Marty Supreme: Ambisi dan Ketidaknyamanan yang Menyenangkan
Skor: 8,8/10
Marty Supreme (2025) adalah film komedi-drama olahraga Amerika yang terasa seperti perayaan atas kegigihan—dan sedikit kegilaan—seorang manusia yang menolak biasa-biasa saja.
Marty, karakter utama yang dimainkan oleh Timothée Chalamet benar-benar luar biasa meyakinkan. Ia memerankan versi fiksi yang terinspirasi dari Marty Reisman dengan kadar oportunisme yang bikin geleng-geleng kepala. Entah berapa lama proses pendalaman karakternya, tapi ia berhasil jadi sosok yang menghalalkan hampir segala cara demi obsesinya menjadi atlet pingpong terbaik dunia. Menyebalkan? Banget. Tapi di saat yang sama, saya kagum setengah mati pada caranya memainkan karakter yang charming sekaligus manipulatif.
Sejak awal saya tidak dibuat peduli. Tidak empati. Semua masalah yang datang terasa sebagai konsekuensi dari ulahnya sendiri. Dia beruntung dan apes di waktu yang bersamaan—dan justru di situ letak kegelisahannya. Film ini tidak berusaha membuat kita simpati, tapi memaksa kita menatap ambisi dalam bentuknya yang paling mentah.
Disutradarai oleh Josh Safdie dan ditulis bersama Ronald Bronstein, ritmenya intens banget. Dialognya padat, cepat, tumpang tindih, seperti orang-orang yang tidak pernah benar-benar berhenti berpikir atau berhenti mengejar sesuatu. Setting tahun 1950-annya terasa hidup—bukan tempelan nostalgia, tapi atmosfer yang utuh. Sinematografi dari Darius Khondji bikin semuanya terasa nyaris dokumenter. Saya sampai lupa ini film. Rasanya seperti sedang mengintip kehidupan seseorang yang kebetulan sangat ambisius dan sangat nekat.
Wajar kalau performa Chalamet diganjar penghargaan besar dan film ini masuk sembilan nominasi Oscar. Rasanya seperti kandidat kuat yang bisa saja memborong piala. Sepanjang nonton, saya bergumam terus: standar film dunia tuh sudah sejauh ini ya. Dan tanpa mengecilkan siapa pun, film Indonesia masih punya jarak yang jauh kalau mau bersaing di level nominasi Oscar ketika saingannya seintens dan seberani ini.
Selain detail setting, mereka juga piawai membangun skala. Film ini terasa kolosal tanpa harus berteriak kolosal. Figuran banyak, ruang-ruang terasa penuh, setiap orang seperti punya kehidupan sendiri. Grande tapi tetap intim. Itu jarang kita temuin di film Indonesia—karena ketika ada film kita yang mewah banget justru itu jadi bahan jualannya, bukan ceritanya yang jadi dasarnya.
Saya sempat mengira ending-nya akan klise: menang kejuaraan, tepuk tangan, film selesai. Ternyata tidak. Capaian tokohnya terasa “sebatas itu saja”, tapi justru kegigihannya dalam mengejar ambisi bikin saya relate. Cara-caranya ekstrem, bahkan melanggar banyak aturan negara, tapi satu hal yang saya pelajari: Marty jago sekali bicara. Jago melobi. Jago membujuk orang untuk bergerak sesuai keinginannya. Ambisi tanpa kemampuan komunikasi mungkin cuma jadi mimpi. Di tangannya, ambisi jadi alat tawar.
Film produksi A24 ini lagi-lagi membuktikan standar tinggi mereka dalam memilih dan mengolah cerita. Akting, cerita, sinematografi selalu presisi, nyaris tanpa celah. Film yang sebaiknya jangan dilewatkan, walau mungkin bikin kita nggak nyaman.

Comments
Post a Comment