[Ulasan Film] The Truman Show: Ketika Realitas Tak Lagi Milik Sendiri
Skor: 8/10.
Saya baru saja menonton The Truman Show garapan Peter Weir dan ditulis oleh Andrew Niccol. Agak terlambat memang, mengingat film ini tayang pada 1998, tetapi barangkali justru karena datang terlambat saya bisa menontonnya dengan rasa ingin tahu yang lebih utuh. Selama ini saya sering mendengar film ini disebut dalam daftar film favorit banyak sineas, bahkan kerap dianggap sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Setelah menontonnya, saya mulai mengerti mengapa. Untuk ukuran zamannya, gagasan tentang seorang manusia yang seluruh hidupnya dijadikan tontonan tanpa pernah ia sadari terasa sangat mencengangkan. Di tahun ketika televisi masih menjadi pusat perhatian banyak orang, ide semacam ini pasti terasa sangat mindblowing.
Menariknya, saat menonton film ini saya justru teringat pada Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono, ketika tokoh fiksinya mulai melawan penulisnya sendiri dan keluar dari batas cerita. Ada semacam kegelisahan yang sama tentang siapa yang sebenarnya berkuasa atas sebuah kehidupan: tokohnya, penciptanya, atau para penontonnya. Karena itulah film ini terasa dekat bagi saya. Bahkan sebelum menonton film ini, saya beberapa kali pernah membayangkan dan menulis cerita dengan permainan realitas yang serupa. Mungkin itu sebabnya pengalaman menonton film ini terasa seperti bertemu dengan gagasan lama yang tiba-tiba hidup dalam bentuk yang jauh lebih besar.Yang paling menarik dari film ini adalah cara ia membahas ironi dunia televisi dan showbiz. Truman hidup dalam dunia yang seluruhnya dibangun untuk ditonton. Tidak ada ruang privat. Tidak ada momen yang benar-benar miliknya sendiri. Sejak lahir sampai usia tiga puluh tahun, hidupnya menjadi konsumsi publik. Ia dicintai oleh jutaan orang yang tidak pernah benar-benar mengenalnya. Dan di titik itu, film ini mulai terasa tidak nyaman, karena saya pun sadar: saya ikut menonton penderitaan Truman. Saya ikut merasa iba kepadanya, tetapi tetap menikmati kisahnya sampai selesai. Film ini membuat saya bertanya-tanya: apakah saya berbeda dari para penonton di dalam film itu?
Penampilan Jim Carrey sebagai Truman benar-benar luar biasa. Ia memainkan karakter yang “tidak tahu dirinya sedang dipertontonkan,” tetapi di saat yang sama harus memperlihatkan perubahan batin ketika kecurigaan itu perlahan tumbuh. Ia seperti sedang berakting di dalam lapisan akting yang lain. Truman harus terlihat natural, tetapi justru di situlah kerumitannya. Tidak banyak aktor yang mampu memainkan kepolosan, paranoia, humor, dan kesedihan dalam satu tubuh yang sama tanpa terasa berlebihan. Jim Carrey membuat Truman terasa begitu manusiawi sampai kita lupa bahwa dunia di sekelilingnya sepenuhnya palsu.
Semakin lama film ini berjalan, semakin terasa bahwa kota tempat Truman tinggal bukanlah kota, melainkan panggung raksasa. Orang-orang yang ia temui setiap hari bergerak seperti pola yang diulang. Jalanan terasa seperti set yang terus berputar. Bahkan matahari, bulan, laut, dan cuaca ternyata hanyalah bagian dari kontrol produksi. Semua hal yang selama ini ia anggap nyata ternyata hanyalah konstruksi. Di titik itu, film ini terasa seperti kritik yang jauh melampaui televisi. Ia seperti ramalan tentang zaman sekarang, ketika orang rela menyiarkan hidupnya selama dua puluh empat jam demi perhatian penonton. Saya teringat fenomena live streaming ekstrem yang dilakukan banyak kreator digital hari ini—dari luar negeri sampai Indonesia—di mana kehidupan pribadi perlahan berubah menjadi tontonan tanpa batas. Bedanya, Truman tidak pernah memilih hidup itu, sementara hari ini banyak orang justru menyerahkan dirinya sendiri dengan sukarela.
Yang membuat film ini tetap relevan adalah karena kritiknya tidak hanya diarahkan kepada industri hiburan. Film ini juga menyorot penonton, sistem, bahkan otoritas yang membiarkan semuanya terjadi. Ada pertanyaan moral besar tentang siapa yang sebenarnya paling bersalah: orang yang menciptakan pertunjukan, orang yang menjalankannya, atau orang yang terus menontonnya. Dan mungkin jawabannya adalah semuanya.
Pada akhirnya, The Truman Show bukan hanya film tentang seorang pria yang hidup dalam kebohongan. Ia adalah film tentang manusia modern yang perlahan kehilangan batas antara kehidupan dan tontonan. Tentang bagaimana privasi bisa berubah menjadi komoditas. Tentang bagaimana kebebasan bisa dicuri atas nama hiburan.

Comments
Post a Comment