[Cerpen] Preman Pasar Kranggot

3:58 PM

image by shutterstock.com

“Terima kasih kepada pemerintah, Kepala Desa, Pak RT, dan Pak RW atas bantuannya...,” ucap Juki di depan kamera. Belum selesai ia merekam video, Mahmud menyahut.
“Juk, emang lu udah dapat bantuan?” Mahmud garuk-garuk kepala kebingungan.
“Belum, Mud. Ini gue lagi latihan aja dulu. Siapa tahu dapat, kan gue udah punya stok video ucapan terima kasihnya.” Juki cekikikan. Mahmud menepok jidatnya kesal. Jam-jam segini, bisa-bisanya si Juki bikin Mahmud sebal.
“Mau ke mana, Mud?” tanya Juki yang gantian bingung melihat Mahmud berjalan keluar gudang bekas itu.
“Nyari makanlah. Pusing gue sama lu,” Mahmud pergi meninggalkan Juki yang masih melongo.

Dua preman itu belum berkeluarga. Mereka tinggal di kosan yang sama. Jangan ditanya sudah berapa bulan menunggak. Cari kerja, bagi mereka sama sulitnya dengan menemukan jarum di tumpukan jerami. Lamaran kerja sudah tak terhitung jumlahnya yang mereka ajukan ke perusahaan-perusahaan. Bahkan, seringkali duit makan mereka digunakan untuk keperluan fotokopi ijazah dan segala tetek-bengeknya itu.
Menjadi preman bukanlah keinginan mereka. Semua terpaksa dilakukan demi bertahan hidup.
“Mau cari makan di mana, Mud?”
“Ke tempat biasa aja, di pasar Kranggot.”
Juki tampak berpikir. Lalu dia bertanya, “Emangnya, masih buka? Kan lagi ada corona, Mud.”
“Udah liat aja dulu. Mau ikut kagak?” tanya Mahmud sembari menaiki motornya.
“Ikutlah!” Juki segera membonceng ke bagian belakang. Kebanyakan preman motornya sangar-sangar dengan suara knalpot yang cempreng. Ternyata itu tidak berlaku buat dua orang ini. Mereka malah menaiki motor matic warna ungu. Sangarnya jadi berkurang jauh.
“Berangkat!”
***
Mereka telah sampai di Pasar Keranggot. Mereka memang sering nongkrong di sana sebagai preman pasar. Tapi nahas, gara-gara corona, wabah virus yang sedang menyerang seluruh dunia, membuat aktivitas manusia berubah. Termasuk di pasar. Pagi menjelang siang itu, pasar sepi. Hanya beberapa yang membuka lapak dagangan tapi nyaris tidak ada pengunjung.
“Kagak ada yang ke pasar, Mud! Apes banget!”
“Corona sialan! Udah mah cari kerja susah. Eh, dia nambah-nambahin bikin kita makin susah cari makan!” gerutu Mahmud.
Selagi mereka sedang misuh-misuh, ada Andi, anak remaja yang baru keluar dari ATM.
“Diem, Juk. Kita palak aja tuh bocah.” Mahmud menunjuk ke Andi. Terlihat dia segera memasukkan uang dan ATM ke dalam tas selempangnya. Juki yang badannya lebih besar dari Mahmud maju lebih dulu. Mereka berdiri di depan dan belakang Andi.
“Wah, abis narik duit, nih. Bagi dong,” goda Juki. Andi tampak ketakutan melihat badan kekar mereka.
“Iya, mending kasih kita aja, kamu ‘kan bisa narik lagi. Sini!” paksa Mahmud. Dia menarik tas selempang Andi. Terjadilah tarik-menarik tas. Namun nahas, seseorang yang memiliki postur tubuh lebih besar dari mereka, berdiri di belakangnya.
“Ayah, tolong!” seru Andi kepada pria tinggi besar itu. Juki dan Mahmud masih bingung, sampai akhirnya bahu mereka ditepok oleh ayah Andi.
“Diem, lu!” ucap Juki sembari menengokkan kepalanya ke belakang. Dia ketakutan dan wajahnya seketika pucat.
“Mud, liat belakang!” suruh Juki dengan nada suara gemetar.
“Ah, cemen banget lu. Biar gue yang lawan!” saat Mahmud menoleh, dia gentar melihat tato yang memenuhi tubuh Baron, ayah Andi.
“Aaampuun, Baang!” Mereka tidak tahu kalau Andi adalah anak Baron, mantan preman yang ditakuti pada masanya. “Gue kira dia bukan anak Bang Baron,” tambah Juki yang pangling melihat wajah Andi.
“I-iya, Bang. Maafin kita. Ini tadi cuma bantuin anak Bang Baron ambilin tasnya yang jatuh,” mohon Mahmud memberi alasan.
“Bener begitu, Di?” tanya ayahnya dengan suara berat yang terdengar sangar. Andi, karena melihat kasihan kepada dua preman itu, akhirnya dia mengiyakan ucapan Mahmud.
“Iya, Yah. Andi juga ngiranya mereka mau ambil uang Andi. Ternyata dia baik mau balikin tas yang jatuh,” kata Andi tak ingin ada keributan. “Terima kasih, ya, oom,” tambahnya kemudian berjalan ke mobil yang diparkir tidak jauh dari ATM itu. Wajar mereka tidak tahu Andi anak Baron, karena selama ini Andi tinggal bersama ibunya.
“Awas, ya, kalau macam-macam sama anak gue!” ancam ayah Andi sembari memberi isyarat gorok leher.
“I.. iya, Bang. Maaf,” ucap Juki yang nyalinya mulai ciut.

Andi yang sudah ada di mobil segera memanggil ayahnya. “Ayah, hayuk. Sebentar lagi azan. Kita harus segera ke masjid,” ucap Andi. Ayahnya pergi meninggalkan Juki dan Mahmud dengan tatapan yang penuh ancaman. Meski memiliki badan besar, Juki dan Mahmud termasuk preman baru alias karbitan.
***
Hari semakin siang. Juki dan Mahmud belum juga dapat target. Mereka belum makan sejak pagi. Pangkalan yang biasa dia palak, seperti pasar dan rumah makan, hari itu tutup gara-gara wabah pandemi virus corona. Imbauan pemerintah juga meminta masyarakat untuk jaga jarak dan tidak pergi jauh-jauh. Kalau tak ada keperluan yang mendesak lebih baik di rumah saja.
“Betul-betul membunuh pekerjaan kita, ya, Juk!”
“Iya, pemerintah nggak merhatiin kita sebagai preman, nih,” keluh Mahmud yang duduk di sebuah warung kopi yang sedang tutup.

Azan zuhur berkumandang. Meski sudah diberi imbauan untuk menjaga jarak, beberapa warga masih melakukan ibadah berjamaah di masjid. Namun mereka semua mengenakan masker. Juki dan Mahmud memerhatikan mereka yang berjalan menuju masjid.
“Punten, Kang,” ucap Ruslan, tetangga kosan Juki dan Mahmud. Mereka kikuk. Keduanya membalas hanya dengan anggukan kecil.
Mahmud mengeluarkan rokok dari dalam sakunya. Juki yang melihat itu mulai mendekati Mahmud.
“Bagi, Mud, sebat—”
“Kagak ada lagi, ini tinggal satu-satunya,” dengus Mahmud kesal.
“Ya, elah, pelit banget, sih, lu. Entar kalau gue punya, gue ganti, deh,” bujuk Juki sembari menarik-narik lengan baju Mahmud.
“Gue sundut, lu, ya. dibilang cuma tinggal satu, kagak percaya lagi.”
“Ya, udah, kalau gitu join aja.”
“Nih, nih, ambil sama lu. Ogah gue barengan, corona congor lu!” Mahmud menyodorkan rokoknya yang baru diisap seperempat dengan terpaksa. Juki menerimanya gembira.

Lima belas menit berlalu. Mereka masih duduk di warung kopi itu. Tak lama, ada pedagang siomay mau lewat sana. Juki dan Mahmud saling memberi kode. Namun rupanya, si tukang siomay tahu, kalau mereka pasti bakal malak dia seperti hari-hari sebelumnya. Akhirnya si tukang siomay putar balik.
“Heh, mau ke mana, lu!”
“Awas lu ya kalau besok ketemu lagi!!” Juki melemparkan sandalnya, tapi lemparannya gagal mengenai si tukang siomay.

Orang-orang yang dari masjid mulai betebaran. Jarak warung itu dengan masjid tak lebih dari tigapuluh meter. Juki lekas mengambil sandalnya dan balik lagi ke bangku warung. Mahmud sibuk memerhatikan apa yang dibawa oleh orang-orang dari masjid. Hampir semua yang lewat membawa bungkusan nasi kotak. Dia menelan ludah, bersamaan dengan bunyi perutnya yang keroncongan.
“Mas, Mas, dapat dari mana nasinya?” tanya Mahmud pada salah seorang warga yang lewat.
“Itu, di masjid lagi ada yang bagi-bagi makanan,” jawab warga itu sambil berjalan pergi, takut dipalak.

Sekira jarak lima meter dari warung, seseorang mengejek Juki dan Mahmud.
“Kalau mau nasi, makanya solat. Biar dapat rezeki yang halal. Hahaha...,” ucap lelaki paruh baya itu sambil berlari. Juki siap mengejar tapi dicegah oleh Mahmud.
“Udah, udah, biarin aja. Udah tua, kualat lu nanti,” meski mereka mengaku sebagai preman, tetapi dalam beberapa hal mereka masih mempunyai prinsip.

Mahmud meratapi orang-orang yang lewat di hadapannya. Lalu Juki nyeletuk.
“Mud, kita ke masjid, yuk. Siapa tahu masih ada nasinya. Laper, nih,” pinta Juki memelas.
“Bego, lu! Kagak malu, lu! Solat kagak, minta makan ke orang-orang masjid.” Raut wajah Mahmud berubah marah. Juki masih mengelus-elus perutnya.
“Coba tadi kita solat ke masjid, ya. sekarang pasti lagi makan, nih.” Mahmud tak meladeni keluhan Juki.

Sementara mereka sedang berdebat, Andi dan ayahnya sedang berjalan menuju warung itu. Mereka diberitahu oleh Ruslan kalau di warung ada Juki dan Mahmud. Ia memberi tahu agar segera diusir oleh ayah Andi yang memang mantan preman. Orang-orang sekitar sana mengetahui hal itu.
“Lagi pada ngapain lu di sini?” tanya ayah Andi yang di telinga kedua preman itu terdengar menyeramkan.
“Oh, ng-nggak, Bang. Lagi santai aja.” Juki beringsut, berdiri di belakang Mahmud.
“Udah pada makan belum?”
Mahmud menggeleng. Juki hanya diam saja. Dia tahu betul bagaimana gaharnya Baron sewaktu muda dulu.
“Kasih mereka makanannya, Andi....” Baron meminta Andi untuk membagikan nasi kotak itu kepada Juki dan Mahmud. Lekas-lekas mereka menerimanya khawatir Baron berubah pikiran.
Lalu, dari belakang tubuh Baron, seorang perempuan cantik, berkerudung merah mendekati Mahmud dan Juki.
“Nanti dipakai, ya,” ucapnya seraya menyodorkan masker kepada mereka berdua. Juki dan Mahmud menerimanya sambil matanya tak lepas memandangi paras Rosa, Istri Baron.
“Ini syukuran kami. Udah, kalian cepet makan selagi hangat,” ucap Baron yang terdengar seperti nada perintah. Ia memeluk bahu Rosa mesra. “Kalau ada apa-apa, atau perlu sesuatu, kalian ke rumah aja, ya.” Juki dan Mahmud masih melongo, khawatir salah dengar. Tapi kemudian mereka mengangguk.
“Terima kasih, Bang!” Juki dan Mahmud berebut menyalami tangan Baron yang kekar.
“Ya, sama-sama. Assalamu’alaikum....” Baron dan keluarganya pamit. Mereka kembali ke masjid, sementara dari jauh, Ruslan terheran-heran kenapa Baron begitu baik kepada dua preman pasar itu.

Tanpa buang waktu, Juki dan Mahmud segera membuka nasi kotak itu dan siap melahapnya. Mereka setengah tak percaya, ternyata masih ada orang yang baik hati, yang mau berbagi tanpa memandang bulu dan perilaku.[]

Cilegon, 15 Mei 2020

You Might Also Like

0 komentar