[Ulasan Film] Saat Manusia Berteman dengan Alien: Jantung Sebenarnya Film "Project Hail Mary"
Skor: 7,5/10
Film ini mengisahkan Ryland Grace (Ryan Gosling), satu-satunya penyintas dalam misi luar angkasa putus asa untuk menyelamatkan Bumi dari kepunahan akibat mikroorganisme “astrophage” yang meredupkan Matahari. Terbangun dalam kondisi amnesia, Grace perlahan harus merangkai ulang ingatan, misinya, dan pada akhirnya, alasan kenapa ia ada di sana. Film ini diadaptasi dari novel karya Andy Weir dan disutradarai oleh duo Phil Lord dan Christopher Miller.
Yang menarik, film dengan konsep sains berat ini justru tidak tampil dingin dan rumit. Ia dibungkus dengan humor yang terasa ringan, bahkan kadang absurd, terutama lewat dinamika persahabatan antara Grace dan makhluk asing bernama Rocky. Di titik ini, film seperti bergeser dari sekadar cerita penyelamatan umat manusia menjadi cerita tentang dua makhluk yang sama-sama asing, tapi saling memahami.
Namun perjalanan menuju titik itu tidak sepenuhnya mulus. Babak awal terasa cukup berat, bukan karena kompleksitas sainsnya saja, tapi juga karena alur yang melompat-lompat dan emosi yang belum punya pijakan. Motivasi Grace di awal terasa kabur, sehingga sulit untuk benar-benar terhubung dengannya. Ada jarak yang membuat penonton seperti mengamati dari luar, bukan ikut masuk ke dalam konflik.
Baru ketika film memasuki babak kedua, ritmenya mulai terasa lebih bersahabat. Interaksi Grace dan Rocky jadi semacam jangkar emosional. Di situlah film akhirnya menemukan denyutnya yang bukan dari teori atau misi besar, tetapi dari nilai bersahabatan yang dibangun dengan cara yang terkesan tidak masuk akal.
Kalau dibandingkan dengan film sejenis seperti Gravity atau Interstellar, Project Hail Mary terasa berada di jalur yang berbeda. Ia tidak terlalu menekan sisi emosional secara intens, juga tidak sepenuhnya mengandalkan keagungan visual. Visualnya memang solid, tapi tidak sampai menciptakan rasa takjub yang benar-benar membekas, apalagi jika dibandingkan dengan standar film sci-fi besar sebelumnya.
Dari sisi akting, Ryan Gosling tampil meyakinkan. Ia berhasil menghidupkan Grace sebagai karakter yang canggung, cerdas, sekaligus rapuh. Tapi lagi-lagi, kedekatan emosional itu datang terlambat. Empati baru benar-benar tumbuh menjelang akhir, saat penonton sudah hampir sampai di garis finish.
Mungkin di sinilah letak tarik-ulurnya: film ini punya banyak hal yang ingin disampaikan—sains, survival, humor, persahabatan—tapi tidak semuanya mendapat ruang yang seimbang sejak awal. Akibatnya, babak pertama terasa padat tapi kosong secara rasa—bahkan tanpa sadar saya sampai terlelap beberapa kali.
Tetap saja, ada sesuatu yang tersisa setelah film ini selesai. Bukan tentang bagaimana dunia diselamatkan, tapi tentang bagaimana dua makhluk dari dunia yang berbeda bisa saling mengandalkan. Dan mungkin, itu yang pada akhirnya bisa dibawa pulang, walaupun sejujurnya saya kurang puas dengan film ini.
Cilegon, 15 April 2026

Comments
Post a Comment