Na Willa: Slice of Life, Magis, dan Catatan Kecil untuk Film Anak-Anak
Di
tangan Ryan Adriandhy, film ini terasa seperti surat cinta untuk masa kecil
yang jujur, polos, dan kadang lebih dalam dari yang kita kira. Diadaptasi dari
novel karya Reda Gaudiamo, film ini mengikuti keseharian Na Willa (Luisa
Adreena), anak 6 tahun yang hidup di Surabaya tahun 1960-an. Dunia Willa bukan
tentang petualangan besar, tapi gang kecil, teman-teman, dan rasa penasaran
yang nggak ada habisnya.
Dan
jujur, banyak momen kecil yang bikin kita senyum sendiri karena terasa dekat.
Fase awal belajar baca, misalnya—semua tulisan di jalan dieja satu-satu. Dunia
seperti papan besar yang harus diterjemahkan. Atau hal-hal yang serba pertama
di usia segitu: pertama sekolah, pertama punya teman baru, sampai hal sederhana
seperti memberi nama anak ayam dengan penuh keseriusan: “ayam kuning kecil
sekali.” Polos, tapi justru itu yang bikin terkesan.
Yang
menarik, film ini sepenuhnya dituturkan dari sudut pandang anak-anak. Cara
berpikirnya, logikanya, sampai pertanyaan-pertanyaan “aneh” yang sebenarnya
jujur banget. Salah satu yang paling mengena: ketika Willa penasaran soal
mengaji dan salat. Lucu, iya. Tapi di balik itu, ada upaya mengenalkan
perbedaan sejak dini dengan cara yang ringan, tanpa menggurui.
Keluarga
Willa jadi jangkar emosional yang kuat. Irma Rihi sebagai Mak Marie dan Junior
Liem sebagai Pak Paul menghadirkan dinamika keluarga yang hangat sekaligus
tegas. Ada satu momen penting saat Willa pertama kali sekolah dan bertemu Bu
Tini (Putri Ayudya) yang galak. Ketika tahu anaknya berada di situasi yang
tidak tepat, Mak Marie tidak ragu mengambil tindakan. Dengan hati yang jelas
terluka, ia mengajak Willa berkeliling mencari sekolah lain.
Di
titik ini, filmnya seperti mengingatkan: menjadi orang tua kadang berarti harus
tegas, bahkan ketika itu tidak mudah. Pendidikan bukan sekadar “menyekolahkan”,
tapi memastikan anak tumbuh di tempat yang benar. Sikap Mak Marie terasa
sederhana, tapi dampaknya besar.
Multikulturalisme
di keluarga ini juga hadir tanpa dibuat ribut: Mak dari NTT, Pak berdarah
Tionghoa. Perbedaan jadi sesuatu yang hidup sehari-hari, bukan isu yang harus
diperdebatkan. Film ini diam-diam bicara tentang identitas, keberagaman, bahkan
spiritualitas tapi tetap lewat mata anak kecil.
Secara
visual, film ini benar-benar memanjakan mata. Warna-warnanya hidup, hangat,
seperti dunia yang selalu siap menyambut rasa ingin tahu. Ada momen-momen magis
yang bikin kita merasa: dunia anak-anak memang sesederhana itu untuk terasa
indah.
Permainan
simbol juga masih terasa. Metafora ulat menjadi kupu-kupu hadir sebagai gambaran
perubahan dalam diri Willa dari dunia yang awalnya nyaman, lalu perlahan
mengenal hal-hal baru yang tidak selalu mudah. Soal akting, ini salah satu
kekuatan terbesar filmnya. Luisa Adreena memikul beban besar sebagai pusat
cerita, dan dia berhasil. Kita percaya pada dunia Willa karena dia. Bahkan saat
menangis, emosinya terasa tulus, nggak dibuat-buat. Teman-temannya juga hidup.
Freya Mikhayla sebagai Farida, Azamy Syauqi sebagai Dul, dan Arsenio Rafisqy
sebagai Bud, semuanya punya warna sendiri dan terasa natural.
Tapi
film ini bukan tanpa catatan. Secara konflik, memang tidak besar. Buat yang
terbiasa dengan ritme cepat atau film penuh aksi, Na Willa bisa terasa lambat.
Ini benar-benar slice of life, mengalir saja seperti hari-hari biasa. Tambahan
lain, kehadiran Ira Wibowo sebagai Nyonya Chang terasa kurang pas. Karakter
noni Belanda yang ia mainkan cenderung terasa artifisial, seperti tidak
sepenuhnya menyatu dengan dunia film yang lain justru terasa sangat organik.
Tapi di luar itu, Na Willa tetap film yang penting. Ia mengingatkan bahwa masa kecil tidak selalu tentang petualangan besar. Kadang, justru tentang hal-hal kecil: mengeja papan nama di jalan, memberi nama anak ayam, atau rasa gugup di hari pertama sekolah. Hal-hal yang dulu kita anggap biasa, tapi sekarang terasa berharga. Dan mungkin, dari situlah kita belajar lagi, pelan-pelan, jadi manusia.
Cilegon, 24 Maret 2026

Comments
Post a Comment