[Self-Depression] Rak Buku, Kepepet, dan Cara Otak Saya Bekerja

Dokumentasi pribadi, foto rak buku di kamar saya.

Adakah di antara kalian yang ketika melihat sesuatu berantakan—buku-buku yang terserak, tumpukan kertas yang tidak lagi pada tempatnya, meja kerja yang mulai kehilangan bentuk aslinya—tidak serta-merta membereskannya? Saya salah satunya. Bahkan sering kali saya bisa melihat sesuatu yang berantakan selama berhari-hari tanpa merasa perlu segera membereskannya. Buku-buku koleksi di rak di kamar saya itu misalnya. Saya tahu persis bahwa susunannya sudah tidak karuan.

Ada buku yang berdiri, ada yang tidur, ada yang ditumpuk di atas buku lain, ada yang bahkan sudah tidak mendapatkan tempat dan akhirnya diletakkan begitu saja di mana pun ruang kosong masih tersedia. Tetapi anehnya, setiap kali melihatnya, di kepala saya sebenarnya sudah muncul gambaran tentang bagaimana semuanya nanti akan dirapikan. Saya tahu harus mulai dari mana, buku-buku mana yang harus dikelompokkan, mana yang harus dipindahkan ke rak lain, dan bahkan kadang saya sudah membayangkan bagaimana tampilan rak itu ketika semuanya selesai. Secara fisik memang masih berantakan, tetapi di kepala saya, rak itu sebenarnya sudah rapi. 

Mungkin terdengar seperti pembenaran untuk sebuah kebiasaan menunda, dan bisa jadi memang demikian. Saya tidak ingin terlalu cepat menganggap bahwa setiap penundaan adalah bentuk dari metode kerja yang unik, sebab bisa saja penundaan hanyalah penundaan. Kita terlalu malas memulai, lalu mencari alasan yang terdengar masuk akal untuk membenarkannya. Saya tahu ada istilah-istilah psikologi yang bisa digunakan untuk menjelaskan perilaku seperti ini, ada procrastination, ada kecenderungan menghindari tugas, ada pula cara-cara tertentu otak merespons pekerjaan yang terasa berat atau belum mendesak. Tetapi saya juga mulai berpikir bahwa manusia memang tidak selalu bekerja dengan pola yang sama. 

Ada orang yang baru bisa berpikir setelah mulai mengerjakan, ada yang harus menyelesaikan semuanya sedikit demi sedikit setiap hari, ada yang membutuhkan deadline yang panjang agar bisa bekerja dengan tenang, dan ada pula orang seperti saya yang terkadang membutuhkan waktu untuk membiarkan sebuah pekerjaan tinggal lebih dahulu di kepala sebelum tangan benar-benar mengerjakannya. Saya tidak tahu apakah itu sepenuhnya baik, tetapi yang saya tahu, sering kali ketika mendapatkan sebuah pekerjaan dengan tenggat waktu yang masih cukup panjang, saya tidak langsung duduk dan mengerjakannya. Bukan berarti pekerjaan itu berhenti; ia justru seperti pindah ruangan. Dari meja kerja, ia pindah ke kepala. 

Setiap hari otak saya seperti diam-diam mengolahnya. Saya memikirkan konsepnya ketika sedang melakukan hal lain, membayangkan kemungkinan-kemungkinan, memikirkan bagaimana pembukaannya, bagaimana bentuk akhirnya, apa yang kurang, apa yang perlu dicari, siapa yang mungkin perlu diwawancarai, atau referensi apa yang kira-kira akan membantu. Yang menarik, referensi sering kali datang pada waktu yang tidak kita rencanakan. Ketika membaca buku, tiba-tiba saya menemukan sesuatu yang terasa relevan. Ketika menonton film, muncul sebuah gagasan. Ketika membaca berita, saya menemukan satu potongan informasi yang rasanya bisa dipakai. Ketika sedang berbincang dengan seseorang, ada satu kalimat yang tiba-tiba terasa seperti jawaban dari persoalan yang beberapa hari sebelumnya masih saya pikirkan. Seolah-olah pekerjaan itu tetap berjalan meskipun saya tidak sedang duduk di depan laptop. Otak saya sedang mengumpulkan potongan-potongannya. Barangkali ini yang membuat saya terkadang sulit menjelaskan kepada orang lain mengapa saya belum mengerjakan sesuatu, padahal sebenarnya saya merasa sedang mengerjakannya. Hanya saja, bentuk pekerjaannya belum terlihat.

Masalahnya, pekerjaan pada akhirnya tetap membutuhkan bentuk. Ide sebagus apa pun tidak akan menjadi tulisan kalau tidak pernah ditulis. Konsep sebagus apa pun tidak akan menjadi film kalau tidak pernah diproduksi. Rencana serapi apa pun tidak akan menjadi sesuatu kalau tidak pernah dieksekusi. Dan di sinilah saya sering bertemu dengan musuh lama yang mungkin juga cukup akrab dengan banyak orang: deadline. Ketika deadline masih jauh, saya merasa punya banyak waktu. Ketika deadline mulai mendekat, saya mulai merasa waktu tidak sebanyak yang saya kira. Ketika deadline sudah benar-benar di depan mata, tiba-tiba seluruh bagian otak yang selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu hanya sibuk menyusun sesuatu mulai seperti mendapat perintah untuk bekerja secara bersamaan. Lalu lahirlah apa yang sering kebanyakan orang sebut sebagai the power of kepepet.

Ada energi tertentu yang hanya muncul ketika kita benar-benar tidak punya pilihan lain. Yang tadinya terasa sulit tiba-tiba menjadi mungkin, yang tadinya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dipikirkan tiba-tiba bisa diselesaikan dalam beberapa puluh menit, dan ide yang sebelumnya hanya berputar-putar di kepala tiba-tiba menemukan kalimat pertamanya. Lucunya, sering kali hasil akhirnya tidak jauh berbeda dari apa yang sudah saya bayangkan sejak beberapa hari sebelumnya. Hanya saja saya memang membutuhkan tekanan untuk memindahkannya dari kepala ke dunia nyata.

Tetapi semakin sering mengalami hal seperti ini, semakin saya sadar bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Sebab bagaimanapun juga, bekerja dengan tergesa-gesa bukanlah sesuatu yang seharusnya dirayakan sebagai metode kerja ideal. Kepepet mungkin bisa menjadi penyelamat sesekali, tetapi tidak seharusnya menjadi sistem hidup. Dalam Al-Qur'an, Allah menyebut manusia sebagai makhluk yang tergesa-gesa. QS Al-Isra ayat 11 menyebut, “Dan manusia memang bersifat tergesa-gesa.” Saya membaca ayat ini bukan sebagai pembenaran bahwa tergesa-gesa adalah sesuatu yang baik, melainkan sebagai pengingat bahwa kecenderungan untuk terburu-buru memang ada dalam diri manusia. Dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW juga menyebut dua sifat yang dicintai Allah pada diri seseorang, yaitu al-hilm dan al-anah—kesantunan atau ketenangan dalam bersikap dan sikap tidak tergesa-gesa dalam mengambil tindakan. Ada sesuatu yang menarik dari gagasan itu: mungkin menjadi produktif bukan berarti harus selalu bergerak cepat. Kadang-kadang justru kita perlu bergerak dengan tenang agar pekerjaan tidak dikerjakan dalam keadaan panik.

Saya mulai memahami bahwa membiarkan otak bekerja secara perlahan bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika saya terlalu nyaman membiarkan tubuh tertinggal jauh di belakang kepala. Karena itu, belakangan saya mulai mencoba membuat sistem sederhana untuk diri sendiri. Saya membeli sebuah papan tulis kecil yang kemudian saya pasang di dinding dan saya gunakan untuk menuliskan apa saja yang harus saya kerjakan. Saya juga membeli sticky notes dan mulai memecah setiap pekerjaan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Setiap proyek saya bagi menjadi tiga fase:

Fase 1The Idea, tempat semua masih berupa gagasan, belum sempurna, belum tentu masuk akal, bahkan mungkin masih sangat berantakan;

Fase 2Progress, ketika ide mulai dikerjakan, ada yang sudah selesai, ada yang masih bolong, ada yang harus direvisi, ada yang membutuhkan riset tambahan; dan

Fase 3Finished, ketika semuanya akhirnya selesai dan sticky note itu boleh berpindah ke tempat terakhirnya. 

Kelihatannya sepele, tetapi ternyata cukup membantu. Mungkin karena saya termasuk orang yang mudah lupa. Saya bisa memikirkan sesuatu dengan sangat serius malam ini, lalu besok pagi lupa bahwa tadi malam saya pernah memiliki ide tersebut. Karena itu saya mencatat hampir semuanya: di papan tulis, di sticky note, di ponsel, di aplikasi catatan, bahkan kadang di secarik kertas yang kemudian saya sendiri bingung pernah menulisnya untuk apa. Tetapi tidak apa-apa. Saya mulai menerima bahwa saya memang membutuhkan benda-benda di luar kepala untuk membantu kepala saya bekerja.

Barangkali kedewasaan dalam bekerja bukan hanya tentang menjadi semakin cepat, tetapi juga tentang mengenali diri sendiri. Mengenali kapan kita bisa bekerja dengan baik, mengenali kapan kita membutuhkan tekanan, mengenali kapan kita sedang benar-benar memproses sesuatu dan kapan sebenarnya kita hanya sedang mencari pembenaran untuk menunda. Sebab dua hal itu bisa terasa sangat mirip, dan hanya diri kita sendiri yang pada akhirnya tahu jawabannya. Saya pikir manusia memang selalu berada dalam proses meng-upgrade dirinya sendiri. Kita belajar dari pekerjaan sebelumnya, dari kesalahan sebelumnya, dari deadline yang pernah membuat kita hampir gila, dari klien yang pernah membuat kita belajar lebih sabar, dari proyek yang gagal, dari proyek yang ternyata jauh lebih baik dari perkiraan. 

Kita mencoba satu metode, lalu merasa tidak cocok, mencoba metode lain, membuat jadwal, gagal mengikuti jadwal, kemudian membuat jadwal yang lebih realistis, sampai perlahan menemukan bentuk kerja yang paling mungkin kita jalani. Tidak ada satu sistem yang cocok untuk semua orang. Ada orang yang hidupnya sangat teratur dengan kalender digital, ada yang tidak bisa bekerja tanpa daftar tugas, ada yang membutuhkan suasana ramai, ada yang justru hanya bisa bekerja ketika malam, ada yang harus menyelesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu sebelum pindah ke pekerjaan lain, dan ada pula yang seperti saya yang membutuhkan banyak hal berjalan bersamaan karena satu pekerjaan kadang justru memberi energi untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya. Yang penting mungkin bukan mencari cara kerja yang terlihat paling ideal di mata orang lain, melainkan menemukan cara kerja yang membuat kita tetap bergerak dan, pada saat yang sama, terus berusaha memperbaikinya.

Dan tentu saja, ada satu hal yang menurut saya tidak boleh berubah, apa pun metode kerja kita: selalu berikan performa terbaik ketika mengerjakan pekerjaan dari klien. Ini adalah sesuatu yang beberapa kali saya tuliskan dalam esai-esai sebelumnya dan mungkin akan terus saya ulangi. Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana sebuah pekerjaan akan membawa kita. Satu pekerjaan hari ini bisa saja menjadi pekerjaan lain beberapa bulan kemudian. Satu klien bisa memperkenalkan kita kepada klien berikutnya. 

Satu tulisan yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh bisa dibaca oleh seseorang yang kemudian menawarkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Dunia kerja, terutama dunia kreatif, sering kali bekerja dengan cara seperti itu. Kita tidak selalu bisa melihat hubungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan berikutnya. Karena itu, ketika sebuah pekerjaan sudah dipercayakan kepada kita, sebisa mungkin kerjakan dengan baik. Bukan semata-mata agar dipuji, bukan hanya agar mendapatkan bayaran, tetapi karena kita tidak pernah tahu apakah pekerjaan yang sedang kita anggap kecil hari ini ternyata sedang membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih besar. 

Dan mungkin, tanpa saya sadari, hal yang sama sedang terjadi pada buku-buku saya. Salah satunya adalah novel yang dalam waktu dekat akan terbit berjudul Hutan Gantarawang: Kerajaan di Balik Kabut (Diva Press, 2026). Saya masih merasa sedikit tidak percaya ketika menuliskan kalimat itu. Sebab buku ini sebenarnya berawal dari sebuah tugas kampus. Pada tahun 2024, cerita ini masih berbentuk skenario. Ia dibuat untuk memenuhi tugas, kemudian saya melihat ada sesuatu di dalam cerita itu yang rasanya sayang kalau berhenti sampai di sana. Saya kemudian menantang diri sendiri untuk mengubahnya menjadi novel. Dan sekarang, pada 2026, setelah melalui berbagai penundaan, pekerjaan lain yang datang silih berganti, revisi, keraguan, dan entah berapa kali mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya harus segera menyelesaikannya, buku itu akhirnya berada di ambang penerbitan.

Yang lebih menarik, saya justru memilih genre horor, padahal saya sendiri sebenarnya penakut. Sangat penakut, kalau boleh jujur. Saya tidak tahu apa yang membuat saya kemudian berani masuk ke genre ini. Mungkin karena sebagai orang yang bekerja di dunia kreatif, saya juga melihat bahwa horor memiliki tempat yang sangat besar di industri kita. Film horor memiliki penontonnya, buku horor memiliki pembacanya, dan cerita-cerita dengan tema seperti ini selalu memiliki ruang untuk tumbuh. Rasanya sayang sekali kalau saya tidak mencoba mengambil kesempatan itu hanya karena saya takut pada genrenya sendiri. Mungkin terkadang menjadi kreator memang sesederhana itu: kita harus berani masuk ke wilayah yang belum pernah kita masuki, bukan karena kita sudah merasa ahli, justru karena kita ingin tahu apakah kita mampu.

Dan saya senang akhirnya buku ini selesai. Bukan karena prosesnya berjalan sempurna, justru sebaliknya. Buku ini selesai setelah berkali-kali saya tunda. Ia kalah dengan pekerjaan lain, kalah dengan deadline klien, kalah dengan kesibukan sehari-hari, kalah dengan rasa malas, kalah dengan banyak hal yang pada waktu itu terasa lebih mendesak. Tetapi pada akhirnya ia tetap sampai juga di garis akhir. Mungkin seperti buku-buku yang sekarang berserakan di rak dalam foto itu. Tidak semuanya langsung menemukan tempat. Tidak semuanya selesai disusun pada hari pertama. Ada yang harus dipindahkan, ada yang harus ditumpuk sementara, ada yang menunggu rak baru. Dan mungkin hidup kita juga seperti itu. Kita tidak selalu bisa menyelesaikan semuanya sekaligus. Kadang kita hanya perlu memastikan satu per satu tetap bergerak. Hari ini satu proyek selesai, besok satu tulisan, lusa satu bab, minggu depan mungkin satu buku, sampai pada suatu hari kita melihat ke belakang dan baru menyadari bahwa ternyata banyak sekali hal yang berhasil kita selesaikan, meskipun selama prosesnya kita merasa tidak bergerak ke mana-mana.

Hari ini saya baru saja memesan satu rak buku lagi. Rak itu mungkin tidak akan langsung membuat ruangan ini terlihat sempurna, tetapi setidaknya saya sudah melakukan satu langkah kecil. Saya tidak lagi hanya membayangkan rak ini rapi di kepala. Saya mulai mengerjakannya. Mungkin itu juga yang sedang saya pelajari dalam pekerjaan dan kehidupan saya belakangan ini: tidak apa-apa menjadi orang yang membutuhkan waktu untuk berpikir, tetapi jangan sampai berpikir menjadi alasan untuk tidak pernah memulai. Boleh punya cara kerja sendiri, boleh membutuhkan waktu untuk mengendapkan ide, boleh sesekali bekerja dengan the power of kepepet, tetapi setelah tahu bahwa cara itu tidak selalu sehat dan tidak selalu menghasilkan proses terbaik, kita juga punya tanggung jawab untuk mencari cara yang lebih baik. Mungkin papan tulis kecil di dinding itu adalah salah satu usaha saya. Sticky note yang berpindah dari The Idea, ke Progress, lalu ke Finished, adalah pengingat bahwa sebuah pekerjaan tidak harus selesai hari ini. Ia hanya harus terus bergerak.

Dan untuk buku-buku saya yang masih berserakan, untuk tulisan-tulisan yang masih tersimpan di kepala, untuk proyek-proyek yang masih berada di kolom The Idea, saya berharap semuanya suatu hari nanti bisa berpindah ke kolom Finished. Termasuk buku-buku berikutnya. Termasuk cerita-cerita yang belum sempat saya tulis. Termasuk ide-ide yang sekarang masih berdesakan di kepala. Semoga tenaga saya cukup untuk menyelesaikannya satu per satu, dan semoga saya tidak lagi terlalu sering menunggu sampai kepepet untuk mulai mengerjakannya. Kalau pun sesekali terpaksa begitu, ya sudah. Namanya juga manusia. Yang penting setelah menyadarinya, kita mau belajar lagi, mau memperbaiki lagi, mau mencoba lagi, dan mau membereskan satu per satu apa yang masih berantakan.

Cilegon, 29 Agustus 2026

 


Comments

Popular posts from this blog

Kreativitas Dalam Dunia Penipuan: Pengalaman Pahit Awal Melamar Pekerjaan Melalui Job Fair

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[ULASAN BUKU] Perihal Perasaan, Kekaryaan dan Kedirian Penulis (Pontang, 30 Juli 2017)

[Ulasan Film] Seni Merayu Tuhan: Ketika Jalan Pulang kepada Tuhan Tak Selalu Mudah

[RESENSI] NEGERI KABUT KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (GRASINDO, 2016)

REFRESHING OTAK KE PULAU EMPAT, KARANGANTU, SERANG-BANTEN

[Cerpen] Beruk Gantarawang; Si Baplang dan Kutukan yang Menyertainya (Majalah Bahana Brunei, Julai - Ogos 2020)

[Ulasan Buku] Halte Alam Baka: Premis Menarik yang Terlalu Banyak Simpul