[PUISI] Seorang Wanita dan Buku —yang Sama Tuanya


source image by: klik
Barangkali Santiago tengah
terduduk di jembatan kayu,
di ujung pikirannya.
Mengayun-ayunkan kaki bersamaan
dengan bocah lelaki di sebelahnya.
Ia meneguk bir kaleng sedang
Manolin, bocah itu, menyesap soda
yang sama dinginnya. Tenang mendengarkan
kisah yang terus diulang-ulang soal
singa di Afrika; sesekali diselingi
perdebatan tentang tim bisbol terkuat
dalam Liga Amerika.

Lalu langit senjakala
karang, ombak dan lompatan lumba-lumba
tak lebih dari siluet para pemaki di pesisir.
Buku tua yang digemari wanita tua itu—yang entah sudah
bilangan ke berapa dibacanya, juga hampir
dihafalnya walau beberapa
tulisannya karam atas air asin
—seolah menjelma lelaki
dengan mata tajam-menghunjam.

             “Jangan sekalipun berpikir kau pantas disebut Salao!*”
             —buku itu bicara meski tiada suara.
Wanita tua yang duduk di ujung sampan
meremas dayung erat-mengerat
bibirnya bergetar-gentar dan memaksa menjawabi
imajinya sendiri.
              “Kalau bukan begitu, lantas apa?
              Aku sudah lelah-menyerah menanggung derita-usahamu.”

              “Berhenti bicara begitu. Andai aku masih—”
belum usai pangkal kalimatnya mengalir
wanita tua itu berdiri mengentak.

              “Andai kau masih apa? Hidup? Begitu?”
katanya seolah buku yang tergeletak itu
adalah suami yang dahulu dicintainya
yang belum rela ia lepas kepergiannya.
              “Kau tak lebih baik dari Santiago Si Lelaki Tua malang itu
              kau lebih menyedihkan, memilih melompat dan menyerah pada lautan,”

                          ...tak ada yang pantas dibanggakan, hatinya lemah melanjutkan.

             Tiba-tiba kembali di telinganya terdengar
             suara bom ikan milik cukong bersahutan.

Santiago beserta Manolin pergi
menyeberang dari pikiran ke pikiran
para istri nelayan yang ditinggal
mati suaminya. Keduanya mengabarkan
bahwa hidup sangat sederhana untuk dijalani
dan dipilih

: berlayar mengikuti arus
atau belajar melawannya.

Gaduh tabuh beduk subuh
para pelawat berkumpul-riuh
di rumah kayu yang tak lagi
berpenghuni.
Cilegon, 24 Desember 2015


  *) Salao bermakna sebuah keadaan terburuk dari ketidakberuntungan—istilah yang dikutip dari novela berjudul, “The Old Man and The Sea (1952)” karangan Ernest Hemingway.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] Kokuho: Kabuki, Ambisi, dan Perjuangan Hidup yang Mengorbankan Segalanya

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Cerpen] Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini? (Majalah Pusat, Edisi 30/2025)

[Cerpen] Narayya dari Moor (Media Indonesia, 17 Maret 2019)

[Ulasan Film] Gadis Kretek: Kisah Cinta Menyesakkan Dada dan Sejarah Kelam yang Menyengsarakan