Posts

BANK ENDONESA

Image
image by: google.com Blok 3 “Apa lu yakin mau lewat sini?” “Tenang aja, aman, kok.” “Lu simpan mobilnya di mana?” “Itu dia masalahnya, gue lupa!” “Dasar gundul! Nggak lagi-lagi gue kerjasama bareng, lu!” Blok 2 “Nggak sia-sia aku punya kekasih sepertimu, Mas.” “Sudah lepaskan dulu pelukanmu. Kita belum aman!” “Maksudmu? Di sini sepi, kok.” “Bukan itu, tapi...” Blok 3 “Gue mulai ragu.” “Tenang aja!” “Tenang kepala, lu! Bangsat! Kita udah hampir sampai ujung gang, tapi mana mobilnya?” “Harusnya ada di sini, Bos. Gue simpen di dalam ruko bekas. Kalau nggak salah di depan sana.” “Singkirin tangan lu di depan muka gue! Masalahnya gue denger sirene polisi dari tadi. Agak cepat sedikit jalan lu!” “Bagaimana mau cepat?! Kaki gue masih gemetaran, maklum pengalaman pertama beroperasi sendirian.” “Ngomong apa, lu?! Sendirian dari hongkong?! ” “A... ampun, Bos. Please, singkirin pistol itu dari kepala gue!” “Berpencar itu cara supaya nggak a...

Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen (Majalah FEMINA edisi 14, 04-10 April 2015)

Image
Kakiku mulai lelah melangkah. Hampir setengah jam aku melalui jalan setapak ini. Namun sepertinya tujuanku belum segera menemui titik temu. Kampung Cibeber. Di tanah inilah aku dilahirkan. Tiga tahun adalah waktu yang lama bagiku. Setidaknya ceruk kerinduan di hati ini kian terisi penuh ibarat air di dalam gelas yang terus mengalir. Luber. Meluap ke segala arah. Aku tak mau terus-menerus menyiksa diri. Seturunnya aku dari kendaraan umum angkutan kota di persimpangan tadi, pemandangan yang disuguhkan masih sama seperti saat aku merelakan diri untuk meninggalkan kampung halaman ini. Aroma asri nan perawan masih bisa kuhirup hingga ke rongga dada. Bahkan sengaja aku menolak tawaran tukang ojek di pangkalan depan gapura masuk tadi, hanya untuk menapak tilas kenanganku dengan berjalan kaki. Kampung ini sulit untuk dilupakan. Sawah-sawah luas terbentang di kanan-kiri bahu jalan. Lenggok padi lincah bergurau dengan angin. Burung-burung fasih bersenandung menyambut wajah penuh ...

REFRESHING OTAK KE PULAU EMPAT, KARANGANTU, SERANG-BANTEN

Image
Logo Official TSM Group. Dibuat oleh Efri Saputra pada, (12/01/17) Kami yang mendeklarasikan diri dengan nama kelompok: “Tukang Sapu Madrasah” secara tersembunyi memutuskan untuk mengadakan pertemuan setiap minggu pertama di awal bulan. Gagasan awal bermula ketika kami merasa setelah lulus Aliyah (SMA) jarang berjumpa. Maka adanya ide brilliant ini disambut baik oleh semua teman-teman. Namun saya nggak akan mengulas hal nggak penting ini lebih jauh lagi. Karena yang terpenting adalah hal-hal yang kami lakukan di setiap pertemuan. Seperti di bulan ke-4 ini, kami memutuskan untuk piknik supaya nggak panik. Pilihannya nggak jauh-jauh. Terlebih sebagian besar dari kami masih mahasiswa, pahamlah isi kantongnya setebel apa? *digampar* Jadi, kami memutuskan untuk menyeberangi lautan ke daerah #WisataBanten. Yakni di Pulau Empat, Karangantu, Serang. Tiga hari sebelum keberangkatan, salah dua dari kami melakukan riset kecil. Mereka mencari informasi, berapa biaya yang dikeluarkan un...

CONGK(L)AK

Image
Udin merengek. Air mata dan ingusnya meleleh-menyatu. Suaranya sember tak ketulungan. Kalau sudah begini, teman-temannya akan segera membubarkan diri. Atau paling tidak, mereka akan masuk ke dalam rumah Santi. Tentu saja tanpa mengajak Udin. Ya, setiap sore, mereka menghabiskan waktu di rumah Santi untuk bermain Congklak. Alatnya sederhana. Hanya berupa papan seukuran kurang lebih setengah meter. Biasanya papan itu terbuat dari kayu jati ataupun plastik. Namun yang dimiliki Santi adalah yang disebutkan pertama. Pemberian dari almarhum bapak. Ada beberapa lubang di bagian badan itu pada dua sisinya. Masing-masing terdiri atas 7 lubang berukuran kecil dan termasuk di dalamnya 7 biji cangkang kerang. Sementara di dua bagian paling ujungnya ada 1 lubang berukuran lebih besar. Lubang itu dianggap lumbung atau tempat penyimpanan biji-bijian (bisa pula berupa cangkang kerang, kelereng, atau batu-batu kecil) yang diperolah si pemain. Seperti tadi, Udin sedang beradu tangkas dengan Wawa...

LAQAB NEGERIKU

Image
source image in HERE Tentang subuh yang gemuruh Tentang subuh yang memaruh Tentang subuh yang tiada luruh Tentangmu di waktu subuh Tentang siang nan garang menantang Tentang siang nan kokoh laiknya karang Tentang siang nan membara-arang Tentangmu di waktu siang Tentang malam yang tenteram Tentang malam yang mendekam-dalam Tentang malam yang menebar aroma garam Tentangmu di waktu malam Ini hanya tentang waktu yang singgah Pergi untuk kembali; kembali untuk pergi Gemah ripah loh jinawi; laqab nya Tongkat kayu dan batu jadi tanaman; syairnya Lautan membentang luas maritim Zamrud khatulistiwa melintang nol derajat salim Seribu pulau seribu candi intim Meramu-tamu kian halim Seantero bumi mendengung tentang pertiwi Segala macam rupa ada: rempah, ternak, padi Lenguh riuh tak berarti angkuh Hanya segelintir rasa yang kian tumbuh Menjelma cinta yang tak bernarasi Bagimu negeri Jiwa raga kami *Laqab = Julukan/gelar ...

Seorang Wanita dan Isi Tasnya

Hujan tak kunjung mereda. Wanita di sudut halte itu masih merunduk dalam. Mantel tebal yang dikenakannya seolah tidak berfungsi dengan baik. Terlihat dari jarak tiga meter tubuhnya tengah bergetar hebat. Satu meter ke depan bibirnya berwarna ungu lebam. Gigi putihnya saling bergemerutuk. Mata sembap dan lingkar hitam di kantung matanya menegaskan bahwa dia adalah wanita yang tiga hari terakhir tidur di halte ini. Badrun seorang petugas kebersihan. Dia bertugas memperindah jalanan kota dan menjauhkan dari sampah-sampah yang terserak. Seperti hari kemarin dan kemarin, dia mendapatkan shift malam. Seorang diri menangani tiga kawasan. Untuk lebih mudahnya, sebut saja dia harus membersihkan dari halte satu hingga bertemu halte ketiga atau terakhir di sepanjang jalan yang dia lalui. Dan di halte paling ujung sana seorang wanita selama tiga malam berturut-turut ditemukan Badrun tengah terlelap. Pakaian yang wanita itu kenakan masih serupa hari pertama ketika Badrun melint...

Dunia Maryam

Sudah dua pekan berlalu, tetapi tumpukan buku yang dibeli Maryam belum juga selesai dibaca. Hari ini, seorang tukang pos mengetuk pintu rumahnya—lagi. Sebuah benda dibaluti kertas berwarna coklat ada dalam genggamannya. Pak Pos tak banyak bertanya. Ia sudah dapat memastikan bahwa orang yang membukakan pintu itu adalah orang yang ia cari. “Wah, baru juga kemarin saya kemari.” Tangannya menyodorkan bungkusan kepada Maryam. Maryam hanya terkekeh malu. Usai itu Pak Pos pamit tanpa meminta tanda tangan penerima lagi. Saking seringnya mengantarkan kiriman untuk gadis berkulit putih itu. “Buku lagi?” sindir ibunya yang tiba-tiba keluar dari dapur. Maryam tak mau menanggapi ibunya. Gegas saja ia menaiki tangga menuju kamar. Kegemarannya memesan buku melalui media online sudah ia lakukan sejak satu tahun terakhir. Baginya buku adalah kawan yang paling setia. Buku selalu bisa menanggapi apa saja yang ia butuhkan atau ketika mencari jawaban. Buku tak akan marah sekalipun ia ...

Bertandang ke Jogjakarta (Sebuah Catatan Perjalanan)

Image
Setiap hendak bepergian, hal yang kudu dilakukan adalah prepare barang bawaan. Ya, biasanya itu yang emak ajarkan kepada setiap anak-anaknya. Bila saya tak menanggapinya, emak akan terus-menerus rewel hingga saya akhirnya menyerah dan mengiyakan ucapannya. Karena sejak kecil sudah diajarkan berlaku disiplin, jadilah ketika saya akan berangkat ke Jogjakarta (27-28 Maret 2014) begitu heboh dan sibuk sendiri. Tiket sudah dipesan tiga hari sebelum keberangkatan. Saya saat itu memilih menaiki kereta api. Barang-barang dalam tas dicek hingga lebih dari tiga kali untuk sekadar memastikan tidak ada barang bawaan yang tertinggal. Waktu keberangkatan tiba. Saya berangkat seorang diri ke Jogjakarta untuk mengikuti pelatihan menulis bersama teman-teman dari berbagai kota . Tepatnya di #KampusFiksi yang digadang oleh sebuah penerbitan asal Jogja, DIVA Press group. Acara yang diselenggarakan tiap dua bulan dan para peserta terpilih sebelumnya pernah melalui tahap kompetisi. Yakni berupa c...