Posts

Showing posts from 2018

[Cerpen] Percakapan di Pesisir (Rakyat Sultra, 27 Desember 2018)

Image
“SEMAKIN banyak orang mengutip ucapanmu, itu menandakan bahwa kau sudah terkenal!” “Berhenti menggodaku.” “Aku serius!” “Aku juga serius!” Kau tahu? Ketika dua orang tengah berbincang dan melontarkan kalimat dengan nada kencang, yang terjadi di detik selanjutnya adalah saling diam. Membungkam. Rumah-rumah warga kampung ditelan malam. Laut tampak hitam, legam. Dua orang yang duduk bersisian itu tak saling pandang. Lebih tepatnya mereka mulai tak saling peduli. Kalaupun ada seseorang di tengah laut yang tenggelam atau kapal yang karam, mereka pasti tak akan menggeser posisi duduknya barang satu depa. Sungguh suram. Sungguh runyam. Ketika jam kantor usai, mereka berjanji bertemu di pesisir pantai kota C. Pantai yang terkenal dengan panorama alamnya. Biasanya mereka menghabiskan waktu untuk memuaskan matanya menikmati mentari terbenam (bermaksud menghindari kata asing: baca, sunset). Tetapi sore itu berbeda. Ada yang harus diselesaikan, kata lelaki yang masih mengenakan d...

[Esai] Festival Kitab Kuning di Banten (dpk.bantenprov.go.id, November 2018)

Image
image by ibtimes.co.uk Awal September lalu, saya menghadiri acara Festival Seni Multatuli 2018 di Museum Multatuli, Lebak, Rangkasbitung. Sebuah konsep acara yang mengangkat satu nama tokoh pergerakan di masa kolonial. Melalui novel masterpiece -nya yang berjudul, Max Havelaar ( 1860 ) , Multatuli, atau yang bernama asli Eduard Douwes Dekker menolak sistem pemerintahan dan mengkritik perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda. Padahal, ia sendiri lahir di Amsterdam, Belanda. Berkat karya heroik itulah namanya dikenang hingga 100 tahun kepergiannya. Berbagai tema diskusi dan pertunjukkan seni ditampilkan, mulai dari simposium pascakolonial bersama sejarawan dan budayawan, musikalisasi puisi, drama musikal, menyanyikan lagu-lagu perjuangan hingga menerbitkan buku antologi puisi berjudul, Kepada Toean Dekker (FSM, 2018) , yang ditulis oleh penyair se-Indonesia yang telah dikurasi sebelumnya oleh dewan juri yang kompeten. Artinya, kita patu...

[Esai] 18 Tahun Banten, Mendewasalah!

Image
image by: www.radarbanten.co.id Terlahir dan besar di Provinsi Banten tak berarti saya kebal bacok dan mampu membengkokkan besi baja dengan tangan kosong. Kemistisan dan kejawaraan di wilayah taklukan Kerajaan Cirebon (1472-1473) ini masih sangat kental. Sering kali, ketika saya sedang di luar kota, iseng bertanya pada beberapa orang, “apa yang kamu tahu tentang Banten?” hampir dari mereka menjawab sama: debus. Kesenian debus memang sangat dikenal karena memiliki daya magis dan daya tarik tersendiri. Ketika daerah-daerah lain memiliki budaya dan kesenian di daerahnya berupa seni tari dan alat musik, warga Banten dengan gagahnya datang membawa parang lalu digorok-gorokkan ke lehernya sembari berseloroh, “ saguru saelu ulah ngaganggu ” di atas pentas. Stereotip Banten sebagai “tanah jawara” masih kita dengar hingga hari ini. Bahkan, artis-artis bila sedang di acara televisi, selalu mengatakan “berguru di Banten” ketika berlagak menunjukkan kekuatan fisiknya. Apakah kita sebagai ...

[Esai] Melestarikan Bahasa Jawa Banten lewat Puisi (Bantennews.co.id, 3 November 2018)

Image
image by: www.tribunnews.com Membicarakan puisi seperti membicarakan seorang kekasih, tak pernah ada ujungnya; yang satu selalu menghadirkan makna baru, satu lainnya selalu memberikan kenikmatan yang baru. Kedua hal itu perlu dimiliki seorang kekasih dan ketika hendak menghadirkan puisi. Agar selalu ada rasa penasaran yang terus timbul yang membuat hubungan baik terus terawat. Hal demikian diamini oleh Linda Christanty, seorang jurnalis dan sastrawan, ia menulis, “semakin banyak yang kuketahui tentang dirinya, semakin ia tak menarik lagi. Hubungan kita bisa panjang, karena aku tak tahu seluruhnya tentang dirimu”. Dewasa ini, orang-orang semakin keranjingan puisi. Bisa kita temui di media-media sosial yang begitu menjamur. Netizen gemar mengutip puisi seorang penyair untuk merayu kekasihnya atau membuat orang-orang di sekelilingnya kagum. Apalagi setelah ada banyak film-film remaja yang tokohnya jago membuat kalimat-kalimat puitis macam di film Ada Apa Dengan Cinta atau yang...

[Ulasan Buku] Bijaksana dengan Bersikap Bodo Amat

Image
image by: www.shopee.co.id Judul       : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat Penulis    : Mark Manson Penerbit : Grasindo Cetakan : ke-7 Agustus, 2018 Tebal      : 258 halaman ISBN     : 978-602-452-698-6 Banyak sekali dengan mudah kita temui buku-buku motivasi yang mengajarkan pembacanya agar menjadi sukses, kaya raya dan hidup berkecukupan. Seolah kebahagiaan manusia adalah menjadi sukses dengan harta dan material belaka. Sebagian lainnya memang ada yang menulis tentang kiat menjadi bijaksana dan mapan. Namun, selama ini, perspektif yang dipakai selalu sama, yakni kacamata positif. Kita seolah bersepakat untuk mengatakan bahwa satu perilaku negatif tetap akan bernilai negatif. Beruntungnya, Mark Manson menemukan perspektif lain dari satu kata negatif: bodo amat . Dalam buku pertamanya ini, Mark melihat bahwa sikap bodo amat adalah sebuah seni. Dengan memakai tagline , “pendekatan ya...

[Esai] Pamitnya #CokiMuslim adalah Kemenangan #GolonganKami

Image
image by @iyddesign Saat lagi asyik berselancar di Instagram, tiba-tiba postingan Coki Pardede muncul di news feed saya. Dia mengunggah video berjudul, “ Debat Kusir - Episode Terakhir ” dengan tumbnail bertuliskan “Coki Muslim Pamit” dan dua topi tergeletak di meja. Segera saya klik, karena video yang ada mereka biasanya jaminan kelucuan nan HQQ. Tapi, sepanjang video berdurasi 7.05 menit itu tak nampak tektok jokes dari mereka. Keduanya bicara serius dan mengklarifikasi soal kasus yang sedang santer menimpa mereka. Di menit terakhir mereka menyampaikan undur diri dan pamit dari dunia per-standup-an. Di beberapa detik terakhir, saya masih menunggu “tapi boong” dan #hiyahiyahiya dari mulut jail Muslim maupun Coki—seperti video sebelumnya ketika membahas Atta Halilintar. Sialnya nihil. Saya kembali ke akun instagram mereka, rupanya semua postingan mereka yang berkaitan dengan MLI telah mereka hapus/disembunyikan. Bahkan cuma ada satu video itu di galeri Instagram Coki. Men...