[Cerpen] Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini? (Majalah Pusat, Edisi 30/2025)
Sepulang menghadiri upacara Macaru Wraspati Kalpa Agung Yamaraja Panca Kelud [1] di Tukad Badung, hujan turun dari langit yang pucat. Joga menengadahkan kepalanya ke langit sambil berjalan menuju Pantai Sanur seorang diri. Menurut Sang Hyang Widhi hujan adalah berkah melalui Dewa Indra [2] , Joga ingin berpikir demikian. Namun, bulan lalu istrinya meregang nyawa karena air bah yang meluap membanjiri Denpasar hingga mengubah pandangannya terhadap hujan. Ia berusaha berdamai dengan datang mengikuti upacara ini sebagai simbol guru piduka [3] karena ia sadar ini bukanlah murka Sang Hyang Widhi , tetapi karena faktor alam yang dirusak oleh ketamakan manusia. “Bagaimana jika aku mati hari ini?” tanya Luh Githa suatu hari di perayaan setahun pernikahan mereka. Joga terkejut dan tidak siap mendengar pertanyaan itu. “Kenapa tiba-tiba tanya begitu? Jangan rusak hari bahagia kita, Sayang,” ucap Joga berusaha menahan diri. Ia mengalihkannya dengan mempersembahkan sebuket bunga...