[Ulasan Buku] Teka-Teki Rumah Aneh: Misteri Rumah, Silsilah Keluarga, dan Sebuah Rahasia Kelam


Skor: 8,5/10

Setelah ketagihan membaca buku-buku Keigo Higashino, saya akhirnya kepincut mencoba buku perdana Uketsu, Teka-Teki Rumah Aneh. Dari premisnya saja buku ini sudah menarik: seorang penulis cerita misteri diminta kenalannya meneliti denah sebuah rumah impian yang sekilas tampak normal. Namun, semakin diperhatikan, semakin banyak kejanggalan yang muncul. Bersama Kurihara, seorang arsitek sekaligus pencinta cerita horor, ia menemukan ruangan tersembunyi tanpa akses serta berbagai keanehan struktur bangunan yang perlahan mengarah pada sebuah tindakan kriminal di masa lalu.

Yang membuat buku ini menarik adalah cara Uketsu menyusun misterinya. Penelusuran terasa nyata dan tidak mengada-ada. Setiap kejanggalan seperti kepingan puzzle yang perlahan menemukan tempatnya. Kita diajak mengikuti proses berpikir para tokohnya, mencocokkan informasi, membaca denah, lalu menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya. Semakin jauh penyelidikan berjalan, semakin terasa bahwa rumah tersebut menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar keanehan arsitektur.

Tantangan terbesar bagi saya justru datang dari nama-nama. Ada cukup banyak anggota keluarga yang terlibat dalam rangkaian misteri ini, lengkap dengan silsilah dan hubungan antargenerasi. Masalahnya, nama keluarga yang sama cukup sering muncul sehingga saya beberapa kali harus kembali mengingat siapa sebenarnya yang sedang dibicarakan. Memang sudah disediakan bagan silsilah, tetapi tetap saja perlu konsentrasi ekstra agar tidak tertukar.

Namun, format buku inilah yang menurut saya menjadi kekuatan terbesarnya. Teka-Teki Rumah Aneh sangat minim narasi dan lebih banyak menyajikan percakapan antartokoh. Bahkan, beberapa bagiannya terasa seperti sedang membaca naskah drama. Ditambah lagi dengan denah-denah rumah yang terus muncul dan diulang dari berbagai sudut pandang. Ada beberapa halaman yang bahkan hampir seluruhnya berisi gambar denah rumah yang sedang dicurigai.

Anehnya, justru format tersebut membuat buku ini menjadi page turner. Saya malah merasa seperti sedang menonton film daripada membaca novel. Narasi yang sedikit membuat cerita bergerak cepat, sementara informasi diberikan melalui dialog, gambar, dan potongan-potongan penyelidikan. Kita lebih banyak mengikuti POV tokoh “Aku” dan mengamati bagaimana ia bersama Kurihara menyusun kembali misteri yang tersembunyi di balik sebuah rumah.

Dengan jumlah 224 halaman, buku ini terasa sangat ringkas karena saking serunya. Ceritanya terus bergerak dari satu petunjuk ke petunjuk lain sampai akhirnya membawa kita pada fakta mengejutkan tentang masa lalu sebuah keluarga besar yang ternyata memiliki kaitan dengan sekte tertentu.

Saya suka bagaimana Uketsu membuat misterinya terasa seperti teka-teki sungguhan. Ada rasa puas ketika satu bagian yang sebelumnya terasa ganjil tiba-tiba memiliki makna setelah informasi baru ditemukan. Meski harus bekerja ekstra mengingat nama dan silsilah keluarga, pengalaman membacanya tetap menyenangkan karena rasa penasaran terus dipelihara sampai akhir.

Buat kamu yang suka cerita detektif, thriller, misteri, atau cerita yang mengajak pembacanya ikut memecahkan teka-teki, Teka-Teki Rumah Aneh layak banget dicoba.

Setelah ini, Teka-Teki Gambar Aneh, buku kedua Uketsu, sudah siap masuk daftar bacaan saya. 

Cilegon, 22 Agustus 2026

Comments

Popular posts from this blog

Kreativitas Dalam Dunia Penipuan: Pengalaman Pahit Awal Melamar Pekerjaan Melalui Job Fair

[ULASAN BUKU] Perihal Perasaan, Kekaryaan dan Kedirian Penulis (Pontang, 30 Juli 2017)

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] Seni Merayu Tuhan: Ketika Jalan Pulang kepada Tuhan Tak Selalu Mudah

[Ulasan Film] The Odyssey: Perjalanan Pulang yang Lebih Sulit daripada Menang Perang

[Ulasan Film] Tunggu Aku Sukses Nanti: Mengurai Luka Kelu(h)arga

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Ulasan Serial] Berlin and The Lady with an Ermine: Perampokan yang Terlalu Mudah dan Kisah Cinta yang Terlampau Riuh