[Catatan] Menjawab Pertanyaan tentang Film Yuni dan Proses Novelisasinya
![]() |
| Kamila Andini (kiri) dan Ade Ubaidil (kanan). Dokumentasi oleh Gramedia Pustaka Utama |
*) Catatan untuk mahasiswa, peneliti, dan pewawancara
Belakangan ini saya, Ade Ubaidil, cukup kewalahan karena sering mendapatkan pertanyaan terkait film dan novel Yuni untuk kebutuhan skripsi, tesis, jurnalistik sekolah, hingga diskusi publik. Karena banyak pertanyaan yang sebenarnya mirip atau berulang, saya mencoba merapikan beberapa jawaban di sini agar bisa menjadi rujukan awal untuk teman-teman yang ingin melakukan wawancara.
Saya juga merasa perlu meluruskan satu hal penting sejak awal karena sering terjadi kesalahpahaman.
Film Yuni (2021) lahir terlebih dahulu dalam bentuk skenario yang ditulis oleh Kamila Andini dan Prima Rusdi, lalu divisualisasikan menjadi film. Setelah proses syuting berjalan, saya baru terlibat dalam pengalihwahanaan dari skenario film menjadi novel. Jadi posisi saya di karya ini adalah sebagai penulis novelisasi atau adaptasi novel Yuni, bukan penulis cerita awal yang kemudian difilmkan.
Banyak pertanyaan riset lapangan, proses penciptaan karakter, hingga keputusan artistik utama film sebenarnya lebih tepat dijawab langsung oleh Kamila Andini dan Prima Rusdi sebagai penulis skenario dan kreator utama filmnya. Karena itu, jika ada pertanyaan yang memang di luar keterlibatan saya, biasanya akan saya arahkan langsung kepada mereka agar tidak terjadi kekeliruan informasi.
Awal Keterlibatan Saya di Film Yuni
Pertanyaan yang sering muncul:
Bagaimana awal keterlibatan Anda di film Yuni?
Apa posisi Anda di film dan novel Yuni?
Apakah novel Yuni ditulis lebih dulu lalu difilmkan?
Bagaimana proses novelisasi Yuni terjadi?
Kalau tak salah ingat, awal keterlibatan saya bermula dari sebuah panggilan telepon dari Mang Qizink La Aziva, ketua Komunitas Bahasa Jawa Serang (BJS), ketika saya sedang berada di rumah orang tua saya. Saat itu komunitas kami di Rumah Dunia sedang ramai persiapan casting sebuah film. Awalnya saya mengira itu hanya produksi komunitas biasa, sampai akhirnya saya dipertemukan langsung dengan Mas Ifa Isfansyah dan Mbak Kamila Andini.
Mereka sedang mempersiapkan film Yuni dengan latar cerita di Banten dan menggunakan dialog berbahasa Jaseng atau Jawa Serang. Saya bersama beberapa relawan lain diminta membantu sebagai dialect coach untuk para pemeran agar bahasa dan gesturnya terasa lebih otentik.
Ternyata sebelumnya mereka sudah beberapa kali datang ke Rumah Dunia untuk melakukan riset. Dari sana saya mulai melihat keseriusan mereka dalam membangun dunia Yuni.
Setelah proses syuting berjalan, saya menawarkan diri kepada Mbak Dini untuk menovelisasi skenario filmnya karena menurut saya cerita Yuni terlalu sayang jika hanya hidup di layar dan tidak diabadikan juga dalam bentuk tulisan. Dari situlah proses novelisasi dimulai.
Dalam versi novel, saya diberi kebebasan untuk menghadirkan beberapa hal yang tidak muncul di film, misalnya tentang Yuni kecil, alasan kenapa ia begitu menyukai warna ungu, alasan ia ingin melanjutkan pendidikan, dan lapisan batin karakter lain yang tidak sempat dieksplorasi panjang di film. Karena itu, proses yang saya lakukan bukan mengubah novel menjadi film, melainkan mengubah bahasa visual film ke dalam bentuk teks dan narasi.
Tentang Riset dan Realitas Sosial di Film Yuni
Pertanyaan yang sering muncul:
Siapa yang melakukan riset lapangan untuk film Yuni?
Apakah karakter Yuni diangkat dari kisah nyata?
Seberapa dekat realitas di film dengan kondisi masyarakat Banten?
Apakah semua yang ditampilkan di film benar-benar terjadi di masyarakat?
Saya perlu menegaskan bahwa riset lapangan utama untuk film ini dilakukan oleh Kamila Andini, Prima Rusdi dan teman-teman di Forka Films sejak sekitar tahun 2017 tanpa melibatkan saya. Awalnya mereka melakukan riset di sekitar Cirebon dan lokasi syutingnya juga sempat direncanakan di sana, tetapi kemudian beralih ke Serang, Banten karena dianggap memiliki kemiripan secara sosial dan kultural dengan kebutuhan cerita.
Karena saya tidak terlibat dalam riset awal, saya tidak bisa menjawab secara detail mengenai sumber inspirasi utama karakter Yuni atau pengalaman spesifik yang melahirkan adegan tertentu. Saya hanya mengikuti apa yang sudah tertulis di skenario ketika mengalihwahanakannya menjadi novel.
Meski begitu, sebagai orang yang tinggal di Banten, saya memang melihat beberapa realitas sosial yang memiliki kemiripan dengan apa yang ditampilkan di film, terutama terkait tekanan terhadap perempuan untuk segera menikah dibanding melanjutkan pendidikan.
Namun, saya juga perlu mengatakan bahwa beberapa bagian di film memang dihiperbolis untuk kepentingan dramatik dan visual. Realitas di masyarakat tidak selalu sekeras atau setegas yang muncul di layar.
Di Cilegon, lingkungan tempat saya tinggal sendiri, perempuan bekerja, berpendidikan, dan memiliki kehidupan sosial yang cukup setara dengan laki-laki. Karena itu saya sering mengatakan bahwa realitas seperti di Yuni mungkin masih terjadi di beberapa wilayah tertentu, terutama daerah yang lebih konservatif atau tertinggal, tetapi tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh wilayah di Banten.
Tentang Pernikahan Dini dan Tekanan Sosial
Pertanyaan yang sering muncul:
Mengapa Yuni mendapatkan tekanan untuk menikah?
Apakah budaya menekan perempuan untuk cepat menikah masih terjadi?
Apakah perempuan di Banten masih mengalami tekanan sosial terkait pernikahan?
Bagaimana film menggambarkan posisi perempuan dalam menentukan masa depannya?
Salah satu bagian yang menurut saya cukup dekat dengan realitas sosial adalah tekanan terhadap perempuan untuk segera menikah. Generasi tua sering kali masih memiliki pandangan bahwa perempuan yang terlalu lama sendiri akan dianggap tidak laku. Tekanan itu kadang datang dari keluarga sendiri, tetangga, atau lingkungan sekitar yang terus bertanya kapan menikah. Sering kali perempuan akhirnya menikah bukan sepenuhnya karena kehendaknya sendiri, melainkan karena tekanan sosial yang terus menerus hadir.
Film Yuni mencoba memperlihatkan bagaimana perempuan sering tidak memiliki ruang penuh untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Bahkan dalam beberapa situasi, keputusan tentang masa depan perempuan lebih banyak dibicarakan oleh keluarga atau lingkungan sekitar dibanding dirinya sendiri.
Tetapi saya juga melihat perubahan besar beberapa tahun terakhir. Sekarang perempuan muda jauh lebih berani menyuarakan isi hati dan menentukan pilihannya sendiri.
Tentang Patriarki dan Pendidikan Perempuan
Pertanyaan yang sering muncul:
Bagaimana bentuk patriarki yang terlihat di film Yuni?
Bagaimana pandangan masyarakat terhadap pendidikan perempuan?
Apakah stereotip perempuan dalam film masih relevan dengan kondisi sekarang?
Apa pendapat Anda tentang anggapan perempuan tidak perlu sekolah tinggi?
Menurut saya, laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama dalam meraih pendidikan dan menentukan masa depannya. Saya pribadi kurang setuju dengan pandangan bahwa perempuan tidak perlu memiliki pendidikan tinggi karena pada akhirnya hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Pendidikan bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga tentang cara berpikir, memahami hidup, dan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Dalam film Yuni, perempuan sering direpresentasikan sebagai sosok yang harus patuh terhadap harapan sosial di sekitarnya, terutama soal pernikahan, kesopanan, dan masa depan hidupnya.
Ada anggapan bahwa perempuan akan “lengkap” jika sudah menikah, sementara pendidikan sering dianggap bukan prioritas utama. Namun film ini juga memperlihatkan bahwa perempuan sebenarnya memiliki mimpi, keinginan, dan suara yang ingin diperjuangkan.
Bentuk patriarki di film terlihat dari bagaimana perempuan sering tidak memiliki kuasa penuh atas keputusan hidupnya sendiri, terutama terkait pendidikan dan pernikahan. Yang menarik sekaligus menyedihkan, tekanan terhadap perempuan justru kadang datang dari sesama perempuan generasi tua yang masih memegang pandangan lama.
Tentang Seksualitas dan Tabu Sosial
Pertanyaan yang sering muncul:
Mengapa isu seksualitas terasa tabu di film Yuni?
Apakah perempuan di masyarakat masih dibatasi oleh standar moral tertentu?
Bagaimana film menggambarkan relasi perempuan dengan tubuh dan moralitas?
Hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas memang masih cukup tabu dibicarakan di sebagian masyarakat Banten. Mungkin karena Banten dikenal religius dan memiliki banyak pesantren, sejak kecil nama alat kelamin laki-laki dan perempuan sering diganti dengan istilah lain agar dianggap lebih sopan. Padahal menurut saya, hal seperti itu justru sering menimbulkan ambiguitas dan rasa penasaran dibanding menghadirkan pemahaman yang sehat.
Film Yuni mencoba memperlihatkan bagaimana perempuan sering dinilai dari standar moral tertentu yang berbeda dengan laki-laki. Akibatnya, perempuan merasa tubuh dan hidupnya terus diawasi oleh lingkungan sosial.
Tentang Bahasa Jaseng dan Identitas Banten
Pertanyaan yang sering muncul:
Mengapa film Yuni menggunakan bahasa Jaseng?
Seberapa penting dialek Jawa Serang dalam film?
Apa peran saya dalam penggunaan bahasa daerah di film Yuni?
Penggunaan bahasa Jawa Serang atau Jaseng di film merupakan keputusan kreatif Kamila Andini. Menurut beliau, bahasa adalah bagian penting dari situasi sosial dan kultural sebuah cerita. Bahasa daerah membuat karakter dan dunia film terasa lebih realistis dan autentik.
Saya sendiri membantu para pemeran dalam pengucapan dialek dan gestur agar terasa lebih meyakinkan ketika ditampilkan di layar. Bagi saya, bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas dan cara sebuah masyarakat memandang hidup.
Tentang Respons Masyarakat terhadap Yuni
Pertanyaan yang sering muncul:
Bagaimana respons masyarakat terhadap film dan novel Yuni?
Apakah ada penolakan terhadap film ini?
Apa tantangan ketika membahas sisi sensitif masyarakat sendiri?
Respons masyarakat terhadap film dan novel Yuni cukup beragam. Ada yang merasa dekat dengan ceritanya, ada yang setuju dengan isu yang diangkat, tetapi ada juga yang menolak bahkan memboikot sebelum benar-benar menonton filmnya secara utuh. Semua respons itu menurut saya wajar, valid, dan bisa dimaklumi kecuali yang belum menontonnya secara utuh. Artinya karya tersebut berhasil memancing diskusi dan reaksi publik.
Setiap daerah pasti memiliki sisi baik dan sisi sensitifnya masing-masing. Kadang kita tidak nyaman ketika kekurangan masyarakat sendiri dibicarakan di ruang publik. Padahal menurut saya, membicarakan masalah sosial bukan berarti membenci daerah sendiri, justru bisa menjadi bahan refleksi agar kita bisa belajar dan memperbaikinya.
Tentang Harapan dan Pesan untuk Anak Muda
Pertanyaan yang sering muncul:
Apa pesan saya untuk perempuan muda seperti Yuni?
Seberapa besar karya film dan literasi bisa mengubah masyarakat?
Apa harapan saya untuk generasi muda dan perkembangan literasi di Banten?
Saya percaya segala bentuk karya, baik film maupun literasi, tetap memiliki kemungkinan untuk mengubah cara pandang seseorang meskipun hasilnya tidak bisa kita kontrol sepenuhnya. Apalagi bagi masyarakat yang belum terbiasa membaca atau menonton film dengan isu sosial tertentu. Namun bagi saya, jika sebuah karya bisa menggerakkan satu atau dua orang saja untuk berpikir ulang, itu sudah lebih dari cukup.
Untuk anak-anak muda yang mungkin sedang menghadapi keterbatasan seperti Yuni, saya selalu percaya bahwa selama masih muda kita harus berani mencoba banyak hal baik yang memancing rasa penasaran kita, jangan ditunda. Kerjakan semuanya dengan sebaik mungkin dan penuh tanggung jawab.
Jangan sampai suatu hari kita menyesal karena tidak mencoba ketika sebenarnya kita masih punya kesempatan dan pilihan.
Penutup
Saya bersyukur bisa ikut “kecipratan” sambutan hangat terhadap film dan novel Yuni. Novel ini bahkan sudah beberapa kali dijadikan objek penelitian skripsi dan tesis sejak pertama kali terbit di tahun 2022, bersamaan dengan penayangan filmnya. Berkat novel ini juga saya diberi kesempatan untuk jalan-jalan ke India untuk menghadiri pemutaran film Yuni di International Film Festival of India (IFFI) ke-52 tahun 2021.
Kadang memang ada situasi lucu ketika pembahasan yang ditanyakan lebih banyak terkait film, sementara narasumbernya saya. Karena itu saya selalu berusaha meluruskan bagian mana yang menjadi wilayah saya dan mana yang lebih tepat dijawab langsung oleh penulis serta kreator filmnya.
Semoga catatan ini bisa membantu teman-teman mahasiswa, peneliti, atau pewawancara lain mendapatkan gambaran awal sebelum berdiskusi lebih jauh.
Terima kasih sudah membaca.
Cilegon, 18 Mei 2026

Comments
Post a Comment