Posts

Showing posts from March, 2018

[Cerpen] Seni Hidup Lelaki Bujang (Kibul.in, 20 Maret 2018)

Image
image by: kibul.in Di usia ke-27 saya dipaksa khawatir soal pernikahan. Bagi saya, dewasa bukan soal angka. Dan kalau menikah dianggap tanda dari fase kedewasaan seseorang, saya lebih baik ke Timbuktu saja, menemani Donald Bebek yang, meski cerewetnya minta ampun, ia masih lebih baik ketimbang bacot tetangga yang gemar bertanya, “kamu kapan nikah?” atau “kapan nyusul ?”—yang kecepatannya bisa melebihi cahaya ketika hari lebaran tiba. Saya ingin cari angin segar, kata saya sebelum ibu bertanya, “mau ke mana?” seperti biasanya. Kunci saja, saya bawa duplikatnya, susul saya sebelum resmi menutup pintu dengan rapat—dan sebelum pertanyaan kedua ibu mencuat. Ini malam ketiga saya ada di rumah, dan tiga kali pula saya menemukan sepah buah seri bergelimpangan di terasnya. Mulanya saya kira bulatan tak sempurna yang tak lebih besar dari kancing baju itu adalah tahi wirog atau kambing atau keduanya. Namun lima menit sebelum magrib tadi, saya ingat betul waktunya lantaran sedang menonto...

[Cerpen] Budi Bertanya Soal Pancasila

Image
foto pribadi: haul kakek dan kakak Pak Ruslan sudah tiba di depan sekolah. Bel pulang berbunyi. Pandangannya tertuju pada ruang kelas 3, di sanalah anak semata wayangnya belajar. Anak-anak berebut keluar kelas. Satu di antaranya terselip bocah gempal berlarian. Ia langsung menuju gerbang sekolah. Senyumnya rekah. “Halo Ayah!” “Hai, Budi. Ayo lekas naik motor. Kita pulang,” sahut Ayahnya. Mereka pun gegas menuju rumah. Ketika sampai rumah, Ibunya bertanya, “Bagaimana sekolahmu? Ada PR, nggak?” Budi menjawab dengan wajah yang lesu dan tampak capek. “Ada, Bu. Tentang Pancasila. Budi hapal, tapi Budi nggak ngerti.” “Memangnya apa tugasnya?” tanya Ayah nimbrung. “Bu Guru minta kita menjelaskan maksud dan nilai-nilai dari setiap bulir Pancasila.” Mendengar itu ayahnya tersenyum, lalu berkata, “Oh, gampang, nanti ikut Ayah ngeriung habis Ashar.” Budi tidak mengerti maksud ayahnya, apa hubungan dari nilai Pancasila dengan ngeriung, tapi toh ia akhirnya nurut juga. ...

[Esai] Seni Menjadi Tua dan Bijaksana (Biem.co, 03 Maret 2018)

Image
image by: biem.co Ciri paling mendasar bahwa seseorang sudah tua adalah ketika ia mengingat-ingat masa lalunya. Masa kejayaannya selama ia hidup di dunia ini. Barangkali, itulah cara ia agar, paling tidak, merasa bisa hidup lebih lama. Sebab ia mulai ditunjukkan batas-batas masa depannya lewat suara batuk yang kelewat sering, kepala gampang pening, minus mata bertambah, rekreasi penyakit dalam tubuh dan anggota badan yang lambat ketika bergerak. Seno Gumira Ajidarma (SGA) melalui bukunya, Kentut Kosmopolitan (Koekoesan, 2008) berhasil menangkap fenomena tersebut. Di salah satu esainya berjudul, “Menjadi Tua di Jakarta” (hal. 39) berbicara mengenai kehidupan orang-orang yang hidup di kota metropolitan. Manusia seolah dihidupkan hanya untuk bekerja. Melangkahkan kaki, mengendarai sepeda motor atau mobil dengan tergesa-gesa. Tidak ada waktu untuk memandang sekitar, berinteraksi dengan orang-orang yang ditemui, atau bahkan sekadar menghirup udara segar. Saking sibuknya ia sampai...