Posts

Showing posts from February, 2026

[Ulasan Film] Marty Supreme: Ambisi dan Ketidaknyamanan yang Menyenangkan

Image
  Skor: 8,8/10 Marty Supreme (2025) adalah film komedi-drama olahraga Amerika yang terasa seperti perayaan atas kegigihan—dan sedikit kegilaan—seorang manusia yang menolak biasa-biasa saja. Marty, karakter utama yang dimainkan oleh Timothée Chalamet benar-benar luar biasa meyakinkan. Ia memerankan versi fiksi yang terinspirasi dari Marty Reisman dengan kadar oportunisme yang bikin geleng-geleng kepala. Entah berapa lama proses pendalaman karakternya, tapi ia berhasil jadi sosok yang menghalalkan hampir segala cara demi obsesinya menjadi atlet pingpong terbaik dunia. Menyebalkan? Banget. Tapi di saat yang sama, saya kagum setengah mati pada caranya memainkan karakter yang charming sekaligus manipulatif. Sejak awal saya tidak dibuat peduli. Tidak empati. Semua masalah yang datang terasa sebagai konsekuensi dari ulahnya sendiri. Dia beruntung dan apes di waktu yang bersamaan—dan justru di situ letak kegelisahannya. Film ini tidak berusaha membuat kita simpati, tapi memaksa kita menata...

[Catatan] Menjadi Manusia Utuh di Tengah Teknologi yang Kian Riuh

Image
Pada suatu pagi di tahun 2014, saya mendorong rak kayu kecil ke depan teras rumah. Rak itu dibuat oleh bapak dan temannya dari kayu bekas, dilengkapi roda agar mudah dipindahkan. Di atasnya, berjajar koleksi buku-buku pribadi saya. Maksud hati ingin meminjamkan buku, sayangnya t ak satu pun orang mampir. Mungkin mereka mengira buku-buku itu dijual. Ada rasa kecewa, tentu saja. Walaupun kemudian s aya mencoba memahami bahwa tidak semua orang tumbuh dengan kebiasaan membaca.  Bahkan di rumah saya sendiri, buku bukan prioritas utama. Karena hal itulah j ustru saya merasa semakin terpanggil untuk membuka ruang yang belum ada. Saya ingin membuktikan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, berhak mendapat kesempatan untuk mengenal dunia lewat buku. S aya tidak menyerah. Saya mencetak selebaran bertuliskan: “Baca Buku Gratis di Rumah Baca Garuda ” dengan daftar jenis buku-bukunya. B ersama keponakan saya, kami tempelkan pengumuman itu di tiap gang di kampung . Keesokan harinya, ...

[Ulasan Film] Kokuho: Kabuki, Ambisi, dan Perjuangan Hidup yang Mengorbankan Segalanya

Image
Image by imax.com Skor: 8,8/10 Setiap kali kelar nonton film tentang seniman yang gigih meraih cita-cita dan impiannya, dada ini rasanya sesak. Tidak bisa tidak untuk membayangkan bahwa tokoh utama di film itu adalah saya, dan memang inilah dunia yang harus dijalani dan layak diperjuangkan—sampai mati. Hingga hari ini perasaan itu masih belum berubah. Kokuho adalah film drama epik Jepang tentang perjalanan hidup Kikuo, anak Yakuza yang yatim piatu dan dididik menjadi aktor teater Kabuki legendaris. Selama 50 tahun, ia bersaing dengan Shunsuke, putra angkat gurunya, dalam intrik seni, tradisi, dan pengkhianatan demi mencapai gelar tertinggi "Kokuho" yang bermakna Harta Karun Nasional. Film berdurasi hampir 3 jam ini sepertinya akan lebih baik jika dijadikan serial seperti "Bule Eye Samurai" atau "Shogun" yang mengisahkan tentang seni dan budaya Jepang. Alasannya jelas, karena film Kokuho terlalu banyak bagian yang dipersingkat, bahkan di durasi sepanjang it...

[Cerpen] Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini? (Majalah Pusat, Edisi 30/2025)

Image
   Sepulang menghadiri upacara Macaru Wraspati Kalpa Agung Yamaraja Panca Kelud [1] di Tukad Badung, hujan turun dari langit yang pucat. Joga menengadahkan kepalanya ke langit sambil berjalan menuju Pantai Sanur seorang diri. Menurut Sang Hyang Widhi hujan adalah berkah melalui Dewa Indra [2] , Joga ingin berpikir demikian. Namun, bulan lalu istrinya meregang nyawa karena air bah yang meluap membanjiri Denpasar hingga mengubah pandangannya terhadap hujan. Ia berusaha berdamai dengan datang mengikuti upacara ini sebagai simbol guru piduka [3] karena ia sadar ini bukanlah murka Sang Hyang Widhi , tetapi karena faktor alam yang dirusak oleh ketamakan manusia. “Bagaimana jika aku mati hari ini?” tanya Luh Githa suatu hari di perayaan setahun pernikahan mereka. Joga terkejut dan tidak siap mendengar pertanyaan itu. “Kenapa tiba-tiba tanya begitu? Jangan rusak hari bahagia kita, Sayang,” ucap Joga berusaha menahan diri. Ia mengalihkannya dengan mempersembahkan sebuket bunga...