[Ulasan Film] Ben & Jody: Disayangkan, Ada Sosok Krusial yang Tidak Muncul dalam Film

official poster by Visinema Pictures
Score: 7/10.

Saya ragu-ragu saat film ini tayang di bioskop. Filosofi Kopi 1 & 2 sudah cukup bagus dan seharusnya tidak perlu ada spin-off. Tetapi, IP Filkop memang sudah terdaftar dan berubah ke berbagai bentuk; mulai dari coffe shop, merchendise, serial, sampai membentuk dunianya sendiri termasuk spin-off karakter utamanya ini, dan banting stir ke genre action.

Saya akhirnya baru menonton kemarin di Netflix karena sudah tanggung didownload. Tidak akan panjang lebar, yang jelas untuk action-nya sendiri sudah terbilang oke. Shout out untuk Yayan Ruhian sebagai Aa Tubir, bos dari kroco-kroco suruhan si pembalak liar. Yayan berhasil menjadi bos yang sangat menyebalkan. Duet Chicco Jericho dan Rio Dewanto sebagai Ben & Jody memang sudah sangat jadi tektokannya. Walaupun kali ini, Chicco di beberapa bagian terlihat sedang aktingnya.
Premisnya sendiri sudah cukup jelas, bagaimana Ben yang ingin membela para petani kopi dari pembalak liar, tetapi yang sangat disayangkan, musuh semua orang itu tidak dimunculkan sosoknya. Hanya kaki tangannya, Pak Hasan (Arswendi Nasution) yang berkhianat dari warga. Menurut saya itu cukup krusial, karena bila ditunjukkan orangnya, motivasi warga yang memilih melawan akan lebih kuat dan terasa kepada siapanya.
Lalu ada yang cukup mengganggu saya ketika ternyata di antara warga yang di sandera adalah kepala suku yang tinggal di kawasan hutan itu. Saat bertemu Ben & Jody yang berhasil kabur dari tahanan, anak kepala suku mengatakan merasa terbantu info dari Ben karena sudah 6 bulan mereka tidak menemukan markas si Aa Tubir, ini janggal karena sebagai warga yang tinggal di hutan, harusnya tidak sulit menemukan markas yang dibuat oleh orang asing yang tinggal di luar hutan.
Angga Dwimas Sasongko betul-betul naik level di Mencuri Raden Saleh. Terlihat betul perbedaan dari film action Ben & Jody ini ke MRS yang disutradarainya. Saya penasaran dengan film dia berikutnya!
Cilegon, 18 September 2022

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Ulasan Film] Gadis Kretek: Kisah Cinta Menyesakkan Dada dan Sejarah Kelam yang Menyengsarakan

[Ulasan Film] One Piece Live Action: Alur yang Dipadatkan dan Ikatan Emosional yang Memudar

[Ulasan Film] Hamnet: Duka yang Tumbuh Menjadi Panggung Keabadian

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni