Posts

[RESENSI] KUMPULAN ESAI: GADUH KARYA BOYKE PRIBADI (GONG PUBLISHING, 2015)

Image
Judul Buku : GADUH Jenis Buku : Kumpulan Esai Penulis : Boyke Pribadi Penerbit : Gong Publishing Tahun Terbit : Cetakan I, April 2015 ISBN : 978-602-9117-47-9 Tebal : xv + 335 halaman Harga : Rp. 50.000,- "GADUH: SUARA RAKYAT, KESEJAHTERAAN PEMIKIRAN, KEABADIAN" Pergolakan isu perpolitikan di tanah air kian deras mengalir di tahun 2014. Begitu kiranya yang ingin buku ini coba sampaikan—meski sesungguhnya tak ada puncak alias anti-klimaksnya dari tahun ke tahun. Sebab, sampai detik ini pun, dunia politik akan terus gencar melancarkan ‘serangan-demi-serangan’ yang kian terang-terangan tertangkap di mata awam (baca: rakyat). Perebutan kekuasaan seolah menjadi inti dari Pemilihan Umum (Pemilu), baik yang secara terbuka, apalagi tertutup tentu saja. Uniknya, dari sebagian mereka yang memilih diam untuk tidak menanggapi hal ini, ada seorang dosen yang berani bersuara melalui tulisannya yang kritis dan menggubris. Adalah Boyke Pribadi yang ...

NOVEL: KAFE SERABI (de TEENS, 2015)

Image
Judul: Kafe Serabi Penulis: Ade Ubaidil Editor: Ainini Cetakan: 1, Agustus 2015 Tebal: 188 hlm Penerbit: De TEENS Harga: Rp. 40.000,- SINOPSIS: Tubuh yang bongsor membuat Anggun menjadi bahan bully di kampus. Jika bukan karena Tata, sugar glider peliharaannya, serta Anton dan Mila, dua sahabatnya, Anggun rasanya ingin berhenti kuliah saja. Perkara cinta, jangan tanya. Anggun sudah di ambang putus asa dengan kejombolannya. Hingga dia sering bertanya-tanya: Apa mungkin aku ditakdirkan terlahir sebagai jomblowati? Hingga dia menemukan Kafe Serabi. Tempat yang mempertemukannya dengan Ken.  Apakah Ken adalah jawaban yang dikirim Tuhan untuk kegalauan Anggun selama ini? Di Kafe Serabi pula, Anggun mendapat jawabannya. ENDORSEMENT: “ Menu utama Kafe Serabi; sepotong kue persahabatan yang renyah dan secangkir kisah cinta yang manis. Silakan dicicip hingga lembar terakhir .” -Farrahnanda, penulis Novel Alles Liebe . “Persoalan...

Jembatan Cita-Cita

Image
  Di ruangan ini, aku seperti tengah menyaksikan video usang. Benakku kembali ke sebuah peristiwa yang terjadi persis dua puluh tahun lalu. Aku masih ingat jelas apa yang dikatakan sahabat kecilku itu. Serupa suara bocah usia tiga belas tahun pada umumnya. Tak beda. Namun ada sebuah cita-cita besar yang ia punya. Yang tak semua anak miliki, termasuk aku. Tentang masa depan sebuah tempat. Tempat kami dilahirkan. *** Kakiku berhati-hati meniti jembatan gantung ini. Kayu-kayunya rapuh. Bahkan, di beberapa bagian sudah rusak dan patah. Sehingga terlihat dari lubang itu aliran Sungai Ciberang yang deras. Setiap pagi, kami harus melalui jembatan ini untuk sampai ke sekolah. Letaknya ada di jalan raya yang bila ditempuh melalui jalur darat maka akan menghabiskan waktu selama dua jam. Itu sebabnya sejak kecil, setiap kali kami akan ke kota, ibu dan kakakku selalu melalui jembatan ini. Jalur penghubung antara kampung Waru, desa Sangiangtanjung dan desa Pasirtanjung. “Tunggulah...

BANK ENDONESA

Image
image by: google.com Blok 3 “Apa lu yakin mau lewat sini?” “Tenang aja, aman, kok.” “Lu simpan mobilnya di mana?” “Itu dia masalahnya, gue lupa!” “Dasar gundul! Nggak lagi-lagi gue kerjasama bareng, lu!” Blok 2 “Nggak sia-sia aku punya kekasih sepertimu, Mas.” “Sudah lepaskan dulu pelukanmu. Kita belum aman!” “Maksudmu? Di sini sepi, kok.” “Bukan itu, tapi...” Blok 3 “Gue mulai ragu.” “Tenang aja!” “Tenang kepala, lu! Bangsat! Kita udah hampir sampai ujung gang, tapi mana mobilnya?” “Harusnya ada di sini, Bos. Gue simpen di dalam ruko bekas. Kalau nggak salah di depan sana.” “Singkirin tangan lu di depan muka gue! Masalahnya gue denger sirene polisi dari tadi. Agak cepat sedikit jalan lu!” “Bagaimana mau cepat?! Kaki gue masih gemetaran, maklum pengalaman pertama beroperasi sendirian.” “Ngomong apa, lu?! Sendirian dari hongkong?! ” “A... ampun, Bos. Please, singkirin pistol itu dari kepala gue!” “Berpencar itu cara supaya nggak a...

Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen (Majalah FEMINA edisi 14, 04-10 April 2015)

Image
Kakiku mulai lelah melangkah. Hampir setengah jam aku melalui jalan setapak ini. Namun sepertinya tujuanku belum segera menemui titik temu. Kampung Cibeber. Di tanah inilah aku dilahirkan. Tiga tahun adalah waktu yang lama bagiku. Setidaknya ceruk kerinduan di hati ini kian terisi penuh ibarat air di dalam gelas yang terus mengalir. Luber. Meluap ke segala arah. Aku tak mau terus-menerus menyiksa diri. Seturunnya aku dari kendaraan umum angkutan kota di persimpangan tadi, pemandangan yang disuguhkan masih sama seperti saat aku merelakan diri untuk meninggalkan kampung halaman ini. Aroma asri nan perawan masih bisa kuhirup hingga ke rongga dada. Bahkan sengaja aku menolak tawaran tukang ojek di pangkalan depan gapura masuk tadi, hanya untuk menapak tilas kenanganku dengan berjalan kaki. Kampung ini sulit untuk dilupakan. Sawah-sawah luas terbentang di kanan-kiri bahu jalan. Lenggok padi lincah bergurau dengan angin. Burung-burung fasih bersenandung menyambut wajah penuh ...

REFRESHING OTAK KE PULAU EMPAT, KARANGANTU, SERANG-BANTEN

Image
Logo Official TSM Group. Dibuat oleh Efri Saputra pada, (12/01/17) Kami yang mendeklarasikan diri dengan nama kelompok: “Tukang Sapu Madrasah” secara tersembunyi memutuskan untuk mengadakan pertemuan setiap minggu pertama di awal bulan. Gagasan awal bermula ketika kami merasa setelah lulus Aliyah (SMA) jarang berjumpa. Maka adanya ide brilliant ini disambut baik oleh semua teman-teman. Namun saya nggak akan mengulas hal nggak penting ini lebih jauh lagi. Karena yang terpenting adalah hal-hal yang kami lakukan di setiap pertemuan. Seperti di bulan ke-4 ini, kami memutuskan untuk piknik supaya nggak panik. Pilihannya nggak jauh-jauh. Terlebih sebagian besar dari kami masih mahasiswa, pahamlah isi kantongnya setebel apa? *digampar* Jadi, kami memutuskan untuk menyeberangi lautan ke daerah #WisataBanten. Yakni di Pulau Empat, Karangantu, Serang. Tiga hari sebelum keberangkatan, salah dua dari kami melakukan riset kecil. Mereka mencari informasi, berapa biaya yang dikeluarkan un...