[Cerpen] Sebelum Prajurit Kalah Perang
credit photo by: Pixabay —kepada Hilman Lemri Suatu hari, aku mengatakan kalau cerpen yang diawali dengan kalimat pembuka “suatu hari”, adalah cerpen yang buruk. Lemri, kawanku, setuju. Lalu kami merasa bangga dan puas, seolah bacaan kami selama ini tidak sia-sia. Ia tertawa dan aku pun. Namun kemudian, waktu semakin larut dan percakapan kami semakin intim dan serius. Salah seorang dari kami melemparkan tanya, “Apakah yang selama ini kita cari di dunia kepenulisan sudah ketemu?” Seusai baris kalimat itu mencuat, suara pengajian yang terdengar dari pengeras suara di masjid berhenti. Kami masih saling diam, belum mendapatkan jawaban yang tepat. Lemri memulai lebih awal memantapkan diri menjadi penulis. Tiga tahun setelahnya aku menyusul. Kurang lebih sepuluh tahun kami jadikan menulis sebagai profesi. Buku-buku terbit, karya-karya bermunculan di media, diundang sana-sini mengisi pelatihan menulis dan menghadiri perhelatan sastra baik lokal maupun nasional. Tetapi, apa itu ...