[Ulasan Film] Operasi Pesta Copet: Di Balik Tawa, Musik, dan Hidup yang Harus Dipertaruhkan

Skor: 8/10

Ada sesuatu yang menyenangkan dari film yang sejak awal sudah tahu dirinya ingin menjadi apa. Operasi Pesta Copet adalah film yang tidak berusaha menjadi terlalu rumit untuk sekadar menyampaikan cerita tentang empat orang yang terdesak keadaan, lalu mengambil jalan yang sama sekali tidak bisa dibenarkan tetapi terasa sangat manusiawi.

Ijal (Iqbaal Ramadhan) baru saja kehilangan pekerjaan, sementara ibunya terlilit utang. Bersama sahabatnya, Adut (Kristo Immanuel), ia bertahan hidup dari pekerjaan serabutan yang penghasilannya bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi yang semakin terjepit, mereka kemudian mengajak Tia (Zulfa Maharani) dan Melodi (Kawai Labiba) untuk menjalankan sebuah aksi pencopetan. Targetnya bukan tempat biasa, melainkan Pestapora, festival musik yang dipenuhi ribuan orang dan menjadi arena sempurna untuk melakukan operasi di tengah kerumunan.

Melodi menjadi semacam kunci karena pemahamannya terhadap skena musik Indonesia membuat mereka punya modal untuk membaca situasi di festival tersebut. Empat orang dengan latar dan persoalan masing-masing ini kemudian menyusun operasi yang terdengar konyol, nekat, sekaligus masuk akal jika dilihat dari kondisi yang mereka hadapi. Mereka harus membagi peran, membaca situasi, menghindari kecurigaan, dan tentu saja berhadapan dengan berbagai kemungkinan yang tidak pernah bisa sepenuhnya mereka kendalikan. Dari premis sederhana itulah Edy Khemod kemudian membangun film yang ternyata bukan semata-mata soal copet, melainkan juga tentang persahabatan, keterdesakan ekonomi, dan bagaimana orang-orang biasa bisa mengambil keputusan luar biasa ketika hidup sudah tidak memberikan banyak pilihan.

Ini adalah debut penyutradaraan Edy Khemod yang terasa sangat passionate, dan rasanya sulit untuk tidak menghubungkannya dengan dunia yang selama ini ia dikenal sebagai seorang musisi. Kepiawaiannya itu bisa dilihat dari festival yang bukan sekadar latar tempat berlangsungnya cerita, tetapi benar-benar menjadi bagian dari atmosfer film. Assembly para pemainnya juga menurut saya top notch. Ada chemistry yang membuat keempat karakter ini benar-benar terasa seperti sekelompok sahabat yang sudah lama saling mengenal, sekaligus empat orang yang sama-sama sedang berhadapan dengan keadaan hidupnya masing-masing. Mereka tidak terasa seperti kumpulan aktor yang sedang memainkan karakter, melainkan seperti orang-orang yang kebetulan sedang kita ikuti kehidupannya.

Dan, mohon maaf Iqbaal, tetapi baru di film ini saya merasa tidak sedang melihat Iqbaal Ramadhan. Saya benar-benar melihat Ijal. Ada sesuatu dalam permainan Iqbaal yang membuat karakter ini terasa jauh lebih membumi dibanding beberapa karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya. Gestur, cara bicara, visual, sampai bagaimana ia merespons situasi membuat saya percaya bahwa orang yang sedang saya lihat di layar memang Ijal, bukan Iqbaal yang sedang menjadi Ijal. Buat saya, ini adalah karakter paling berhasil yang pernah ia mainkan sejauh ini.

Tentu saja semua karakter punya momen untuk mencuri perhatian, tetapi Kristo Immanuel sebagai Adut benar-benar tidak bisa dilewatkan. Selipan komedinya terasa pas dan tidak pernah membuat karakter berubah menjadi sekadar comic relief. Justru ada beberapa momen ketika saya merasa Kristo seperti tidak sedang berakting dalam film. Ia begitu natural, sampai-sampai keberadaannya terasa seperti teman sendiri yang kebetulan nyasar ke dalam cerita. Timing komedinya juga bekerja dengan sangat baik karena tidak dipaksakan.

Salam hormat juga untuk Fauzan Lubis sebagai Silet, atau abang-abangan bagi empat bocah penos ini. Saya ingin melihat lebih banyak Fauzan Lubis di sinema Indonesia. Karakternya benar-benar scene stealer, tetapi bukan sekadar karena setiap kemunculannya mencuri perhatian. Ada kedalaman tertentu dalam cara ia memainkan Silet yang membuat karakter ini terasa punya kehidupan di luar apa yang diperlihatkan film. Setelah tahu bahwa Fauzan merupakan jebolan teater, rasanya semakin masuk akal mengapa gestur dan pembawaan karakternya terasa begitu matang. Ia tidak membutuhkan banyak dialog untuk membuat Silet terasa hidup.

Dari sisi penyutradaraan, transisi antaradegannya dibuat sangat dinamis dan halus. Film bergerak cepat tetapi tidak sampai membuat saya kehilangan arah. Gaya kamera yang shaky dan agak dokumenter juga terasa seperti keputusan yang memang disengaja sejak awal. Bahkan pada beberapa menit pertama, saya sempat mengira film ini benar-benar akan membawa pendekatan dokumenter tentang Pestapora. Pilihan tersebut akhirnya justru membantu membangun sensasi bahwa kita sedang berada di tengah kerumunan dan ikut bergerak bersama karakter-karakternya. Karena itu, keputusan untuk mengganti judul film juga patut diapresiasi. Judul Operasi Pesta Copet terasa lebih tepat mewakili energi film sekaligus memberikan identitas yang jauh lebih kuat.

Sound design-nya juga tidak perlu diragukan. Eargasm. Apalagi kalau ditonton di bioskop dengan tata suara yang proper. Pemilihan band dan musik pengiringnya ciamik, tetapi yang saya suka adalah bagaimana musik tidak terasa berlebihan meskipun porsinya cukup banyak—bayangkan ada 17 band yang dipakai lagunya di sepanjang film. Ia menjadi bagian dari napas film, bukan sekadar tempelan untuk menunjukkan bahwa ini adalah film yang mengambil latar festival musik.

Respect juga untuk Awwe sebagai konsultan komedi. Ia benar-benar tahu kapan sebuah situasi perlu diberi ruang untuk bercanda dan kapan harus dibiarkan serius. Bahkan dalam beberapa situasi yang sebenarnya cukup tegang, komedi masih bisa diselipkan tanpa menghancurkan tensinya. Lucunya bukan karena karakter tiba-tiba melontarkan punchline, melainkan karena situasinya memang absurd. Dan menurut saya, jenis komedi seperti ini justru yang paling berhasil di film.

Namun, di balik semua kesenangan itu, ada beberapa hal yang menurut saya masih bisa digali lebih jauh. Yang paling terasa adalah pilihan opening melalui meja redaksi atau ruang interogasi yang kemudian menempatkan Ijal sebagai narator. Saya memahami fungsi pendekatan ini untuk memberikan konteks sekaligus membuat penonton lebih cepat masuk ke dalam cerita, tetapi rasanya film mengambil jalan yang sedikit lebih mudah dengan menjadikan Ijal sebagai pintu utama untuk menjelaskan semuanya. Saya justru membayangkan film ini akan menjadi lebih menarik jika menggunakan perspektif orang ketiga yang lebih luas.

Sebab, perspektif kita sepanjang film terasa cukup terbatas pada sisi para copet. Kita mengetahui bagaimana mereka merencanakan operasi, apa yang mereka pikirkan, dan bagaimana mereka berusaha menjalankan aksinya, tetapi pihak korban dan aparat yang kemudian berhadapan dengan mereka tidak mendapatkan ruang yang cukup. Padahal, akan menarik sekali jika film sesekali memperlihatkan bagaimana operasi tersebut dibaca dari sisi orang-orang yang menjadi target, atau bahkan bagaimana polisi mulai mencium pola dan memburu mereka. Dengan begitu, permainan kucing-kucingannya mungkin bisa terasa lebih menegangkan. Beberapa bagian juga terasa terlalu mudah berjalan untuk sebuah operasi yang sejak awal diposisikan sebagai sesuatu yang berisiko.

Hal serupa saya rasakan terhadap naskah yang ditulis Edy Khemod bersama Rino Sarjono. Film ini sebenarnya punya keberanian untuk menyentuh isu yang jauh lebih besar: tekanan ekonomi, sistem pemerintahan yang bobrok, sampai oligarki dan ketimpangan sosial. Hanya saja, film seperti masih malu-malu untuk benar-benar "meninju" ke atas. Isu tersebut lebih banyak muncul melalui dialog-dialog tertentu dan tidak benar-benar digali menjadi bagian organik dari konflik utama.

Padahal saya sempat membayangkan, bagaimana jika motivasi mereka sejak awal punya kaitan yang lebih kuat dengan sistem yang ingin mereka kritik? Misalnya, target operasi mereka bukan sekadar target yang kebetulan tersedia, tetapi memiliki hubungan dengan pejabat korup atau pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kondisi yang mereka alami. Mereka tetap mencopet, tetapi ada semacam motif balas dendam sosial di baliknya. Tentu saja itu hanya kemungkinan, dan bisa jadi gagasan tersebut memang pernah dipertimbangkan lalu gugur dalam proses penulisan. Tetapi kalau saja hubungan antara aksi pencopetan dan kritik sosialnya dibuat lebih erat, film ini berpotensi memiliki gigitan yang jauh lebih kuat.

Justru karena fondasi karakternya sudah cukup menyenangkan, saya merasa film ini punya potensi untuk dikembangkan lebih panjang semisal menjadi serial. Bukan karena filmnya terasa kurang, tetapi karena saya ingin mengenal keempat karakter ini lebih jauh. Saya ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan Ijal sebelum kehilangan pekerjaan, tentang Adut dan alasan di balik tingkahnya, tentang Tia, tentang Melodi dan dunia musik yang ia pahami, bahkan tentang Silet dengan segala latar belakangnya. Dengan durasi serial, masing-masing karakter bisa mendapatkan ruang untuk bernapas dan membuat hubungan antarmereka menjadi semakin kuat.

Pada akhirnya, Operasi Pesta Copet tetap menjadi film yang menyenangkan, seru, dan asyik untuk ditonton, terlebih kalau ditonton ramai-ramai. Di balik segala aksi pencopetan dan kekacauan yang terjadi, nilai persahabatannya justru terasa jauh lebih kental. Saya menikmati bagaimana karakter-karakternya dibangun melalui interaksi kecil, bukan hanya melalui penjelasan verbal. Beberapa twist kecil juga berhasil membuat saya semakin menikmati perjalanan mereka tanpa merasa film sedang berusaha terlalu keras untuk mengejutkan penonton.

Mungkin film ini belum sepenuhnya memanfaatkan potensi kritik sosial yang sebenarnya sudah ia miliki. Perspektif ceritanya pun masih bisa dibuat lebih luas agar konsekuensi dari operasi tersebut terasa lebih kompleks. Tetapi sebagai sebuah debut, Edy Khemod sudah menunjukkan keberanian dan identitas penyutradaraan yang cukup jelas. Ia tahu bagaimana memanfaatkan dunia yang ia kenal untuk membangun atmosfer, tahu kapan harus bercanda, tahu bagaimana membuat musik menjadi bagian dari cerita, dan yang paling penting, tahu bagaimana membuat empat karakter ini terasa seperti sekelompok manusia yang sedang berusaha bertahan hidup dengan cara mereka sendiri.

Dan mungkin itu yang paling saya suka dari film ini: kita datang untuk melihat operasi pencopetan, tetapi pulang dengan perasaan bahwa yang sebenarnya sedang dicuri dari mereka adalah kesempatan untuk hidup dengan lebih layak.

Cilegon, 01 September 2026

Comments

Popular posts from this blog

Kreativitas Dalam Dunia Penipuan: Pengalaman Pahit Awal Melamar Pekerjaan Melalui Job Fair

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

REFRESHING OTAK KE PULAU EMPAT, KARANGANTU, SERANG-BANTEN

Tetap Maju dan Selalu di Tunggu

[RESENSI] NOVEL: HUJAN BULAN JUNI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO (GPU, 2015)

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

Dermaga Clondspenz (Inilah Koran, 27 September 2015)

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen (Majalah FEMINA edisi 14, 04-10 April 2015)

[CATATAN] Sekilas Tentang Rumah Baca Garuda