[Ulasan Film] Tunggu Aku Sukses Nanti: Mengurai Luka Kelu(h)arga
Skor: 8,5/10
Film ini bercerita tentang Arga (Ardit Erwandha), seorang pemuda yang sudah
tiga tahun menganggur. Menjelang
usia dewasa, ia memiliki satu ambisi: ingin membuktikan kepada keluarga besarnya bahwa ia juga bisa sukses
seperti saudara-saudaranya. Dalam situasi seperti itu, Arga berada dalam posisi
yang oleh film ini diplesetkan sebagai “burger generation”, sebuah permainan
kata dari istilah Sandwich Generation. Namun
secara konsep, istilah ini sebenarnya tidak sepenuhnya tepat.
Dalam kajian sosial, sandwich generation biasanya merujuk pada
individu usia produktif yang terjepit di antara dua tanggung jawab sekaligus:
merawat orang tua yang menua dan membesarkan anak-anaknya sendiri. Konsep ini
banyak dibahas dalam studi keluarga modern, misalnya oleh Dorothy A. Miller
yang memperkenalkan istilah tersebut pada 1980-an untuk menggambarkan generasi
yang berada “di tengah” dua beban keluarga.
Sementara Arga belum menikah. Ia hanya menanggung orang tua dan adiknya.
Artinya, ia memang memikul tanggung jawab keluarga, tetapi tidak berada dalam
posisi “terjepit dua generasi” seperti definisi klasik sandwich generation.
Justru kondisi Arga lebih dekat dengan fenomena anak dewasa yang menjadi
penopang ekonomi keluarga—sebuah realitas yang cukup umum di banyak masyarakat
Asia, termasuk Indonesia. Terlepas
dari permainan istilah itu, konflik emosional Arga terasa sangat nyata.
Di tangan sutradara Naya Anindita, cerita keluarga seperti ini terasa hangat
sekaligus menohok. Naya tampaknya cukup piawai menangkap momen-momen yang
sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia, terutama momen
Lebaran—waktu yang seharusnya penuh kebahagiaan, tetapi sering berubah menjadi
arena perbandingan hidup: pekerjaan, gaji, rumah, bahkan pasangan.
Sementara itu, Fita Anggriani sebagai Fani kembali tampil sebagai scene
stealer, mengingatkan saya pada perannya di film Home Sweet Loan. Karakternya
cukup kuat dan karismatik. Rasanya menarik jika ke depan Fita mendapatkan lebih
banyak film untuk benar-benar mengeksplorasi kemampuan aktingnya.
Nuansa komikal juga hadir lewat Reza Chandika sebagai Wicak, sahabat Arga
yang selalu memberi dukungan dengan cara yang santai dan lucu. Ditambah lagi
kehadiran Yono Bakrie sebagai pedagang mie ayam yang sok berbahasa
Inggris—benturan karakter yang cukup efektif memancing tawa.
Yang menarik, para aktor senior dalam film ini tampaknya sengaja memberi ruang bagi Ardit untuk menjadi pusat cerita. Ensemble cast-nya terasa bekerja dalam ritme yang sama: memberi sorotan kepada karakter Arga tanpa membuat performa aktor lain terasa tenggelam.
Salah satu karakter yang paling menyebalkan—dalam arti yang berhasil—adalah
Tante Yuli yang diperankan Sarah Sechan. Ia tampil sangat meyakinkan sebagai
sosok tante yang gemar membandingkan hidup orang lain. Karakternya bahkan
terasa “tembus layar”. Penonton dibuat berada dalam posisi yang serba salah:
antara kesal, sedih, sekaligus merasa bersalah karena mungkin pernah berada di
posisi yang sama.
Film ini juga menghadirkan beberapa cameo mengejutkan. Salah satunya adalah
kemunculan Vidi Aldiano. Adegan yang mempertemukannya dengan Chandika terasa
intens sekaligus menyenangkan. Saya bahkan sempat membayangkan bagaimana
serunya suasana syuting saat dua sahabat itu bertemu di depan kamera. Namun momen tersebut terasa lebih
emosional karena beberapa hari sebelum gala premiere, Vidi Aldiano dikabarkan
meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker. Kejadian ini mengingatkan saya
pada peristiwa lain: ketika Gusti Irwan Wibowo juga wafat beberapa hari sebelum
film yang melibatkan dirinya dirilis. Ada
perasaan aneh ketika menyaksikan karya seseorang yang sudah tidak lagi berada
di dunia ini. Campuran antara haru, kehilangan, sekaligus rasa syukur karena
karya mereka tetap hidup.
Dari sisi cerita, naskah karya Evelyn Afnilia kembali menunjukkan
kecenderungannya menulis drama keluarga yang hangat dan reflektif.
Kolaborasinya dengan Naya Anindita—yang sebelumnya juga terlibat dalam film Komang—sekali lagi menghasilkan
cerita yang mengajak penonton melihat ke dalam diri sendiri. Melalui karakter Arga, film ini seolah
mengajukan satu pertanyaan sederhana tetapi penting: sebelum mengejar sesuatu, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri
tentang niat awalnya?
Jangan-jangan sejak awal kita sudah salah arah. Kesuksesan yang kita kejar ternyata bukan tentang kehidupan yang
lebih baik, melainkan sekadar cara membalas rasa rendah diri atau memenuhi ego
yang tak pernah benar-benar puas.
Meski demikian, film ini masih memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah bagaimana film menunjukkan kesuksesan sepupu-sepupu Arga yang diperankan oleh Afgan dan aktor lainnya. Informasi itu sebagian besar disampaikan lewat dialog, padahal akan lebih kuat jika diperlihatkan melalui visual atau adegan yang lebih konkret. Misalnya, sekilas gambaran perjalanan atau pengalaman mereka di luar negeri. Hal-hal seperti itu bisa membantu penonton lebih memahami tekanan yang dirasakan Arga, dan menaruh empati yang lebih besar untuknya.
Pada akhirnya, Tunggu Aku Sukses Nanti mengajak saya—dan mungkin
juga banyak penonton lain—untuk berkaca. Film ini mengingatkan bahwa kesuksesan
sering kali bukan hanya soal pencapaian, tetapi juga soal bagaimana kita
memaknai perjalanan hidup sendiri
dan menghargai prosesnya. Karena
pada akhirnya, setiap orang memiliki versinya masing-masing tentang makna sukses. Termasuk proses yang
harus dilalui untuk mencapainya.
Dan seperti yang diam-diam disiratkan film ini: selalu ada (h)arga yang harus dibayar demi memenuhi kebutuhan kelu(h)arga.
Cilegon, 18 Maret 2026
.jpg)



Comments
Post a Comment