[Ulasan Serial] Luka, Makan, Cinta: Ketika Luka Meracik Rasa Menjadi Cinta

Image by Netflix.com

Skor: 8/10.

Netflix kembali merilis original series Indonesia tahun ini lewat Luka, Makan, Cinta (Made with Love), yang mengisahkan seorang koki muda ambisius bernama Luka Amanda (Mawar Eva de Jongh), anak pemilik restoran ternama di Bali bernama Umah Rasa. Luka berusaha mendapatkan kepercayaan dari ibunya, Chef Sari (Sha Ine Febriyanti), agar diangkat menjadi head chef demi meraih Craft Star. Namun harapan itu pupus ketika posisi tersebut justru diberikan kepada Dennis (Deva Mahenra), seorang koki yang lebih berpengalaman.

Sepanjang cerita, Luka menjadi sosok yang terus bergulat dengan ambisi dan keraguannya sendiri. Ia mencurahkan kegelisahannya tentang karier kepada sahabatnya, Gita (Asmara Abigail), dan kekasihnya, Valdo (Adipati Dolken). Konflik semakin berkembang dengan hadirnya Pak Hasnan, pemilik restoran pesaing Chateau de Sanur, yang tampak ingin menjegal kesuksesan Umah Rasa.


Barangkali masih bisa dihitung dengan jari jumlah film atau serial Indonesia yang menjadikan dunia kuliner sebagai base story. Karena itu, Luka, Makan, Cinta terasa segar di tengah banyaknya serial Indonesia yang berkutat pada kisah asmara, drama keluarga, atau aksi. Serial ini tampak dikerjakan dengan sangat profesional. Cara makanan dipresentasikan secara visual begitu menggoda hingga berkali-kali memancing rasa lapar saat menontonnya. Menu-menu yang ditampilkan pun beragam, dan para pemain terlihat meyakinkan hingga terasa seperti benar-benar chef sungguhan.


Jalinan antarkarakternya juga terbangun dengan baik dan saling menopang jalannya cerita. Mawar Eva de Jongh menampilkan salah satu performa terbaiknya di sini. Dari beberapa film yang pernah saya tonton, kali ini ia berhasil memerankan Luka dengan sangat memukau. Begitu pula Sha Ine Febriyanti dan Deva Mahenra yang menambah bumbu polemik cerita, membuat rasa penasaran terus terjaga hingga delapan episode berdurasi sekitar 30 menit ini terasa ingin segera dituntaskan.


Meski berlatar di Bali, penulis dan sutradaranya tidak terjebak untuk “memaksa” para aktor menggunakan logat Bali. Keputusan ini justru terasa tepat, karena penggunaan dialek yang tidak dikuasai sering kali malah mengganggu. Karena itu, para tokohnya terasa lebih masuk akal sebagai pendatang yang membangun restoran di Bali dengan mempekerjakan chef lokal yang memang ahli di bidangnya.

Permainan gambar, warna, dan tekstur dalam serial ini benar-benar memanjakan mata. Sinematografinya terasa menyatu dengan alur cerita dan tema kuliner yang diangkat. Pemilihan tone warna yang digunakan menenangkan, sekaligus serasi dengan suasana dan karakter masing-masing tokohnya. Serial ini memang bukan tipe cerita yang meledak-ledak dengan banyak plot twist, melainkan lebih seperti slice of life tentang kehidupan seorang chef yang memiliki visi jelas terhadap kariernya. Dialog antarpemain pun terasa natural, seolah penonton ikut duduk dan berbincang di dalam restorannya.


Serial yang disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja ini rasanya pantas mendapatkan pujian. Teddy tampaknya justru lebih leluasa ketika menggarap format serial dibanding film panjang, yang kadang membuat beberapa gagasannya terasa belum tuntas. Dalam serial, ia memiliki ruang lebih luas untuk mengeksplorasi karakter, latar belakang, dan ritme cerita agar tidak tergesa-gesa. Dan melalui Luka, Makan, Cinta, ia cukup berhasil menunjukkan kepiawaiannya sebagai pencerita.

Cilegon, 27 April 2026

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[RESENSI] NEGERI KABUT KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (GRASINDO, 2016)

[Ulasan Film] Na Willa: Slice of Life, Magis, dan Catatan Kecil untuk Film Anak-Anak

REFRESHING OTAK KE PULAU EMPAT, KARANGANTU, SERANG-BANTEN

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni

[Ulasan Film] Clickbait: Jangan Mudah Percaya pada Orang Lain, Terlebih Orang Terdekatmu!

[Ulasan Film] Hamnet: Duka yang Tumbuh Menjadi Panggung Keabadian