[Ulasan Film] Belajar Mendengar Suara Alam Lewat Film "Hoppers"

 


Skor: 8,5/10

Seperti kebanyakan film dari Pixar Animation Studios dan Walt Disney Pictures, Hoppers langsung dibuka dengan cara yang sangat memikat. Beberapa menit pertamanya terasa hangat sekaligus menarik perhatian, membuat kita cepat terhubung dengan karakter utamanya, Mabel Tanaka (Piper Curda). Mabel digambarkan sebagai anak yang punya kedekatan emosional dengan neneknya—sebuah relasi kecil yang justru menjadi fondasi penting bagi keseluruhan cerita.

Perkenalan karakter Mabel sejak kecil hingga beranjak dewasa pada usia 19 tahun terasa mulus. Transisinya tidak terasa dipaksakan; justru perlahan kita diajak memahami bagaimana kecintaannya terhadap hewan dan alam tumbuh dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh sang nenek. Ada beberapa kalimat yang sering diulang sepanjang film, tetapi yang paling membekas adalah nasihat sederhana dari neneknya: “It's hard to be mad when you feel like you're part of something big.” Kalimat itu terasa seperti benang merah emosional yang terus mengikuti perjalanan Mabel.


Selain itu, ada satu gagasan utama (controlling idea) lain yang terasa seperti inti pesan film ini, sebuah ajakan untuk memahami alam dengan cara yang lebih rendah hati. Pesannya disampaikan lewat dialog sederhana: “You just need to be quiet, observe and, listen.”

Entah mengapa, setiap kali kalimat ini muncul, ada rasa haru yang pelan-pelan menyusup. Bukan dialog yang meledak-ledak, tapi justru kesederhanaannya membuatnya terasa menyentuh. Di beberapa momen, saya sampai merasakan mata mulai berkaca-kaca.

Secara cerita, konflik utama muncul ketika Mabel berhadapan dengan Mayor Jerry Generazzo (Jon Hamm), wali kota yang ingin mengeksploitasi wilayah habitat hewan demi proyek pembangunan. Dengan bantuan teknologi yang diciptakan oleh Dr. Samantha “Sam” Fairfax (Kathy Najimy), Mabel memindahkan kesadarannya ke tubuh robot berang-berang agar bisa berkomunikasi dengan para hewan di hutan. Dari situ ia bertemu dengan karakter-karakter seperti King George (Bobby Moynihan), pemimpin para berang-berang, serta Titus (Dave Franco) yang menjadi bagian dari kelompok hewan yang ikut terseret dalam konflik ini.


Yang menarik sekaligus sedikit terasa janggal adalah bagaimana Mabel beberapa kali berhadapan langsung dengan sang wali kota. Ia digambarkan berani menyampaikan keberatannya secara head to head kepada Mayor Jerry Generazzo. Secara dramatis, momen itu memang kuat—seorang anak muda yang berdiri melawan kekuasaan demi alam. Tetapi secara logika cerita, adegan seperti ini terasa agak kurang meyakinkan. Rasanya sedikit sulit dipercaya seorang pemuda bisa begitu saja berbicara langsung dengan wali kota tanpa harus melewati pengawal, staf, atau sistem birokrasi di sekitarnya.

Meski begitu, secara emosional adegan tersebut tetap bekerja karena memperlihatkan tekad Mabel yang tidak mau diam melihat habitat para hewan dihancurkan. Ada satu hal lain yang terasa sedikit tanggung dalam film ini. Di satu sisi, Hoppers mencoba berdiri di atas gagasan ilmiah khas science fiction—tentang kesadaran manusia yang dipindahkan ke tubuh robot berang-berang agar bisa berkomunikasi dengan hewan. Tetapi di sisi lain, beberapa adegan terasa terlalu surealis, seperti sekelompok burung yang bisa mengangkat hiu berukuran sangat besar, dan adegan komikal lainnya.

Memang, ini adalah film anak-anak, dan tentu saja imajinasi adalah bagian dari kesenangannya. Namun bagi saya, momen seperti itu sedikit mengganggu konsistensi story world yang sejak awal sudah dibangun cukup meyakinkan. Akibatnya, ada beberapa bagian yang membuat penonton (baca: saya) agak sulit sepenuhnya mempercayai logika dunia ceritanya. Meski begitu, kekurangan ini sebenarnya cukup minor dibanding keseluruhan pengalaman menontonnya.


Pada akhirnya, Hoppers tetap menjadi film keluarga yang hangat. Ia tidak hanya menghibur, tetapi juga menyelipkan pesan penting tentang relasi manusia dengan alam. Film ini mengingatkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan bumi—sesuatu yang perlu dipahami sejak dini oleh generasi muda, anak-anak, maupun adik-adik kita.

Cilegon, 09 Maret 2026

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

[Cerpen] Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini? (Majalah Pusat, Edisi 30/2025)

[RESENSI] NEGERI KABUT KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (GRASINDO, 2016)

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[RESENSI] NOVEL: HUJAN BULAN JUNI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO (GPU, 2015)

[Ulasan Film] Kokuho: Kabuki, Ambisi, dan Perjuangan Hidup yang Mengorbankan Segalanya