan demo penolakan gereja secara berulang menghadirkan ironi yang dalam, terutama ketika tokoh Imam—pria yang sebelumnya tidur dengannya—muncul sebagai bagian dari ormas yang menolak keberadaan gereja. Cerita ini sangat kontekstual dan relevan, mengangkat isu-isu seperti intoleransi agama, patriarki, dan stigma sosial. Karakter Cecilia ditulis dengan kedalaman psikologis yang kuat—ia rapuh namun terus bertahan. Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini juga paling beragam, mencakup dialog lokal, istilah agama, dan narasi personal yang menguatkan keotentikan suasana.

Dari ketiga cerita ini, tampak jelas bahwa penulis memiliki pemahaman mendalam mengenai struktur cerpen dan karakterisasi. Tidak ada tokoh yang terasa datar. Masing-masing membawa konflik batin dan sosial yang terasa nyata dan dekat dengan pembaca masa kini. Baik itu trauma perang, kehilangan anggota keluarga, maupun tekanan hidup sebagai minoritas, semua dibungkus dalam gaya bahasa yang tidak berlebihan, bahkan cenderung subtil. Gaya yang seperti ini memungkinkan pembaca memberi makna sendiri, sesuai dengan pandangan Roland Barthes bahwa makna sebuah teks tidak tunggal, melainkan terbuka untuk berbagai interpretasi.

Dari segi pembukaan cerita pun, semua cerpen dimulai dengan cara yang cukup menarik. Perempuan Tua di Jembatan Sungai ÅŒta menggunakan suasana damai dan penuh nostalgia; Pertanda menghadirkan kesibukan rumah sakit yang secara perlahan membentuk atmosfer sedih; sedangkan Tidak Ada Gereja di Kota Ini langsung mempertemukan pembaca dengan sisi gelap pekerjaan malam Cecilia. Pembuka-pembuka ini efektif dalam menarik perhatian pembaca modern yang cenderung mudah kehilangan minat.

Secara keseluruhan, ketiga cerpen ini tidak hanya berhasil mengikuti prinsip-prinsip penulisan cerpen yang baik di era sekarang, tetapi juga berhasil menyentuh wilayah-wilayah yang penting secara sosial dan emosional. Mereka bisa dibaca dalam sekali duduk, seperti yang disarankan Poe, namun resonansinya menetap jauh setelah cerita selesai.

Makna simbolik

Ketiga cerpen sangat kaya akan simbol yang bisa ditafsirkan lebih dari makna harfiahnya. Dalam Perempuan Tua di Jembatan Sungai ÅŒta, tokoh panda bernama Appa bukan sekadar hewan peliharaan. Ia melambangkan keajaiban, harapan, dan kekuatan yang tersembunyi dalam kasih sayang, bahkan di tengah perang. Kemunculannya dari sungai yang bergolak mengisyaratkan lahirnya harapan dari kekacauan. Sungai itu sendiri menyimbolkan arus waktu dan sejarah, serta membawa pembaca dari kenangan menuju trauma kolektif. Jembatan menjadi simbol penghubung antara dua dunia: masa lalu dan masa kini, kehidupan dan kematian, bahkan realita dan magis.

Sementara dalam Pertanda, darah dan serangga menjadi simbol sentral. Darah yang harus ditransfusikan adalah lambang pengorbanan, hubungan darah antara saudara, dan kehidupan yang rapuh. Di akhir cerita, serangga-sekarat menyimbolkan kefanaan, waktu yang hampir habis, dan kehadiran kematian yang tak bisa dicegah. Di sini, mimpi tentang keranda dan kesunyian lorong rumah sakit membangun citra simbolik kematian secara perlahan namun pasti.

Berbeda dengan dua cerita sebelumnya, Tidak Ada Gereja di Kota Ini sarat dengan simbol-simbol sosial dan spiritual. Gereja menjadi simbol dari hak minoritas, ruang eksistensi yang ditolak keberadaannya. Ketika Cecilia mencari gereja, ia sebetulnya sedang mencari tempat pengakuan identitas dan ruang keselamatan. Kota yang menolak gereja menjadi simbol dari represi sosial dan struktural, sedangkan perjalanan mencari tempat ibadah adalah simbol dari pencarian makna dan pengampunan pribadi. Bahkan pekerjaan Cecilia sebagai pekerja malam adalah simbol dari bagaimana tubuh perempuan dijadikan komoditas dalam sistem ekonomi tertentu, dan Dante, anaknya, menjadi simbol dari harapan masa depan yang belum terkontaminasi masa lalu.

Feminis

Secara umum, semua cerpen menampilkan tokoh perempuan, tetapi Tidak Ada Gereja di Kota Ini adalah yang paling kuat dalam bingkai feminis. Cecilia adalah potret perempuan kelas bawah yang mengalami penindasan ganda: pertama sebagai perempuan dalam struktur patriarkal (dari suami yang meragukan anaknya, hingga sistem kerja yang mengeksploitasi tubuhnya), dan kedua sebagai minoritas agama. Tubuhnya adalah medan perang dari banyak kekuasaan—suami, pelanggan, negara, ormas—dan ia harus bertahan sambil tetap merawat anak. Namun alih-alih menyerah, ia justru digambarkan terus bergerak, mencari nafkah, melindungi Dante, dan berjuang untuk mempertahankan iman. Dalam tubuh yang luka, ia menyimpan keimanan dan cinta yang utuh. Ini adalah representasi perempuan tangguh yang berdaya meski tak memiliki kuasa formal.

Dalam Perempuan Tua di Jembatan Sungai ÅŒta, peran perempuan tidak terlalu menonjol dalam narasi awal, namun kemunculan “perempuan tua” di bagian akhir menjadi penting. Ia menyimbolkan memori dan trauma yang tidak pernah benar-benar selesai, serta menjadi penanda generasi yang terus membawa luka sejarah—perempuan sebagai penjaga ingatan, saksi bisu dari kehancuran dan harapan.

Sementara dalam Pertanda, figur ibu dan perawat tetap berperan dalam ranah domestik dan perawatan. Walaupun mereka tidak menjadi tokoh sentral, kehadiran mereka merepresentasikan peran perempuan dalam menjaga stabilitas emosi dan merawat dalam situasi krisis, sesuatu yang sering kali diabaikan dalam wacana dominan.

Postkolonial

Dari perspektif postkolonial, Perempuan Tua di Jembatan Sungai ÅŒta mengangkat tema sejarah Jepang dalam bayang-bayang bom atom, tetapi penulisnya berasal dari Indonesia, yang membuatnya menarik. Cerpen ini seolah mengajukan bentuk empati lintas bangsa terhadap korban perang yang sering dilupakan. Keajaiban panda dan cinta keluarga adalah resistensi terhadap kekerasan negara. Di sini, perang—sebagai hasil kekuasaan kolonial dan imperialis—menjadi latar yang menghancurkan kehidupan sipil dan menyisakan trauma intergenerasi. Fakta bahwa cerita ini berakhir dalam trauma yang tak sembuh menunjukkan bahwa warisan kolonial (dalam bentuk perang) tidak pernah benar-benar hilang.

Dalam Pertanda, kondisi rumah sakit umum dan penggunaan jaminan kesehatan adalah kritik terhadap sistem layanan publik yang terwariskan dari birokrasi kolonial, di mana akses terhadap kesehatan masih dipenuhi ketimpangan. Selain itu, ketergantungan pada figur seperti Mang Dikin dan perawat sebagai “pengganti negara” menegaskan bahwa struktur formal negara kerap gagal, dan rakyat harus bertahan dalam sistem yang timpang.

Namun Tidak Ada Gereja di Kota Ini yang paling sarat dengan ketegangan postkolonial. Kota industri yang hidup, tapi penuh represi terhadap minoritas, menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara pascakolonial masih bergulat dengan identitasnya. Agama, tubuh, dan ekonomi semua saling bersinggungan. Cecilia, seorang Kristen, bekerja di ruang yang dianggap amoral oleh masyarakat yang mayoritas Muslim, tetapi di saat bersamaan, ia juga tidak bisa mendapatkan ruang untuk beribadah. Gereja, simbol kolonial masa lalu (dalam konteks arsitektur maupun kehadirannya), kini dipolitisasi dan dijadikan musuh simbolik. Penolakan atas gereja adalah penolakan atas “yang lain” yang tidak sesuai dengan identitas dominan. Ironisnya, kota yang tak memiliki gereja tetap membutuhkan tempat hiburan malam untuk bertahan secara ekonomi—di situlah kontradiksi pascakolonial paling terasa.

Jika dikembangkan lebih lanjut, ketiga cerpen ini bisa dibaca sebagai satu “trilogi tematik” tentang kehilangan, trauma, dan perjuangan manusia di tengah dunia yang tidak adil. Mereka bukan hanya cerita pendek, tetapi juga catatan sosial, spiritual, dan politik yang berlapis. Masing-masing membuka ruang bagi pembaca untuk menafsirkan dan meresapi bukan hanya kisahnya, tapi juga suara-suara yang sering dibungkam oleh sejarah dan struktur kuasa.

Hilmi Faiq - penulis, jurnalis, dan redaktur sastra Kompas.

 



______________________________

*) Ulasan buku ini dijadikan pengantar pada acara "Panggung Sastra Rumah Dunia: Lelaki yang (tidak) Bercerita" pada Minggu (13/04/2025).

 

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] Saat Manusia Berteman dengan Alien: Jantung Sebenarnya Film "Project Hail Mary"

[RESENSI] NEGERI KABUT KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (GRASINDO, 2016)

REFRESHING OTAK KE PULAU EMPAT, KARANGANTU, SERANG-BANTEN

[Ulasan Serial] Luka, Makan, Cinta: Ketika Luka Meracik Rasa Menjadi Cinta

[ESAI] Posisi Pembaca, Penulis dan Buku Cetak di Era Digital

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni