[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni



Kalau tak salah ingat, panggilan telepon itu masuk saat siang hari, ketika saya memutuskan untuk merebahkan diri sebentar di sofa lapuk di rumah orang tua saya. Saya tak segera menerima teleponnya karena saya tipe orang yang tidak begitu senang berbicara lewat telepon. Tetapi, kali ini lain. Sebuah panggilan istimewa dari Mang Qizink La Aziva, seorang jurnalis dan pendiri Komunitas Bahasa Jawa Serang. Saya tak bisa menolaknya karena biasanya kalau panggilan dari beliau pertanda ada hal penting yang tidak bisa disampaikan lewat pesan teks.

“De, kisuk ming Rumah Dunia, ya. Bantoni suting film.” (De, besok ke Rumah Dunia, ya. Bantu-bantu syuting film).

Kurang lebih begitu ucapnya dalam bahasa daerah Jawa Banten atau kami lebih sering menyebutnya Jaseng (Jawa Serang). Sejak seminggu sebelumnya, di komunitas menulis kami, Rumah Dunia─yang didirikan salah satunya oleh Gol A Gong seorang sastrawan ternama dan Duta Baca Indonesia─sedang ramai sekali persiapan casting. 

Mulanya saya mengira yang mengadakan hanyalah komunitas film sekitar Banten atau PH kecil yang saya tidak tahu karya filmnya. Jadi, saya tidak begitu penasaran. Termasuk ketika Mang Qizink mengabari hal tersebut, saya anggap biasa saja. Namun, dugaan itu keliru ketika saya dipertemukan langsung dengan nama besar seperti Mas Ifa Isfansyah dan Mbak Kamila Andini di Rumah Dunia. Rupanya saya pernah menonton film mereka sebelumnya.

Kali ini, mereka akan membuat film berjudul Yuni dengan latar cerita di Serang, Banten dengan menggunakan dialog berbahasa Jaseng─kami (saya, Mang Qizink, Rambo Banten, Bagja Kudrata) diminta membantu sebagai Dialect Coach untuk para aktornya. Ternyata mereka sudah beberapa kali ke Rumah Dunia saat dulu minta ditemani untuk riset filmnya. Tentu saja kolaborasi ini akan menjadi stimulus yang produktif bagi semangat kreativitas relawan Rumah Dunia, termasuk saya. 

Menariknya, Fourcolour Films yang kini berganti nama menjadi Forka Films memberikan kesempatan kepada talenta lokal. Mereka membuka audisi untuk pemain dan melibatkan kru lokal. Kawan-kawan relawan dari Rumah Dunia seperti Kang RG Kedung Kaban, Kang Toto ST. Radik (Mang Dodi), Teh Nazla (Nenek Yuni), almarhum Abdul Salam, dkk semua terlibat di depan dan layar kamera, baik sebagai kru maupun aktor pendamping dan figurantermasuk saya yang terlibat jadi figuran.

Betapa bersyukurnya saya bisa terlibat langsung dengan mereka yang di kemudian hari film Yuni bisa tayang di puluhan negara dengan memboyong banyak sekali penghargaan, membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. Paling prestisius tentu saja ketika film Yuni menjadi wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di ajang Piala Oscar ke-94 tahun 2022 meskipun tidak tembus masuk sebagai shortlist 15 besar nominasi.


Berkat film ini, saya dipertemukan dengan orang-orang yang saya kagumi di sinema. Yuni menjadi jawaban atas keraguan saya apakah “putus atau terus” untuk terjun ke industri perfilman. Efek yang ditimbulkan besar sekali di hidup saya. Usai syuting film, atas dorongan Mang Qizink saya menawarkan diri ke Mbak Dini untuk menovelisasi skenario film Yuni karena sanking bagusnya, sayang jika hanya selesai di layar, kami perlu Yuni abadi juga di dalam tulisan. Mendengar tawaran tersebut, Mbak Dini menantang saya untuk menuliskan bab pertamanya. 

Singkat cerita, ketika saya berhasil menuliskannya, Mbak Dini dan Mas Ifa senang, apalagi saya diperkenankan untuk menghadirkan hal-hal yang tidak ada di film semisal Yuni kecil, alasan Yuni begitu adiksi dengan warna ungu, dan semacamnya. Kami pun zoom meeting dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Produser, dan Sutradara film Yuni. Saat itu PH Starvision bergabung juga sebagai Eksekutif Produser, awal perkenalan saya dengan Pak Chand Parwez Servia sampai akhirnya bertemu di project-project berikutnya.

Setelah itu, hanya hal-hal baik yang terjadi. Novel Yuni terbit di masa pandemi Covid-19 termasuk penayangan filmnya. Bersyukurnya sambutan penikmat film luar biasa. Filmnya keliling dari festival ke festival, dan novelnya tidak berhenti sebatas merchendise, tetapi turut dirayakan dari diskusi ke diskusi buku. 

Saya berterima kasih banyak atas semua kesempatan yang diberikan oleh Forka Films. Satu per satu pintu kesempatan terbuka. Bahkan saya sampai mengambil keputusan beresiko untuk melanjutkan pendidikan S2 Magister Sastra Program Scriptwriting & Copywriting di Universitas Kristen Petra, Surabaya─yang sama sekali tidak linier dengan pendidikan saya sebelumnya. 

Mewakili relawan di Komunitas Rumah Dunia dan seniman lokal yang terlibat dalam penggarapan film ini kami menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kami jadi tahu bagaimana film yang dibuat dengan tulus dari hati dan sungguh-sungguh akan menjadi karya yang tidak mudah dilupakan. Bahkan hingga hari ini, ketika saya menuliskan ini semua. Yuni bukan hanya film, bagi saya Yuni adalah panggilan untuk kita belajar mencintai sinema; dengan setulus-tulusnya, dengan sebaik-baiknya.



Tangerang, 18 September 2025


*) Catatan ini termaktub di buku proses kreatif "Yuni" film by Kamila Andini (Forka Films).




Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Cerpen] Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini? (Majalah Pusat, Edisi 30/2025)

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

[RESENSI] NEGERI KABUT KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (GRASINDO, 2016)

[Ulasan Film] Kokuho: Kabuki, Ambisi, dan Perjuangan Hidup yang Mengorbankan Segalanya

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Ulasan Film] Gadis Kretek: Kisah Cinta Menyesakkan Dada dan Sejarah Kelam yang Menyengsarakan