[Ulasan Film] Seni Merayu Tuhan: Ketika Jalan Pulang kepada Tuhan Tak Selalu Mudah

 

Poster by @filmsenimerayutuhan
Skor: 7/10

Seni Merayu Tuhan bercerita tentang Hikmah (Ari Irham), seorang pemuda yang hidupnya berubah setelah sang ibu, Halimah (Rieke Dyah Pitaloka), meninggal dunia. Kepergian sang ibu membuat Hikmah dihantui rasa bersalah karena selama hidupnya ia merasa terlalu sering mengabaikan ibunya. Dari sana, ia mulai mencari kembali makna keimanan dan mencoba bertaubat.

Dalam perjalanan tersebut, Hikmah ditemani Hotib (Teuku Ryzki), sahabat masa kecilnya, serta Sophia (Lutesha), kekasihnya yang berbeda agama. Perjalanan Hikmah untuk kembali menemukan Tuhan ternyata tidak mudah. Alih-alih menemukan ketenangan, ia justru seperti terus berhadapan dengan berbagai persoalan. Ada kesan bahwa semakin ia berusaha mendekat kepada Tuhan, semakin banyak pula cobaan yang datang.

Buat saya, gagasan ini cukup menarik. Ada keresahan yang sangat dekat dengan kehidupan hari ini: bagaimana seseorang yang sedang mencari Tuhan justru bisa merasa semakin jauh dari-Nya. Terutama bagi anak muda yang mungkin tumbuh dalam lingkungan religius, tetapi pada suatu titik dalam hidupnya mulai mempertanyakan kembali hubungan personalnya dengan Tuhan.

Film ini juga punya keberanian untuk membawa persoalan yang cukup dekat dengan realitas sehari-hari, seperti hubungan cinta beda agama, pencarian spiritual anak muda, hubungan anak dan orang tua, serta keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik setelah melakukan kesalahan.

Saya juga menyukai beberapa bagian ketika film tidak terlalu sibuk menjelaskan soal agama. Adegan Hikmah tidur di musala, misalnya, justru terasa sederhana dan cukup menyentuh. Begitu pula percakapan-percakapan ringan dengan marbot yang diperankan oleh Ari Keriting juga menjadi salah satu elemen yang saya sukai. Kehadirannya memberikan warna tersendiri di tengah cerita yang cukup serius. Film ini sebenarnya punya potensi untuk menjadi drama religi yang ringan tanpa harus terus-menerus mengandalkan pesan verbal tentang agama. Ada kehangatan di sana karena dialognya tidak terasa seperti sedang menggurui penonton.

Salah satu hal yang paling saya apresiasi justru datang dari musiknya. Pemilihan soundtrack film ini menurut saya sangat tepat. Saya bahkan menangis ketika Menunggu Ujung karya almarhum Gusti Irwan Wibowo diputar. Menariknya, tangisan itu tidak sepenuhnya lahir dari empati terhadap karakter di dalam film, tetapi lebih karena urusan personal. Saya teringat Bang Gusti yang selalu menghibur lewat karya-karyanya. Ada sesuatu yang mengharukan ketika seorang seniman telah tiada, tetapi karyanya masih terus didengar dan dirayakan. Pada titik itu, musik dalam film bekerja lebih kuat daripada dialognya.

Meski begitu, ada beberapa hal yang membuat saya merasa film ini belum sepenuhnya menemukan bentuk terbaiknya. Pertama, adegan pembuka dalam mengenalkan karakternya. Saya merasa konten-konten TikTok yang mengandalkan joget-joget kurang cocok dengan karakter dan semangat film ini. Apalagi Hikmah sendiri digambarkan sebagai seorang editor Geri (Onadio Leonardo), seorang konten kreator. Ada konteks yang sebenarnya bisa dieksplorasi lebih jauh mengenai budaya konten dan kehidupan Gen Z, tetapi pendekatan ini terlalu mengandalkan format viral yang justru terasa tidak nyambung dengan pengalaman emosional yang ingin dibangun filmnya.

Saya muslim, dan saya memahami bahwa humor keagamaan bisa menjadi cara untuk mendekatkan agama kepada anak muda. Namun, beberapa candaan seperti ajakan "login" yang dibawakan Habib Jafar di kontennya menurut saya kadang sudah melewati batas konteks. Bercanda tentang agama tentu bisa saja, tetapi tetap ada situasi dan ruang yang perlu diperhatikan.

Hal yang sama saya rasakan ketika ada dialog mengenai "keutamaan pahala mengislamkan orang lain" yang dititipkan melalui karakter ustaz. Secara internal, misalnya dalam ruang pengajian khusus umat Islam, gagasan seperti itu mungkin memiliki konteks pembahasan yang jelas. Tetapi ketika ditempatkan dalam film komersial yang ditonton oleh masyarakat dengan latar belakang agama yang beragam, konteksnya menjadi jauh lebih sensitif.

Bagi saya, persoalannya bukan semata-mata apakah kalimat tersebut benar atau salah secara keyakinan, tetapi bagaimana sebuah gagasan ditempatkan dalam sebuah karya dan kepada siapa karya itu berbicara. Film punya tanggung jawab artistik untuk mempertimbangkan konteks tersebut.

Dari sisi dramaturgi, saya juga merasa hubungan Hikmah dengan ibunya terlalu cepat dibangun. Film segera membawa kita menuju inciting incident berupa kematian Halimah, sementara kedekatan antara ibu dan anak belum mendapatkan cukup ruang untuk benar-benar tumbuh. Akibatnya, rasa kehilangan Hikmah seharusnya menjadi pusat perjalanan emosional film, tetapi dampaknya tidak selalu terasa sebesar yang mungkin diharapkan.

Padahal, kalau hubungan mereka sejak awal dibuat lebih intim dan personal, rasa bersalah Hikmah setelah ibunya meninggal tentu akan memiliki bobot yang lebih kuat. Kita akan memahami apa yang sebenarnya membuat ia merasa kehilangan, bukan sekadar diberi tahu bahwa ia merasa bersalah.

Hal serupa saya rasakan pada hubungan Hikmah dan Sophia. Secara konsep, pasangan Ari Irham dan Lutesha sebenarnya menarik, terutama karena konflik cinta beda agama menjadi salah satu fondasi cerita. Tetapi chemistry keduanya belum sepenuhnya meyakinkan saya sebagai pasangan kekasih.

Memang ada persoalan jarak usia yang cukup terasa secara visual, tetapi menurut saya hal itu sebenarnya masih bisa diatasi melalui chemistry, dialog, gestur, dan bagaimana kedua karakter memperlakukan satu sama lain. Sayangnya, Ari Irham terlihat kurang luwes ketika harus membangun hubungan romantis dengan Lutesha. Ada beberapa momen ketika saya lebih melihat mereka sebagai dua karakter yang sedang menjalankan adegan daripada dua orang yang benar-benar memiliki hubungan emosional.

Begitu pula dengan Hotib yang diperankan Teuku Ryzki. Kehadirannya sebenarnya penting sebagai sahabat yang menjadi pencair suasana, tetapi tektokan antara Hotib dan Hikmah belum cukup kuat untuk membuat saya benar-benar percaya bahwa mereka adalah sahabat sejak kecil. Porsi komedinya pun terasa masih bisa dikembangkan.

Masalah terbesar film ini mungkin ada pada eskalasi emosinya. Seni Merayu Tuhan sebenarnya memiliki banyak hal yang potensial: kehilangan ibu, rasa bersalah, cinta beda agama, pencarian Tuhan, hingga keinginan anak muda untuk menemukan kembali makna keimanannya. Namun, semuanya terasa berjalan dengan intensitas yang relatif datar.

Akibatnya, di beberapa bagian film mulai mendekati titik membosankan. Bukan karena ceritanya tidak menarik, tetapi karena konflik-konfliknya belum selalu menghasilkan perubahan emosional yang signifikan pada karakter.

Saya juga merasa konsep "merayu Tuhan" sendiri terlalu sublim ketika diterjemahkan ke dalam visual. Sebagai judul, ia menarik dan puitis. Tetapi sebagai gagasan dramatik, saya masih mencari bentuk "merayu" seperti apa yang sebenarnya sedang dilakukan Hikmah. Film seolah meminta penonton menangkap sendiri metaforanya, tetapi tidak selalu memberikan pengalaman emosional yang cukup kuat untuk membuat metafora tersebut benar-benar melekat.

Meski begitu, saya tetap melihat Seni Merayu Tuhan sebagai film yang lumayan oke. Cesa David Luckmansyah belum menunjukkan sentuhan terbaiknya di sini, tetapi ia cukup berhasil merangkai sebuah film dari sumber yang sebenarnya cukup sulit diadaptasi.

Pasalnya, buku karya Husein Ja'far Al Hadar yang menjadi sumber film ini bukan novel atau karya fiksi. Ia lebih merupakan esai dan gagasan motivasi Islami. Karena itu, saya merasa film ini pada akhirnya lebih banyak mengambil judul dan semangat besarnya daripada benar-benar mengadaptasi isi bukunya secara langsung. Dan menurut saya, itu pilihan yang masuk akal.

Secara keseluruhan, Seni Merayu Tuhan adalah film yang punya niat baik dan tema yang relevan. Ia berbicara tentang manusia yang ingin kembali kepada Tuhan, tetapi justru menemukan jalan yang penuh pertanyaan dan cobaan. Ia mencoba mempertemukan persoalan spiritual dengan realitas anak muda hari ini.

Saya hanya berharap gagasan sebesar itu diberi ruang emosional yang lebih dalam, terutama pada hubungan Hikmah dengan ibunya, hubungan Hikmah dan Sophia, serta proses perubahan spiritual Hikmah sendiri.

Film ini punya potensi menjadi film yang bagus. Hanya saja, bagi saya, potensinya belum sepenuhnya sampai ke layar.

Cilegon, 19 Agustus 2026

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Migration: Upaya Keluar dari Zona Nyaman dan Meraih Impian

[ULASAN BUKU] Perihal Perasaan, Kekaryaan dan Kedirian Penulis (Pontang, 30 Juli 2017)

Kreativitas Dalam Dunia Penipuan: Pengalaman Pahit Awal Melamar Pekerjaan Melalui Job Fair

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Serial] Berlin and The Lady with an Ermine: Perampokan yang Terlalu Mudah dan Kisah Cinta yang Terlampau Riuh

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

[Ulasan Film] The Odyssey: Perjalanan Pulang yang Lebih Sulit daripada Menang Perang

[Ulasan] Halte Alam Baka: Premis Menarik yang Terlalu Banyak Simpul

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatis dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"