Posts

[Catatan] Dua Hal yang Bikin Saya Tersentuh

Image
Jumat pagi kemarin, (14/8) saya bersama relawan Rumah Dunia memenuhi undangan dari Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah, di Pelamunan, Serang. Saya betul-betul rindu bisa kembali bertatap muka dengan adik-adik santri atau peserta pelatihan menulis macam ini. Saya bergembira sekali kepada pesantren yang mau terbuka mengadakan pelatihan menulis, artinya para santri diberikan kesempatan untuk belajar hal lain di luar mata pelajaran yang biasanya mereka geluti sehari-hari. Terlebih sewaktu perkenalan, jarang saya temui antusias peserta seperti pagi tadi. Tampak betul mereka ingin belajar sesuatu. Apalagi sewaktu Mas Golagong memberikan motivasi menulis kepada para santri. Bahkan termasuk para ustadnya pun turut larut dalam suasana. Ada dua hal yang berhasil membuat hati saya tersentuh; pertama ketika Mas Gong menjelaskan tentang proses kreatif menulis novel Balada Si Roy. Betapa ia membentuk karakter Roy sebagai lelaki sejati yang ingin melakukan perjalanan ke berbagai daerah berhasil m...

[Puisi] Sarmin dan Kampung Masa Kecilnya ( 4 Puisi untuk Cilegon)

Image
Ilustrasi by Rizqi Ramadhani Ali SARMIN DAN KAMPUNG MASA KECILNYA “Gunung dikeruk! Gunung dikeruk!” Sarmin berlarian dari ujung gang ke ujung hari Bukit tempat ia bermain gundu dan layangan Tinggal semata kaki Kambing dan bebek angonannya Berpencar ke sana-kemari Orang-orang makin tak peduli Mereka yakin Sarmin kumat lagi “Mana mungkin itu terjadi? Lihat bapak berdasi datang ke kampung berbagi rezeki....” Sahut Pak Beni sembari menanam padi Di sawah milik Pak Riyadi Sarmin tak dipercaya lagi Dari hari ke hari ia hanya bisa menangis Seorang diri Sampai suatu pagi Bapak berdasi yang pernah diceritakan Pak Beni Datang ke kampung kami Membawa barisan truk dan buldozer tinggi sekali “Tanah ini milik kami. Di sini mall akan berdiri!” Katanya tak hilang wibawa. Menyuruh anak buah Mengusir Pak Beni pergi Tak ada lagi sawah Tak ada lagi ladang Tak ada lagi bukit tinggi Sarmin merantau mencari Kampung lain untuk ditingg...

[Cerpen] Preman Pasar Kranggot

Image
image by shutterstock.com “Terima kasih kepada pemerintah, Kepala Desa, Pak RT, dan Pak RW atas bantuannya...,” ucap Juki di depan kamera. Belum selesai ia merekam video, Mahmud menyahut. “Juk, emang lu udah dapat bantuan?” Mahmud garuk-garuk kepala kebingungan. “Belum, Mud. Ini gue lagi latihan aja dulu. Siapa tahu dapat, kan gue udah punya stok video ucapan terima kasihnya.” Juki cekikikan. Mahmud menepok jidatnya kesal. Jam-jam segini, bisa-bisanya si Juki bikin Mahmud sebal. “Mau ke mana, Mud?” tanya Juki yang gantian bingung melihat Mahmud berjalan keluar gudang bekas itu. “Nyari makanlah. Pusing gue sama lu,” Mahmud pergi meninggalkan Juki yang masih melongo. Dua preman itu belum berkeluarga. Mereka tinggal di kosan yang sama. Jangan ditanya sudah berapa bulan menunggak. Cari kerja, bagi mereka sama sulitnya dengan menemukan jarum di tumpukan jerami. Lamaran kerja sudah tak terhitung jumlahnya yang mereka ajukan ke perusahaan-perusahaan. Bahkan, seringkali duit...

[Cerpen] Pohon Mangga di Pekarangan Rumah

Image
credit by freepik.com Barangkali, kalau bukan karena orang tua, aku lebih memilih pergi meninggalkan rumah. Aku berani bilang, banyak keluarga bisa rukun itu karena terikat pada orang tuanya. Temanku pernah cerita, kalau ia dan keluarganya sudah tak pernah pulang kampung sejak ayah dan ibunya meninggal dunia. Bukankah itu artinya orang tualah yang membuat kita mau jauh-jauh kembali dari perantauan hanya untuk berjumpa dengan mereka? Kau pernah juga berpikir demikian, kan? Ah, terserah, sih, kalaupun tidak, aku toh tak peduli. Setidakpedulinya kakak-kakakku ketika aku memilih untuk menikahi Airin. Ini akan terdengar menyebalkan, namun aku sudah tak kuat menahan berlarut-larut kisah ini. Aku mencintai Airin sama besarnya seperti aku mencintai orang tuaku. Masa bodolah dengan kakak-kakakku. Toh mereka juga memilih pergi dari rumah sejak berkeluarga. Maksudku, boleh saja pergi, tapi seharusnya mereka tahu kapan waktunya kembali. Lebaran tahun lalu saja tak pernah ada yang datang...