Posts

[Catatan] UWRF: Tanggal Istimewa, Konsep Mestakung dan Mimpi-mimpi

Image
image by www.ubudwritersfestival.com >>> daftar 15 penulis emerging UWRF 2017 <<< Seseorang mengirimi saya foto bertuliskan, “7umat, 7 7uli 2017” lewat pesan Whatsapp yang menjelaskan kalau hari ini memiliki tanggal cantik dan istimewa. Sesaat saya memikirkan untuk mengambil momentum dan minimal membuat status Pesbuk yang bagus agar menuai banyak like! —(okesip, pamer pangkal like! Just It! )—lalu saya batalkan di waktu yang nyaris bersamaan. Akhirnya saya anggap hari Jum’at ini semuanya biasa-biasa saja; pergi ke kampus, ketemu rektor, dosen pembimbing, ketemu teman, membaca buku dan sebagainya dan sebagainya. Menariknya, ketika di jalan pulang, seseorang dari jauh menghubungi nomor ponsel saya. Telepon itu sebetulnya sempat saya diamkan beberapa detik. Sebab, sewaktu melintasi jalan raya, tangan kiri saya sibuk membalas pesan dari seorang teman—sungguh, bagian ini tak baik bila dicontoh!—dan telepon masuk itu kepijit secara otomatis dan saya terus sa...

[SELF-DEPRESSION] Sulitnya Memahami Diri Sendiri

Image
foto saat berlibur ke Pantai Sawarna, Bayah, Banten. Saya termasuk orang yang sulit dimengerti; baik oleh orang lain atau oleh diri sendiri. Orang yang baru mengenal saya tentu tidak akan merasakan hal itu. Saya gemar mengganggu, sebagian orang merasa saya sedang menghiburnya dengan lawakan, dan saya senang mengurusi apa pun. Dalam hal ini, mengurusi berarti meng- openi , gemar mengomentari segala sesuatu. Kemarin hari seorang teman berkata, “De, nggak mau tah kayak begitu?” ia menunjuk anak abegeh yang sedang dimabuk asmara. Duduk bermesraan di sepeda motor sambil peluk-pelukan dan bercumbu. Herannya sejak dulu saya tak terlalu dibuat pusing atau minimal cemburu dengan perilaku macam itu. Bukan berarti tidak mengenal cinta, hanya saja, untuk mendapatkan hal-hal “receh” semacam itu kelewat mudah. Yang sedang jadi titik fokus saya sekarang justru soal mengejar cita-cita dan menggenapi ambisi juga impian-impian saya. Bila saya ulur benang kusut secara perlahan, orang-...

[PUISI] Kita Pernah Begitu Dekat-Ade Ubaidil (8 puisi tentang kehilangan)

Image
image by: [klik] Kita Pernah Begitu Dekat kita pernah begitu dekat pernah pula satu jalan ketika semesta tak kunjung memberi jawab kita pernah begitu lekat sewaktu sama mengira bahwa nasib tiada lagi bisa diubah kita pernah begitu likat hingga tak seorang pun berani bertanya dalam rentang waktu yang sedemikian lamanya Cilegon, 290317 # Kamu dari Jauh kemarin, aku melihatmu dari jauh kupandangi punggung dan rambut hitammu kupikir akan sama seperti dulu sewaktu kita masih bertukar ucap dan cecap bersama diam, kuikuti langkahmu yang berkelok dari satu hati ke hati lain... Cilegon, 170417 # Tentang Tatap ucap dan derap cecap dan dekap kini lesap dan gegap kalap dan pengap tiada lagi tatap pejam matamu lumpuhkan tegap tubuhku Cilegon, 290317 # Kita dalam Kota keringatmu ingatanku kering ingat aku dan kamu bencintapirindu bencintapirindu bencintapirindu kita merapal mantra bersama di sebuah kota yang terbuka or...

Pementasan Drama: “Kampung Cibelenger: Si Mekah Cintil” (Cilegon, 22 Ramadhan 1438 H.)

Image
para pemain drama, "Kampung Cibelenger: Si Mekah Cintil" (video youtube)  Part 1: Drama RISMA: "Kampung Cibelenger (Si Mekah Cintil)" (video youtube)  Part 2: Drama RISMA: "Kampung Cibelenger (Si Mekah Cintil)" (video youtube)  Part 3: Drama RISMA: "Kampung Cibelenger (Si Mekah Cintil)" Semacam Pengantar Menjadi penulis adalah satu hal, sedangkan menjadi sutradara adalah hal lain. Namun, keduanya saling berkesinambungan. Keduanya adalah impian saya. Tahun 2014-2015 lalu, saya sempat menulis beberapa scene untuk sebuah film berjudul, “ Mars ; Mimpi Ananda Raih Semesta ” yang digarap oleh Sahrul Gibran, sutradara asal Banten. Meski tak mengambil andil besar dan nama saya tidak ditulis di credit title (karena alasan satu dan lain hal) saya tetap bisa berterima, sebab kebanggaan bisa saya rasakan ketika film tersebut, dan scene-scene tambahan yang saya tulis tayang di seluruh bioskop Indonesia dan bisa dinikmati banyak orang. ...

[ESAI] Waspadai Krisis Generasi

Image
image by klik Ulama Pewaris Para Nabi Ketika Rasulullah SAW memberikan salam terakhirnya, ada para sahabat yang mewarisi segala keilmuan dan penyebaran agama Islam ke segala penjuru dunia. Setelah satu per satu para sahabat berguguran dan wafat, para ‘ulama-lah yang mengambil peranan. Pasca-wafatnya Rasulullah SAW., dan para sahabat, ulamalah yang menggantikan posisi beliau dalam membina umat dan menjaga keutuhan ajaran Islam sejak dahulu hingga detik ini, sebagaimana sabdanya, “ Al-‘ulama warasatul anbiya ”. Ulama adalah pewaris para Nabi. Secara etimologi, ulama merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim . Sedangkan kata   ‘alim   itu sendiri merupakan bentuk   ism   al-fa‘il   dari kata dasar   ‘ilm .   Secara sederhana dapat dipahami bahwa   ‘alim   adalah orang yang berilmu, karenanya   ulama   disebut sebagai   orang-orang yang   memiliki   ilmu   dalam artian generiknya.   Secara terminologi...

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

Image
poster official film, "The Words" (2012) Kasus Afi Nihaya Faradisa ini, yang belakangan ramai jadi perbincangan khususnya di timeline Facebook saya, mengingatkan saya pada film, “ The Words ” (2012). Seorang tokoh utama bernama Clayton Hammond yang dikenal sebagai penulis ternama. Kisah dibuka dengan scene saat Clayton menghadiri sebuah Public Reading untuk buku barunya. Ia mulai membaca buku tersebut yang kemudian fokus pada karakter fiksi bernama Rory Jansen, seorang penulis yang tinggal di New York City dengan pacarnya, Dora. Film ini boleh dibilang menerapkan cerita berbingkai macam buku kisah, Dongeng 1001 Malam ; di mana dalam cerita ada cerita, ada cerita lagi. Tokoh dalam buku karangan Hammond itu juga ternyata seorang penulis. Rory Jansen diceritakan belum menemukan formula sekaligus keberuntungannya. Saban hari menulis sebuah cerita untuk kemudian dikirim ke penerbit namun lagi-lagi yang diperolehnya hanya sebuah penolakan. Sampai di suatu hari, saat i...

[ESAI] Kakus, Budaya Antre dan Kejanggalan Keislaman Kita

Image
image by: XNY Mukadimah Bila mendengar sebutan ‘toilet’, sebenarnya seperti masih menyimpan kesan sebuah ruang kamar kecil atau kamar mandi yang bersih dan terawat. Kelas elitelah. Persis seperti apa yang ditulis Atih Ardiansyah yang dimuat Radar Banten Sabtu lalu, (27/5) berjudul, “ Kamar Mandi dan Persoalan Kebangsaan Kita ” yang masih bermain aman dalam mengkritisi keadaan tempat pembuangan hajat itu. Maka karenanya, saya memilih kata ‘Kakus’—masih lebih halus tinimbang jamban—untuk merepresentasikan keadaan kamar mandi yang tidak terawat dan buruknya na’udzhubillah di lingkungan kampus atau tempat ibadah di daerah Banten. Suatu kali, seorang kawan dari kampus lain—yang masih di daerah Banten—berkunjung ke kampus tempat saya kuliah. Ia bertanya di mana letak kakusnya. Saya beri ia arah tempatnya dan membiarkannya pergi sendirian. Tak lama ia menyusul saya yang menunggu di parkiran. Saat itu kampus cukup ramai lantaran sedang ada acara berlangsung yang mengundang banyak ...