Posts

Showing posts from March, 2019

[Cerpen] Narayya dari Moor (Media Indonesia, 17 Maret 2019)

Image
Media Indonesia Angin gurun berkesiur pada telinga Naseer. Matanya lekas terbelalak, memastikan sekitar tempatnya bersembunyi aman dari kejaran musuh. Langit masih gelap. Napasnya perlahan ia atur. Nyeri di paha dan punggungnya terasa lagi. Lelap dan kantuknya hilang seketika. Darah yang mengucur di kakinya mulai melambat. Kain putih yang diikatkan oleh Narayya bekerja sebagaimana mestinya. Meski malam, ia bisa memastikan kain itu telah berubah warna menjadi merah legam. Naseer perlahan bangkit. Ia ingin memastikan apakah Narayya sudah terjaga. Agak pincang, kakinya membawa ia ke sebuah goa kecil, tempat Narayya merebah lelah. Sebelum ia betul-batul masuk, pandangan ibanya sekali lagi ia tujukan pada kuda hitam yang membawa mereka berdua sampai ke sana. Luka akibat lemparan panah dan tombak tak sedikit menggores di tubuhnya. Namun ia yakin, kuda kesayangannya itu kuat. Ramuan tumbuhan yang dibuat Narayya sepertinya cukup ampuh. Sebab jelas sekali kuda itu tenang, tidak lagi...

[Esai] Uji Kompetensi Calon Pemimpin

Image
Image by indiatoday.in Selepas ikamah, jamaah salat magrib merapatkan barisan. Satu di antara mereka maju ke tempat pengimaman atas kehendaknya sendiri. Tidak ada yang protes, paling tidak secara verbal. Barisan terbentuk dan salat berjamaah pun dimulai. Sewaktu sang imam membaca surat al-fatihah, terasa ada yang janggal, kurang sempurna. Bacaan ayat sewaktu ibadah salat magrib mestilah jahr (dengan suara keras). Ia tidak begitu fasih membaca ayat, juga sewaktu memproduksi huruf dari rongga tenggorokannya semisal huruf ‘ain pada kalimat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in . Selain itu ia juga mesti memenggal ayat ke-7 saat berjumpa wakaf, bila memang tidak kuat napasnya hingga akhir ayat. Sayangnya ia terus saja membaca dengan lantang hingga pada kalimat, “ walaa dhdhaalliin ” ia kehabisan napas. Contoh kasus di atas bukanlah yang pertama terjadi dan biasa kita temukan di masjid-masjid atau surau yang kita singgahi. Banyak orang merasa kompeten dalam satu bidang b...

[Ulasan Film] Yowis Ben 2: Pecahnya Berantakan!

Image
Image by: Starvision Salah satu hal yang bisa menyatukan banyak orang adalah komedi. Itu yang berhasil dilakukan oleh Fajar Nugros dan Bayu Skak lewat sekuel film Yowis Ben 2 yang tayang perdana kemarin, 14 Maret 2019. Berbeda dengan Yowis Ben 1 yang bercerita tentang perjalanan terbentuknya sebuah Band anak SMA, di film keduanya ini jalinan kisah dan konfliknya lebih kompleks. Fajar Nugros mengembangkan cerita lewat karakter-karakter yang muncul. Kalau di film pertama mereka hanya berada di lingkungan Jawa (Malang), kali ini dihadirkan banyak tokoh berlogat Sunda dan Bali. Bahkan sampai menggunakan setting lokasi di Kota Bandung. Cobaan orang-orang yang sedang berusaha adalah menghadapi kegagalan. Bagaimana cara kita merespons keadaan terburuk dalam hidup kita? Itulah yang dialami Bayu dan kawan-kawan band-nya. Ia harus mengorbankan banyak hal demi meraih cita-citanya. Yang menarik, ketika Yowis Band mendapatkan label dan bertemu seorang produser musik, lalu mereka ditaw...