[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni
“De, kisuk ming Rumah Dunia, ya. Bantoni suting film.” (De, besok ke Rumah Dunia, ya. Bantu-bantu syuting film).
Kurang lebih begitu ucapnya dalam bahasa daerah Jawa Banten atau kami lebih sering menyebutnya Jaseng (Jawa Serang). Sejak seminggu sebelumnya, di komunitas menulis kami, Rumah Dunia─yang didirikan salah satunya oleh Gol A Gong seorang sastrawan ternama dan Duta Baca Indonesia─sedang ramai sekali persiapan casting.
Kali ini, mereka akan membuat film berjudul Yuni dengan latar cerita di Serang, Banten dengan menggunakan dialog berbahasa Jaseng─kami (saya, Mang Qizink, Rambo Banten, Bagja Kudrata) diminta membantu sebagai Dialect Coach untuk para aktornya. Ternyata mereka sudah beberapa kali ke Rumah Dunia saat dulu minta ditemani untuk riset filmnya. Tentu saja kolaborasi ini akan menjadi stimulus yang produktif bagi semangat kreativitas relawan Rumah Dunia, termasuk saya.
Menariknya, Fourcolour Films yang kini berganti nama menjadi Forka Films memberikan kesempatan kepada talenta lokal. Mereka membuka audisi untuk pemain dan melibatkan kru lokal. Kawan-kawan relawan dari Rumah Dunia seperti Kang RG Kedung Kaban, Kang Toto ST. Radik (Mang Dodi), Teh Nazla (Nenek Yuni), almarhum Abdul Salam, dkk semua terlibat di depan dan layar kamera, baik sebagai kru maupun aktor pendamping dan figuran─termasuk saya yang terlibat jadi figuran.
Betapa bersyukurnya saya bisa terlibat langsung dengan mereka yang di kemudian hari film Yuni bisa tayang di puluhan negara dengan memboyong banyak sekali penghargaan, membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. Paling prestisius tentu saja ketika film Yuni menjadi wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di ajang Piala Oscar ke-94 tahun 2022 meskipun tidak tembus masuk sebagai shortlist 15 besar nominasi.
.png)
Singkat cerita, ketika saya berhasil menuliskannya, Mbak Dini dan Mas Ifa senang, apalagi saya diperkenankan untuk menghadirkan hal-hal yang tidak ada di film semisal Yuni kecil, alasan Yuni begitu adiksi dengan warna ungu, dan semacamnya. Kami pun zoom meeting dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Produser, dan Sutradara film Yuni. Saat itu PH Starvision bergabung juga sebagai Eksekutif Produser, awal perkenalan saya dengan Pak Chand Parwez Servia sampai akhirnya bertemu di project-project berikutnya.
Setelah itu, hanya hal-hal baik yang terjadi. Novel Yuni terbit di masa pandemi Covid-19 termasuk penayangan filmnya. Bersyukurnya sambutan penikmat film luar biasa. Filmnya keliling dari festival ke festival, dan novelnya tidak berhenti sebatas merchendise, tetapi turut dirayakan dari diskusi ke diskusi buku.
Saya berterima kasih banyak atas semua kesempatan yang diberikan oleh Forka Films. Satu per satu pintu kesempatan terbuka. Bahkan saya sampai mengambil keputusan beresiko untuk melanjutkan pendidikan S2 Magister Sastra Program Scriptwriting & Copywriting di Universitas Kristen Petra, Surabaya─yang sama sekali tidak linier dengan pendidikan saya sebelumnya.
Mewakili relawan di Komunitas Rumah Dunia dan seniman lokal yang terlibat dalam penggarapan film ini kami menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kami jadi tahu bagaimana film yang dibuat dengan tulus dari hati dan sungguh-sungguh akan menjadi karya yang tidak mudah dilupakan. Bahkan hingga hari ini, ketika saya menuliskan ini semua. Yuni bukan hanya film, bagi saya Yuni adalah panggilan untuk kita belajar mencintai sinema; dengan setulus-tulusnya, dengan sebaik-baiknya.
Tangerang, 18 September 2025
*) Catatan ini termaktub di buku proses kreatif "Yuni" film by Kamila Andini (Forka Films).


.jpeg)




.jpeg)

.jpeg)
Comments
Post a Comment