Gerbang Neraka: Menguak Rahasia Gunung Padang Lewat Film (Legacy Pictures, 20 September 2017)

6:59 PM

official poster of Legacy Pictures.

Judul : Gerbang Neraka
Produksi : Legacy Pictures
Produser : Robert Ronny
Sutradara : Rizal Mantovani
Pemain : Reza Rahadian, Julie Estelle, Dwi Sasono
Genre : Horror, Adventure
Tanggal Rilis: 20 September 2017

“Tanpa cinta, tak ada masa depan bagi manusia.” Tomo Gunadi.
____ 

Selama ini, meski tidak bisa dipukul-rata, film-film dengan genre horor yang tayang di bioskop tanah air, nyaris keseluruhannya memiliki pola (template) yang serupa; rumah, tokoh utama, dan hantu. Barangkali itu adalah hal paling mendasar yang biasa kita saksikan. Dan kalaupun mesti ditambahkan satu kriteria lagi, mungkin ia adalah; erotis atau cabul.

Tanggal 13 September lalu, saya menerima undangan dari produser muda, Robert Ronny, untuk menghadiri Gala Premiere film, “Gerbang Neraka” di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan. Film yang disutradarai Rizal Mantovani ini ternyata bergenre misteri dan horor—tentu kita akan bisa menduganya sejak dalam judul. Namun, format dan formula yang saya sebutkan tadi seketika runtuh. Selain sebagai produser, Ronny juga merangkap penulis naskah skenario film ini. Istilah film horor “ecek-ecek” bisa ia hapuskan melalui karya terbarunya yang akan tayang 20 September 2017, hari ini!

Film yang berkisah tentang “sejarah” di balik Gunung Padang, Cianjur, Jawa-Barat ini, menjadi menarik lantaran berhasil dikemas dengan sangat apik. Premis yang diangkat pun berhasil memantik rasa penasaran. Ia menggunakan pengandaian (what-if). Bagaimana jika Gunung Padang adalah Piramid tertua yang ada di dunia? Adakah sesuatu peninggalan purbakala di dalamnya? Apakah yang terjadi jika ditemukan artefak, fosil, serta segala sesuatu itu? Mungkinkah akan berpengaruh pada era manusia saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan serupa itulah yang berkelindan dalam pikiran Tomo Gunadi (wartawan), Arni Kumalasari (arkeolog), dan Guntur Samudra (ahli spiritual). Ketiganya adalah para karakter utama yang fokus menyelami dan berusaha menguak tabir misteri dan segala hal tentang Gunung Padang.

Reza Rahadian, serumit apa pun karakter yang mesti ia perankan, selalu saja mampu menjadikan tokoh yang dilakonkannya (seolah) nyata dan benar ada selama kita menyaksikan filmnya. Ia berlaga sebagai seorang wartawan majalah Ghoib, yang sebelumnya pernah menjadi wartawan di sebuah majalah politik, namun kemudian dibredel gara-gara pemberitaannya yang kontroversial. Ia pernah begitu idealis namun rupanya banyak orang yang memusuhinya. tak heran kemudian ia memilih pekerjaan apa pun asalkan bisa mendapatkan uang untuk anak (diperankan oleh Ayasha Putri) dan istrinya (diperankan oleh Puy Brahmantya). Bahkan, saking kesalnya, Tomo sempat berkata, “memang gampang kalau mau menjadi idealis; kalau punya uang.”

Karakter kocak dan jenaka barangkali sulit lepas dari aktor Indonesia, Dwi Sasono. Ia berperan sebagai Guntur Samudra, tokoh yang bisa dikatakan sebagai dukun. Hebatnya, Ronny bukan saja kuat membuat karakter, tetapi juga dalam dialog. Jangan heran ketika di tengah rasa was-was dan mencekam, selalu saja ada selipan komedi yang berhasil dimunculkan melalui Guntur di beberapa adegan.

Ketika tiga tokoh utama ini berkumpul, sosok Guntur yang dikenal sebagai paranormal kondang dan pembawa acara mistis ini pun menunjukkan kemampuan sebenarnya. Tomo pun kaget, ternyata ia bukan dukun-dukunan, tetapi ia betulan memiliki kemampuan supranatural. Saat Tomo tegur kenapa tidak ia tampilkan keahlian itu di acara televisi yang dipandunya, Guntur berdalih, “semua orang butuh makan.” Bagian tersebut akan sangat menyentil dan sarkas kalau kita mengetahui konteksnya dalam alur film Gerbang Neraka ini. Namun, di beberapa bagian, Guntur pun bisa menjadi amat bijak. Substansi kalimatnya tidak keluar dari karakternya yang nyeleneh dan berpengetahuan luas itu. Ia berpetuah, “dunia akan hancur kalau orang menyerah dan hilang harapan.”

Kemudian cerita berjalan dan kita akan dikenalkan lebih jauh dengan karakter Doktor Arni Kumalasari, yang diperankan oleh Julie Estelle, sang dosen arkeolog dan peneliti dari Nusantara Archeology. Ia diamanahi pemerintah untuk melakukan proses ekskavasi piramida yang didampingi Theo Wirawan, profesor arkeolog, yang diperankan oleh Ray Sahetapy. Sesuai di awal, diceritakan di dalam perut Gunung Padang—nama asalnya Nagara Siang Padang—ternyata berdiri sebuah bangunan piramida yag usianya dua kali lebih tua dibandingkan Piramida Giza milik Mesir.

Ia kemudian akan menemukan sebuah konsep yang dikaitkan dengan tiga hal yang diwakili oleh diri mereka masing-masing: Gold, Glory, Gospel. Gold (harta) mewakili Tomo yang selalu membutuhkan uang; Glory (kehormatan) menggambarkan watak Guntur Samudra yang ingin dikenal; dan terakhir Gospel (ajaran agama) yang kemudian berkembang dan lebih dikenal sebagai ilmu pengetahuan. Yang ketiga ini mewakili karakter Arni Kumalasari. Namun, setelah pemaparan itu, Guntur pun menyebut istilah lain yang dianggap sepadan: Bondo, Kanuragan, dan Waskito.

Di pertengahan cerita, konflik perlahan-lahan bermunculan. Sosok misterius yang kemudian dikenal bernama Badurach mulai mencari tumbal untuk tuannya. Arni, Tomo dan Guntur pun akhirnya terpaksa bekerjasama untuk mengungkap kebenaran misteri Gunung Padang. Semua itu karena setelah sebelumnya mereka sama-sama mengalami kejadian dan tragedi yang janggal. Lama-kelamaan mereka juga mengetahui bahwa piramida tersebut menyimpan kekuatan jahat yang siap menguasai dunia.

Gerbang Neraka berhasil membuat setting a la piramida menggunakan teknologi CGI dan green screen. Efek yang dihasilkan seolah benar-benar real dan cukup halus. Belum lagi pengambilan gambar yang epik dengan kemampuan sinematografi yang mumpuni. Yang saya tangkap, film ini digarap sebagai bentuk kebanggaan dan usaha mengangkat kelokalitasan yang begitu melimpah di Indonesia.

Terlebih cerita-cerita lisan yang selalu dikemas dengan legenda mistis. Soal kemudian filmnya dibalut dengan fiksi barangkali tak jadi soal. Sebab, pencapaiannya yang hendak diraih ialah meng-influence para penonton untuk datang dan mengunjungi wilayah atau tempat yang sedang “dipromosikan” dalam film tersebut. Itu berarti membantu mendorong pemasukan bagi ekonomi daerah. Belum laga unsur sosial-budaya tervisualkan dengan baik dan bukan dijadikan tempelan semata. Misal, peran Kujang, senjata tajam khas Jawa Barat, menjadi kunci dari Film Gerbang Neraka ini. Dan itu akan ditemukan di dalam mainchamber atau inti piramida.

Saya harap, film ini bisa dijadikan gerbang sekaligus pemantik para sineas berbakat lainnya untuk mengangkat kembali cerita-cerita lokalitas yang kental dan kuat dari setiap daerah di Indonesia, dengan pendekatan yang menarik dan bukan sekadar film dokumenter semata. Ada hiburan sekaligus ilmu pengetahuan yang jalan berdampingan sehingga mampu memuaskan penonton yang rela mengantre dan membeli tiket. Tentu juga ada kualitas ide dan kemampuan menggarap film yang memadai. Paling tidak, sebaik film Gerbang Neraka ini. Dengan begitu, tentu saja, kecintaan kita pada tanah air bukan lagi omong kosong belaka, tetapi sifatnya sejati sebab dibuktikan dengan karya. Seperti kata Tomo Gunadi, “tanpa cinta, tak ada masa depan bagi manusia.”

Cilegon, 19 September 2017


Pengulas:
Ade Ubaidil, penikmat film dan bercita-cita menjadi sutradara.


You Might Also Like

0 komentar