[MEDIA] Rumah Baca untuk Meningkatkan Budaya Literasi (Zetizen Radar Banten, 6 Desember 2017)

Foto:
Riza, Tim Zetizen Radar Banten (kanan) saat menyerahkan
buku kepada pendiri Rumah Baca Garuda, Ade Ubaidil (kiri).
Keprihatinan terhadap kurangnya budaya literasi di kalangan anak-anak, mengantarkan Ubaidil Fithri yang dikenal dengan nama pena Ade Ubaidil mendirikan, 'Rumah Baca Garuda'. Perpustakaan yang didirikan para 2 April 2015 ini terletak di rumahnya, di kampung Cibeber, Kelurahan Cibeber, Kota Cilegon.

Mahasiswa jurusan Sistem Komputer di Universitas Serang Raya (UNSERA) ini memang bergiat dalam dunia tulis-menulis. Selain beraktivitas sebagai mahasiswa, ia pun terhitung telah menerbitkan enam buah buku dan saat ini menjadi penulis freelance dan beberapa kali tulisannya menghiasi website hingga surat kabar.

Mahasiswa yang kerap disapa Ade ini pun sering kali mengisi pelatihan menulis dan mengeditori naskah. Alumnus Madrasa Aliyah Al-Jauharotunnaqiyyah Cibeber, Cilegon ini pun aktif sebagai relawan di Rumah Dunia.

beberapa buku karya Ade Ubaidil
“Awal mendirikannya, sih, karena butuh teman diskusi soal buku. Selain itu karena keprihatinan terhadap banyaknya anak kecil yang bermain di warnet tapi nggak ada yang tertarik baca buku, termasuk keponakan saya sendiri. Saya ingin mereka mengenal budaya literasi sejak dini. Setelah taman baca ini dibuka, anak-anak dan keponakan saya sendiri, sepulang sekolah baca buku di rumah baca ini,” ungkap Ade.

Nama ‘Rumah Baca Garuda’ terinspirasi dari buku pertamanya yang Ade tulis berjudul, “Air Mata Sang Garuda”. Lokasi awalnya yang berada di dalam rumah juga menjadi salah satu alasan penamaan, ‘Rumah Baca’ milik Ade.

Saat ini, Rumah Baca Garuda memiliki koleksi sekira 300-an buku yang tersusun di rak. Setiap hari, rumah baca ini terbuka bagi siapa pun yang ingin membaca dan meminjam bukunya. Buku yang disediakan beragam. Ada novel, kumpulan cerpen dan buku pelajaran. Biasanya, banyak siswa berkunjung ke rumah baca ini sepulang sekolah hingga sore.


Koleksi buku bukan hanya milik Ade pribadi, namun ia pun kerap mendapat donasi dari rekannya, bahkan dikirim dari luar kota. Ade mengungkapkan, budaya litrasi tidak hanya berhenti sampai tahap membaca, namun perlu adanya diskusi.” (riza-zetizen/zee/ags)

***

(Zetizen Radar Banten, 6 Desember 2017)

>>> Like laman Facebook-nya: RUMAH BACA GARUDA<<<
>>> Like laman Facebook-nya: RUMAH BACA GARUDA<<<
>>> Like laman Facebook-nya: RUMAH BACA GARUDA<<<

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

[Ulasan Film] Kokuho: Kabuki, Ambisi, dan Perjuangan Hidup yang Mengorbankan Segalanya

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Cerpen] Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini? (Majalah Pusat, Edisi 30/2025)

[Ulasan Film] Gadis Kretek: Kisah Cinta Menyesakkan Dada dan Sejarah Kelam yang Menyengsarakan

[Catatan] Menjadi Manusia Utuh di Tengah Teknologi yang Kian Riuh