[Cerpen] Sebelum Prajurit Kalah Perang

2:01 PM

credit photo by: Pixabay

—kepada Hilman Lemri

Suatu hari, aku mengatakan kalau cerpen yang diawali dengan kalimat pembuka “suatu hari”, adalah cerpen yang buruk. Lemri, kawanku, setuju. Lalu kami merasa bangga dan puas, seolah bacaan kami selama ini tidak sia-sia. Ia tertawa dan aku pun. Namun kemudian, waktu semakin larut dan percakapan kami semakin intim dan serius. Salah seorang dari kami melemparkan tanya, “Apakah yang selama ini kita cari di dunia kepenulisan sudah ketemu?” Seusai baris kalimat itu mencuat, suara pengajian yang terdengar dari pengeras suara di masjid berhenti. Kami masih saling diam, belum mendapatkan jawaban yang tepat.

Lemri memulai lebih awal memantapkan diri menjadi penulis. Tiga tahun setelahnya aku menyusul. Kurang lebih sepuluh tahun kami jadikan menulis sebagai profesi. Buku-buku terbit, karya-karya bermunculan di media, diundang sana-sini mengisi pelatihan menulis dan menghadiri perhelatan sastra baik lokal maupun nasional. Tetapi, apa itu cukup?
Ia tertawa dan aku pun. Namun kali ini, suaranya begitu lirih dan getir. Tampaknya ia belum sanggup menjawab pertanyaan di awal. Ia mengalihkan topik, soal alasannya mengajakku bertemu malam ini.
“Puisi yang aku kumpulkan selama tiga tahun, akhirnya diterima penerbit. Bulan depan bakal diterbitkan!” ucapnya gembira. Ada binar harapan di kedua matanya.
“Selamat, ini patut dirayakan!”
Kemudian Lemri mengajakku ke kedai kopi terdekat. “Aku yang traktir!” katanya. Sebenarnya, ada pekerjaan mengedit buku yang belum selesai. Tapi, sebagai kawan lama, tak sepatutnya aku menolak ajakannya, bukan?

Sebagaimana obrolan pada umumnya, aku menanyakan kabarnya dan apa kesibukannya saat ini selain menulis. Namun, ia hanya menjawab, “Tidak ada,” tanpa tambahan ekspresi dan kalimat lainnya. Aku jadi tak enak hati. Demi menghilangkan kecanggungan, aku teguk kopi gayo yang sudah kupesan limabelas menit lalu. Rupanya, ia tadi hanya menaruh jeda dan membiarkan napasnya bekerja teratur.
“Surat lamaran sudah aku masukkan ke banyak perusahaan, tapi begitulah. Nihil.” Aku tahu bagaimana rasanya. Lebih-lebih, ia seorang magister, beban yang ia pikul berlipat-lipat beratnya.
“Aku juga pernah mengalami hal itu. Tenanglah, kau tak sendirian,” kataku meninju lengannya. Ia tersenyum. Lalu melemparkan pandangannya pada secangkir kopi di hadapannya. “Paling tidak, kau masih berkarya,” tambahku mencoba menenangkannya.
“Harusnya..., tapi aku datang padamu memang dengan banyak pertanyaan. Salah satunya soal apa yang aku cari di dunia ini? Ya, dunia yang kita jalani ini....”

Entahlah. Kalau persoalan itu yang kau bawa, aku juga belum mendapatkan jawabannya. Capaian-capaian yang dulu kita catat di tembok bangunan tua itu, sepertinya tak ‘kan pernah terwujud. Ingin sekali aku sampaikan itu pada Lemri. Tapi, itu hanya akan membuatnya semakin bersedih.

“Menulis tak pernah memberimu apa-apa selain keterpurukan. Kemarin, lamaranku ditolak oleh orang tua Jelita hanya karena aku seorang penulis. ‘Kamu yakin itu bisa dijadikan pekerjaan?’ kata Ayah Jelita. Aku diam dan merasa satu-satunya manusia paling pecundang di muka bumi!” Mendadak suaranya bergetar. Aku tahu ini terdengar berlebihan, tapi percayalah, ia tak akan menceritakan hal semacam itu pada sembarang orang. Barangkali, itu pula tujuan sebenar-benarnya ia ingin bertemu denganku. Ia ingin didengarkan.
Belum aku tanggapi ucapannya, sebuah pesan masuk ke ponselku. Delia. Ia mengirim pesan dan bertanya soal kepastian pertemuan kami minggu depan. Aku tak segera membalasnya.
“Dilematis sekali, ya. Lewat tokoh-tokoh yang aku karang, aku membuat hidup mereka baik-baik saja. Menemukan cintanya, diterima ramah oleh lingkungan sekitar, dan hidup bahagia. Di dunia nyata, untuk mendapatkan hal-hal itu ternyata tidak mudah. Apa artinya menulis ini semacam terapi atau pelarian kita, ya?”

Lemri tertawa. Sesekali ia menyipitkan matanya ke arahku. Tampak benar ia setuju pada pernyataanku. Kemudian tawanya meledak-ledak, khas orang dengan beban pikiran berlebih. Begitu depresif. Menjadi penulis, artinya siap untuk menjadi manusia yang sensitif pada sekitar. Jangan heran andai kau duduk bersebelahan dengan kami, dan kau berkata bohong, dengan mudah kami dapat tahu kalau kau sedang berbohong. Percayalah, kami dapat menemukan kebohonganmu lewat kerut wajah, gerak tubuh, caramu duduk atau bahkan bisa kutemukan dari kedipan matamu. Dan aku yakin, kali ini Lemri sedang menceritakan yang sebenar-benarnya tanpa ada yang ditutupi sedikit pun dariku.

“Mungkin sekarang kita bukan siapa-siapa. Tapi beberapa tahun ke depan, orang tua macam Ayahnya Jelita itu pasti menyesal pernah menolakmu.” Lemri memutar tubuhnya ke arahku. Di belakangnya, seorang lelaki tua dengan memakai topi patino datang, lalu menarik sebuah kursi dan lekas duduk. Ia memesan kopi yang sama denganku. Tapi kami tak begitu memerhatikannya. Karena tampaknya, Lemri mulai serius.
“Berapa tahun lagi untuk menjadi siapa-siapa?”
“Aku tidak bisa pastikan, tapi kau tahu ‘kan, banyak sekali penulis dan sastrawan besar yang dulunya susah hidupnya. Tapi lihat, mereka mampu bertahan hingga terus dikenang karyanya.”
“Ya, dikenang karyanya dan kemelaratan hidupnya,” katanya ketus. Seseorang yang duduk di sampingnya tampak meringis. Aku mendengar jelas ia seperti mengejek kami.
“Maaf, bisa jelaskan apa arti tertawamu barusan?” aku tersinggung. Lekas aku berdiri dan menantang lelaki paruh baya yang sebagian besar rambutnya telah beruban itu. Bersembunyi di balik topinya.

“Hei, sudah tak perlu tersulut begitu. Ah, sepertinya aku salah sudah mengajakmu mengobrol soal ini. Maaf, ya.” Lemri menarik lenganku dan memintaku untuk duduk kembali. Ekor mataku masih menatap sengit pada lelaki tua itu. Tak sedikit pun ia bergeser dan menoleh ke arah kami.

“Ah, kenapa jadi kacau begini. Maaf. Tak seharusnya aku menyebalkan. Aku malah menambah keruwetan untukmu saja.” Kusesap lagi kopi yang sudah mulai dingin di hadapanku. Tak lama berselang, lelaki tua itu bangkit. Ia keluar dari kursinya, meninggalkan gelas kopinya dan berjalan masuk ke dalam pantri kedai kopi. Entah apa yang akan dilakukannya, aku tak peduli. Apa lagi, setelah itu ponselku berbunyi. Masih dari orang yang sama, bedanya kali ini ia menelepon.

“Sebentar, ya,” kataku pada Lemri. Lalu aku keluar kedai untuk mengangkat telepon dari Delia.
Kemarin, aku sudah memantapkan diri untuk melamar Delia. Obrolan ini sudah begitu lama bahkan sebelum Lemri cerita soal lamarannya. Tetapi, setelah mendengarkannya tadi, aku jadi jeri. Ragu-ragu soal apa yang bakal aku lakukan minggu depan. Delia juga menanyakan hal itu berulang-ulang. Aku yang seorang penulis dan editor lepas ini, apa mungkin bakal diterima lamarannya. Atau ditolak mentah-mentah dan mendapatkan pertanyaan yang sama dengan apa yang dialami Lemri?

“Jadi, bagaimana, minggu depan kamu ke rumah, kan? Jangan ngomong ngalor-ngidul. Kasih kepastian. Biar aku bisa kasih tahu orang rumah,” ucap Delia yang begitu cerewet. Aku hanya ber-hmm sebanyak dua kali. Delia pasti jengkel, tapi biarkan dalam sisa hari ini aku pikirkan ulang secara matang-matang. Meskipun, keluargaku sudah setuju untuk mengantarku nanti ke rumah Delia.

“Iya, sampaikan salamku ke orang tua kamu. Aku pasti datang,” kataku akhirnya sebelum kemudian Delia menutup teleponnya. Sepertinya ia ngambek. Terserahlah, aku memilih tak begitu memikirkannya malam itu dan kembali ke dalam kedai.

Lemri menatapku seperti menagih sesuatu. Mungkinkah ia mendengarkan percakapanku dengan Delia? Ah, betapa malunya.
“Ya, kita senasib. Hampir....”
“Ya, hampir..., tapi semoga bernasib lebih baik dibanding aku,” kata Lemri yang tak berarti apa-apa di telingaku malam itu.

“Kalian masih muda, kenapa obrolannya terdengar seolah kalian sudah begitu banyak mengalami kegagalan?” Pertanyaan itu muncul bukan dari kami berdua. Sewaktu kami mendongakkan kepala, ternyata itu suara lelaki bertopi patino yang tadi hampir aku marahi. Siapa sangka, ia ternyata orang yang karyanya kami kagumi.

“Eyang Pramoe?” ucap kami hampir bersamaan.
“Maaf soal tadi, ya. Aku tak kuasa menahan geli mendengar percakapan kalian. Terima kasih sudah mampir ke kedai kopiku. Cuma kedai ini yang nanti bakal aku wariskan ke anak cucuku. Minkeu ini cucuku dari anak kedua. Ia cukup rajin menjaga kedai ini,” terang Eyang menunjuk pria muda yang tadi membuatkan kami kopi. Ia menundukkan kepalanya memberi salam.

Aku dan Lemri lekas menjabat tangan Eyang. Tentu ini pertemuan di luar dugaan kami. Tak kusangka kalau kedai kopi yang saban hari aku lewati ini ternyata milik seorang sastrawan besar.

“Kalian tahu, kehidupan ini ibarat medan perang. Prajuritnya bukan hanya penulis, tapi juga dari lintas profesi. Semua orang berperang untuk mendapatkan hak dan kebebasannya masing-masing. Ada prajurit yang rajin menembak tanpa perhitungan, ada yang membidik dulu sasaran sampai ia yakin kapan waktunya menembak, dan ada yang menunggu musuhnya menghabiskan pelurunya sampai mereka menyerah dengan sendirinya tanpa ia harus repot-repot membuang-buang pelurunya,” Eyang menaruh jeda, lalu menyesap kopi yang baru dibuatnya. “Sekarang, kalian prajurit yang mana?”

Mendapati pertanyaan itu, kami tak bisa segera menjawab. Kami bahkan tak menyadari kalau kami bagian dari prajurit-prajurit itu. Mendadak, aku merasa seperti prajurit yang tidak kalah dan juga tidak menang.
“Persetan kalian prajurit yang mana, yang penting sebelum kalian kalah perang, kalian harus melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Kami sama-sama prajurit yang berada di medan perang. Dan sebelum prajurit kalah perang, kata Eyang, di kepalaku terlintas sebuah tanya, “Untuk apa aku ada di sini? Di dunia yang kita jalani ini....”[]

Cilegon, 11 Februari 2020

You Might Also Like

4 komentar