[Ulasan Film] Homebound: Film Persahabatan yang Hangat dan Upaya Meraih Mimpi yang Emosional

Skor: 8,5/10 

Saya selalu sulit menahan air mata setiap kali menonton film yang berbicara tentang perjuangan, mimpi, dan cita-cita. Homebound adalah salah satunya.

Film drama India garapan Neeraj Ghaywan ini berkisah tentang dua sahabat masa kecil, Mohammed Shoaib Ali (Ishaan Khatter) dan Chandan Kumar (Vishal Jethwa), yang berusaha keluar dari kemiskinan dan diskriminasi sosial dengan mengejar impian menjadi polisi. Namun, ketika impian itu mulai terlihat di depan mata, pandemi Covid-19 dan kebijakan lockdown tahun 2020 menghancurkan banyak hal yang telah mereka perjuangkan.

Sependek ingatan saya, ini adalah kali pertama saya menyaksikan Ishaan Khatter dan Vishal Jethwa sebagai pemeran utama. Saat film berakhir, saya merasa seperti baru saja mengikuti perjalanan hidup dua orang sungguhan, bukan sekadar menonton sebuah karya fiksi. Ada banyak momen yang membuat saya merasa ikut berjalan bersama mereka. Ketika musibah demi musibah menimpa para tokohnya, kesedihan itu terasa begitu dekat. Akting keduanya terasa sangat natural, nyaris seperti dokumenter.

Setelah mencari tahu lebih jauh, saya baru mengetahui bahwa film ini memang terinspirasi dari kisah nyata. Ceritanya diadaptasi dari artikel karya Basharat Peer di The New York Times tahun 2020 berjudul Taking Amrit Home atau A Friendship, a Pandemic and a Death Beside the Highway. Artikel tersebut mengisahkan perjalanan dua sahabat dari komunitas Dalit dan Muslim yang berjuang pulang ke kampung halaman mereka di tengah situasi lockdown di India.

Didukung oleh Dharma Productions milik Karan Johar dan diproduseri oleh Martin Scorsese, Homebound lebih dulu tayang di Festival Film Cannes sebelum diputar di Festival Film Internasional Toronto dan akhirnya dirilis di bioskop pada 26 September 2025. Film ini juga menjadi wakil resmi India untuk kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-98, meski langkahnya terhenti sebelum meraih kemenangan.

Bagi saya, kekuatan terbesar film ini terletak pada kesederhanaannya. Tidak banyak adegan yang dibuat berlebihan, tetapi justru karena itulah emosinya terasa begitu kuat. Sinematografi, dialog, dan cara bertuturnya bekerja sangat baik dalam menghadirkan kisah yang manusiawi sekaligus menyayat hati.

Ada satu scene yang kalau diingat saja bikin terharu. Ketika Shoaib diajak nobar pada malam hari, lalu direndahkan rekan kerjanya karena asalnya, dia pilih out, terus tahu-tahu dia ada di kosan temennya yang beberapa hari lalu bertengkar hebat. Tidak butuh scene saling bertukar maaf tapi salah satunya meminta makan, tidak ada percakapan. Sampai akhirnya salah satunya bertanya "kamu kenapa?" Dia tetap diam, dirangkul pun menghindar sampai akhirnya dipeluk paksa tangis mereka pecah. Buset, kuat banget penggambaran betapa bersahabatnya mereka.

Film yang mengingatkan saya bahwa mimpi kadang bukan hanya soal kerja keras, tetapi juga tentang bertahan menghadapi keadaan yang tidak pernah kita pilih.

Cilegon, 19 Juni 2026


Comments

Popular posts from this blog

Kreativitas Dalam Dunia Penipuan: Pengalaman Pahit Awal Melamar Pekerjaan Melalui Job Fair

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

REFRESHING OTAK KE PULAU EMPAT, KARANGANTU, SERANG-BANTEN

Tetap Maju dan Selalu di Tunggu

[RESENSI] NOVEL: HUJAN BULAN JUNI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO (GPU, 2015)

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

Dermaga Clondspenz (Inilah Koran, 27 September 2015)

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen (Majalah FEMINA edisi 14, 04-10 April 2015)

[CATATAN] Sekilas Tentang Rumah Baca Garuda