Posts

Showing posts with the label Esai

[Ulasan] Tokoh Manusiawi yang Hidup di “Dunia Dalam Kurung” karya Erni Febriyani

Image
  Ulasan ini disampaikan dalam acara bedah buku "Dunia Dalam Kurung" Buku Dunia Dalam Kurung karya Erni Febriyani membuka dirinya dengan sebuah pertanyaan:  S iapa saja orang-orang yang selama ini hidup di dalam tanda kurung kehidupan? Mereka ada, tetapi sering terabaikan. Mereka hadir, tetapi suaranya kalah oleh hiruk-pikuk dunia. Gagasan itu sebenarnya sudah ditegaskan sejak halaman prakata, ketika Erni menyebut bahwa di dalam kurunglah berbagai luka, rahasia, dan suara-suara kecil bersembunyi. Tema tersebut kemudian menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh cerpen dalam buku ini. Cerpen pembuka, Nada-Nada yang Tak Diminta , menjadi pintu masuk yang tepat untuk memahami cara Erni memandang dunia. Kisah dua sahabat yang menghabiskan malam di alun-alun berubah menjadi ruang refleksi tentang para pengamen, pedagang kaki lima, tukang parkir, dan orang-orang yang bekerja di pinggir kehidupan kota. Cerita ini tidak berusaha meledak-ledak. Tidak ada konflik besar ataupun ...

[Catatan] Perjumpaan Awal dengan Gol A Gong dan Hal-Hal Terkait Kepenulisan

Image
Berfoto di Museum Literasi Gol A Gong Suatu siang di sudut kampus, sebuah bazar buku sedang ramai didatangi mahasiswa. Di antara lalu-lalang orang dan tumpukan buku yang berjejer di atas meja panjang, seorang mahasiswa kurus beralmamater kuning berhenti di salah satu stan. Matanya menyapu harga-harga buku yang tampak tidak bersahabat dengan sisa uang jajannya hari itu. Namun ada satu hal yang lebih besar daripada isi dompetnya: gengsi. Rasanya terlalu malu jika pulang tanpa membawa satu buku pun. Ia mulai mencari buku paling murah. Tangannya lalu berhenti pada sebuah buku bersampul kuning dengan judul nyentrik: "Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak" karya Gol A Gong (yang tahun ini akan dicetak ulang dengan sampul baru). Nama yang, saat itu, masih sangat asing baginya. Ia membeli buku itu bukan karena mengenal penulisnya, melainkan semata karena harganya yang paling masuk akal untuk ukuran kantong mahasiswa. Tapi jalan takdir tidak ada yang tahu ke mana ia akan berkelok...

[Catatan] Menjawab Pertanyaan tentang Film Yuni dan Proses Novelisasinya

Image
Kamila Andini (kiri) dan Ade Ubaidil (kanan). Dokumentasi oleh Gramedia Pustaka Utama *) Catatan untuk mahasiswa, peneliti, dan pewawancara Belakangan ini saya, Ade Ubaidil, cukup kewalahan karena sering mendapatkan pertanyaan terkait film dan novel Yuni untuk kebutuhan skripsi, tesis, jurnalistik sekolah, hingga diskusi publik. Karena banyak pertanyaan yang sebenarnya mirip atau berulang, saya mencoba merapikan beberapa jawaban di sini agar bisa menjadi rujukan awal untuk teman-teman yang ingin melakukan wawancara. Saya juga merasa perlu meluruskan satu hal penting sejak awal karena sering terjadi kesalahpahaman. Film Yuni  (2021) lahir terlebih dahulu dalam bentuk skenario yang ditulis oleh Kamila Andini dan Prima Rusdi, lalu divisualisasikan menjadi film. Setelah proses syuting berjalan, saya baru terlibat dalam pengalihwahanaan dari skenario film menjadi novel. Jadi posisi saya di karya ini adalah sebagai penulis novelisasi atau adaptasi novel Yuni , bukan penulis cerita awal ...

[Catatan] Menjadi Manusia Utuh di Tengah Teknologi yang Kian Riuh

Image
Pada suatu pagi di tahun 2014, saya mendorong rak kayu kecil ke depan teras rumah. Rak itu dibuat oleh bapak dan temannya dari kayu bekas, dilengkapi roda agar mudah dipindahkan. Di atasnya, berjajar koleksi buku-buku pribadi saya. Maksud hati ingin meminjamkan buku, sayangnya t ak satu pun orang mampir. Mungkin mereka mengira buku-buku itu dijual. Ada rasa kecewa, tentu saja. Walaupun kemudian s aya mencoba memahami bahwa tidak semua orang tumbuh dengan kebiasaan membaca.  Bahkan di rumah saya sendiri, buku bukan prioritas utama. Karena hal itulah j ustru saya merasa semakin terpanggil untuk membuka ruang yang belum ada. Saya ingin membuktikan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, berhak mendapat kesempatan untuk mengenal dunia lewat buku. S aya tidak menyerah. Saya mencetak selebaran bertuliskan: “Baca Buku Gratis di Rumah Baca Garuda ” dengan daftar jenis buku-bukunya. B ersama keponakan saya, kami tempelkan pengumuman itu di tiap gang di kampung . Keesokan harinya, ...

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatis dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

Image
  image by imdb.com “Jika aku  harus hidup sepuluh ribu kali , ku harap aku akan selalu memilihmu. ”   Ada satu jenis perasaan yang tak mudah diberi nama. Persis seperti perasaan rindu, tetapi kata itu belum bisa merangkumnya secara keseluruhan. Saya pernah menemukan kata saudade dalam bahasa Portugis, kata ini yang paling mendekati maksud dari perasaan yang dimaksud di awal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ini adalah sebuah kata yang menggambarkan perasaan kerinduan yang mendalam, sering kali bercampur dengan kesedihan, kehilangan, dan nostalgia, terutama terhadap sesuatu atau seseorang yang jauh atau tidak lagi ada. Saya merasakan perasaan yang kompleks dan sulit diterjemahkan secara langsung ke bahasa lain. Itulah rasa yang muncul usai saya  menonton film Sore: Istri dari Masa Depan karya Yandy Laurens. S ebelum bertransformasi dalam medium film, Sore: Istri dari Masa Depan pernah hadir dalam bentuk yang lebih ringan: sebuah web-series pendek di kan...