[Ulasan Film] Oppenheimer: Luka, Penyesalan, dan Dunia yang Berubah

Official poster Imax

Score: 8,5/10.

"I feel I have blood on my hands.” 

Kalimat bernada penyesalan di atas diucapkan oleh Oppenheimer (Cillian Murphy) kepada Presiden Amerika Serikat ke-33, Harry S. Truman (Gary Oldman), pasca diledakkannya bom atom di Hiroshima, Jepang. 

Film besutan Christopher Nolan ini berdasarkan buku biografi Oppenheimer “American Prometheus" yang ditulis oleh Kai Bird dan Martin J. Sherwin yang terbit tahun 2005 lalu. Film ini berdurasi selama 3 jam, khas film Nolan lainnya. 

Menurut saya, film ini terlalu panjang durasinya, terlihat dari beberapa scene yang semestinya bisa dipangkas, dan cukup berfokus pada bagaimana Bapak Bom Atom itu meracik temuannya saja.

Tema film ini boleh dibilang cukup sensitif karena membahas perihal kejadian Perang Dunia ke-2 dan mungkin akan menyakiti beberapa pihak dan memunculkan trauma masa lalunya.

Fakta lainnya yang menyakitkan adalah bom itu dijatuhkan ketika Jepang akan menyerah dan Amerika tahu informasi itu tetapi negara adidaya tersebut tetap melancarkan Proyek Manhattan-nya bahkan seperti tak puas setelah membunuh 144.000 orang, Truman kembali menjatuhkan bom atom tiga hari kemudian ke Nagasaki dan menewaskan 74.000 orang. Belum termasuk orang yang terkena dampak radiasinya beberapa tahun kemudian. 

Sayangnya, seperti banyak kritikus lainnya sampaikan, dalam film ini tak menunjukkan "penyesalannya" dengan misalnya menampilkan adegan penduduk Jepang yang menjadi korban bom atom. Saya membayangkan mungkin bisa ditunjukkan lewat surat kabar dan semacamnya. Kematian manusia seolah tak lebih dari hanya sederet angka belaka. 

Terlepas dari itu semua, scene favorit saya adalah ketika Oppenheimer menemui Albert Einstein, terlihat sekali bagaimana ia menghormati fisikawan peraih nobel tersebut.

Selain itu, saya sangat salut dengan akting Cillian Murphy yang intens dan menjaga ekspresi wajahnya sepanjang film. Ia berhasil mentransfer rasa gamang, frustrasi, dan penyesalannya sekaligus kepada penonton. Caranya memerankan tokoh Oppenheimer layak diganjar piala Oscar. 

Cilegon, 21 Oktober 2023

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

[Ulasan Film] Kokuho: Kabuki, Ambisi, dan Perjuangan Hidup yang Mengorbankan Segalanya

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Catatan] Menjadi Manusia Utuh di Tengah Teknologi yang Kian Riuh

[Cerpen] Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini? (Majalah Pusat, Edisi 30/2025)

[Ulasan Film] Gadis Kretek: Kisah Cinta Menyesakkan Dada dan Sejarah Kelam yang Menyengsarakan