[Ulasan Film] The Odyssey: Perjalanan Pulang yang Lebih Sulit daripada Menang Perang
![]() |
| Image by IMDb.com |
Skor: 8,5/10
Diangkat dari syair epik karya Homer, The Odyssey berkisah tentang perjalanan pulang Odysseus (Matt Damon) setelah memenangkan Perang Troya. Dialah sosok di balik siasat Kuda Troya yang mengakhiri perang selama sepuluh tahun. Namun kemenangan ternyata bukan akhir dari perjuangannya. Dalam perjalanan menuju Ithaka, ia harus berhadapan dengan para dewa, makhluk-makhluk mitologi, kutukan, dan godaan yang berkali-kali menguji kecerdikan sekaligus ambisinya.
Sebagai orang yang tidak terlalu akrab dengan mitologi Yunani, saya sempat dibuat kebingungan pada awal film. Tiba-tiba muncul Cyclops bermata satu, sosok penggembala domba yang sekilas mengingatkan saya pada Dajjal, hingga kemunculan Athena yang diperankan Zendaya. Rasanya seperti memasuki mimpi orang yang sedang demam, tetapi disusun dengan estetika visual yang begitu memikat. Imajinasi Homer memang terasa liar, dan Christopher Nolan berhasil menerjemahkannya menjadi pengalaman sinema yang megah.
Act pertama memang berjalan cukup lambat. Film baru benar-benar menemukan ritmenya ketika memasuki pertengahan cerita. Sejak itu petualangan Odysseus terasa semakin seru karena lapisan konfliknya mulai terbuka satu per satu. Adegan penyusupan melalui Kuda Troya hingga negosiasi-negosiasi yang dilakukan Odysseus memperlihatkan bahwa peperangan tidak selalu dimenangkan dengan pedang, melainkan melalui kecerdikan membaca situasi, memainkan psikologi lawan, dan mengambil keputusan di saat yang paling genting.
Akting para pemain menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Anne Hathaway tampil sangat meyakinkan sebagai Penelope. Penantian panjang yang ia jalani terasa begitu manusiawi sehingga saya justru lebih banyak bersimpati kepadanya daripada kepada Odysseus sendiri. Setelah semua yang ia lalui, rasanya Penelope layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Sementara itu, Zendaya sebenarnya tampil memikat sebagai Athena, tetapi saya merasa porsinya terlalu sedikit. Kehadirannya memiliki daya tarik yang kuat, sehingga akan jauh lebih menarik jika karakternya diberi ruang lebih besar atau bahkan sejak awal ia memerankan tokoh lain yang memiliki pengaruh lebih dominan terhadap jalannya cerita.
Film ini juga memperlihatkan bagaimana taktik perang, politik, dan seni bernegosiasi dapat hadir secara organik melalui tindakan para karakternya. Di balik petualangan melawan monster dan dewa-dewi, tersimpan pembahasan tentang ambisi, keserakahan, harga sebuah kemenangan, serta ego seorang pahlawan yang terus diuji sepanjang perjalanan pulang.
Secara teknis, film ini sangat memanjakan penonton. Sinematografinya indah, atmosfer setiap pulau terasa hidup, sementara desain suaranya benar-benar bekerja sebagai bagian dari cerita. Momen ketika para pelaut menutup telinga dari nyanyian Siren menjadi salah satu adegan favorit saya karena suara film ikut dibuat teredam sehingga penonton merasakan pengalaman yang sama dengan para karakter. Detail kecil seperti ini membuat The Odyssey terasa sebagai pengalaman sinema, bukan sekadar tontonan.
Meski berdurasi hampir tiga jam, act kedua dan ketiga berjalan sangat memuaskan hingga waktu terasa berlalu begitu cepat. Satu-satunya catatan saya, film ini akan jauh lebih mudah dinikmati jika penonton memiliki sedikit bekal tentang The Odyssey karya Homer dan mitologi Yunani.
Tanpa pengetahuan itu, ada beberapa bagian yang memang terasa menggantung dan membutuhkan penjelasan tambahan. Namun justru karena tidak berusaha menjelaskan semuanya secara gamblang, film ini memberi ruang bagi penonton untuk ikut menafsirkan simbol-simbol yang tersebar di sepanjang cerita.
Pada akhirnya, The Odyssey bukan film yang hanya mengandalkan cerita besar atau visual spektakuler. Film ini menawarkan pengalaman sinema yang utuh, mengajak penonton menikmati petualangan sekaligus merenungkan makna kemenangan, ambisi, dan perjalanan pulang. Oh ya, satu saran sederhana: sempatkan ke toilet sebelum film dimulai. Babak ketiganya terlalu sayang jika harus dilewatkan hanya karena menahan kencing.
Cilegon, 03 Agustus 2026






Comments
Post a Comment