[ESAI] KIAT MENJADI JURNALIS HANDAL (Radar Banten, 03 Maret 2017)

2:25 PM

Dimuat di Koran Radar Banten edisi Jumat, 03 Maret 2017.


Setelah hadirnya teknologi informasi dan canggihnya internet, hubungan komunikasi antar manusia menjadi kian mudah dan cepat. Bukan hanya menjadi perantara antar satu orang dengan satu orang lainnya, melainkan bisa menghubungkan banyak orang dalam waktu yang (nyaris) bersamaan; bukan lagi cakupannya dalam satu wilayah, namun bisa menjangkau belahan negara lain bahkan bisa sampai planet lain. Semuanya kini bisa dilakukan dalam waktu sepersekian detik.

Hal tersebut di atas erat hubungannya dengan salah satu profesi yang akan dibahas, yakni Jurnalis. Pada awalnya, profesi jurnalis terbilang jarang peminat. Bila memaknainya secara pengertian bahasa, jurnalis adalah orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita dalam surat kabar. Namun kenyataannya, kini, siapa pun bisa menjadi jurnalis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya—mengutip sebagian teks proklamasi.

Hari Minggu kemarin, (26/02/17) Maman Suherman (Kang Maman) yang dikenal sebagai ‘Sang Notulen’ dalam acara Indonesia Lawak Klub (ILK), berkunjung ke Rumah Dunia dalam rangkaian acara Kawah Literasi Rumah Dunia 2017. Dalam kunjungannya itu, Kang Maman berbagi pengalamannya seputar pelatihan jurnalistik dan proses kreatif menulis, di Auditorium Surosowan Rumah Dunia. Acara dimulai pukul 13.30 WIB dan selesai pukul 16.00 WIB.

Di pertengahan sesinya, beliau menyampaikan beberapa tip untuk menjadi jurnalis yang andal dan terpercaya. Ternyata, menurutnya bukan hanya 5W+1H saja yang harus dimiliki dan diketahui para jurnalis, tetapi ada 5 hal penting yang barangkali akan membedakan mana jurnalis sesungguhnya dan mana jurnalis abal-abal alias produk media sosial. Maman menamainya: 5R.

Sebelum menyebutkan lima poin itu, untuk para jurnalis ber-id card, diharap jangan sempoyongan dahulu. Menjamurnya pengguna sosial yang dengan mudah membagikan berita hoax itu jangan dianggap suatu ancaman, melainkan jadikan mereka sebagai target sasaran untuk “dibumihanguskan”. Dan untuk pembaca berita atau informasi apa pun, barangkali sangat perlu juga menyimak poin-poin berikut, sebab dengan membacanya secara teliti, sedikitnya kita akan mudah terhindar dari serangan berita hoax, atau paling tidak kita jadi lebih pandai dalam memilih dan memilah suatu informasi mana yang tepat keakuratannya.

Pertama: Read
Hal pertama ini tentu mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan. Dibanding zaman dahulu yang begitu sulitnya mendapatkan informasi, zaman sekarang justru overload informasi. Karena saking banyaknya itulah kita jadi kesulitan mana yang berita benar alias fakta, dan mana berita bohong—yang populer disebut hoax!

Untuk menjadi jurnalis profesional, atau minimal penyampai berita untuk warga sekitar, membaca adalah poin terpenting. Jangan terburu-buru menuliskannya untuk kemudian dibagikan; di media sosial seperti Facebook, untuk menjadi penyambung lidah cukup jempol yang bekerja. Tinggal tekan tombol share, dan tersebarlah informasi yang belum jelas kebenarannya itu. Maka untuk semakin meyakinkan dengan informasi apa yang diterima, kita harus melangkah pada R yang kedua.

Kedua: Research
Ketika menyelesaikan skripsinya di jurusan Kriminologi, Kang Maman mesti melakukan riset selama 2 tahun lamanya. Mahasiswa Universitas Indonesia itu melakukan objek penelitian sekaligus mengangkat sebuah isu yang berkembang pada masanya; yakni perdagangan perempuan terhadap perempuan (pelacuran lesbian). Bahkan ia mesti melakukan penyamaran seperti menjadi sopir antar jemput para pelacur hingga berbaur dalam kehidupan malam itu, guna mendapatkan informasi yang begitu akuran. Beberapa tahun setelah skripsinya selesai, ia membukukannya dan sudah terbit dengan judul, Re: (KPG, 2014).

Maman menyampaikan, tentu bukan berarti kita mesti melakukan apa yang ia kerjakan demi sebuah riset. Banyak hal yang bisa dilakukan selain kontak langsung. Bisa dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi dan internet, mencari-cari referensi melalui buku, atau memang bila diperlukan, datangi narasumbernya langsung agar apa yang akan kita sampaikan nantinya bisa benar-benar dipercaya khalayak umum.

Ketiga: Reliable
Ya, ketika kita sudah membuat pembaca percaya, maka bisa dikatakan mereka akan menjadi pembaca setia tulisan, berita, dan reportase-reportase kita berikutnya. Akan selalu dinanti-nantikan soal apalagi yang akan kita sampaikan untuk menambah wawasan mereka. Maka jadilah jurnalis yang terpercaya, dengan mempertimbangkan segala aspek, baik dari sudut pandang korban, pelaku, saksi, narasumber lain dan segala macam. Selalu lakukan konfirmasi pada orang yang berkaitan langsung dalam suatu peristiwa.

Keempat: Reflecting
Seperti yang sudah disinggung di poin ketiga, jurnalis adalah penyampai fakta. Bisa dibilang kebenaran. Namun sayangnya, belakangan sebagian besar media kurang objektif dalam memberitakan sesuatu. Tidak berimbang dan cenderung asal-asalan. Lebih-lebih tanpa adanya konfirmasi langsung dari kedua belah pihak. Nah, pada bagian ini Kang Maman menunjukkan apa itu Reflecting dalam sebuah praktek.

Ia melepaskan topi bertuliskan, Iqra (dalam huruf arab) yang dipakainya. Ia berdiri di belakang topi itu lalu bertanya pada peserta di hadapannya, “apa bacanya?” semua serempak berteriak, “Iqra,”. Kang Maman menggeleng, ia bilang tidak ada tulisan. Keduanya menyatakan kebenaran dari sudut pandang masing-masing. Topi itu perwujudan dari “Fakta”, sedangkan Kang Maman dengan audiensi adalah apa yang disebut tadi, Reflecting. Jadi, sebagai pembaca dan penulis khususnya, kita jangan terburu-buru mengatakan sesuatu benar atau salah, sebab bisa jadi itu hanya soal sudut pandang saja.

Kelima: (W) Right
Pada poin akhir ini ia sedikit bermain teka-teki. Yang dimaksud tentu saja, Right, sebab itu bagian dari poin 5R tadi. Hanya saja, di papan tulis ia menambahkan huruf W di depan kata Right. Kang Maman kurang lebih menyampaikan maksudnya yakni, bila kita ingin menjadi jurnalis yang baik dan andal tentu harus mengatakan apa pun dengan benar; tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada yang dibelokkan, tidak menjiplak karya orang lain, tidak mengarang ucapan narasumber dan segala kebohongan yang seolah dibuat sebagai suatu kebenaran. Sedangkan, untuk peletakan W di depan tak lain bila kita sudah melakukan 5W+1H juga poin 5R, maka lekaslah Wright (baca: Write). Menulislah apa pun yang semestinya ditulis. Sampaikan apa pun yang seharusnya disampaikan.
Selamat mempraktekkan dan “membunuh” para penyebar hoax![]

Cilegon, 27 Februari 2017



You Might Also Like

2 komentar

  1. Trims ya De..sangat bermanfaat artikelnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, sama-sama, bang. Nuhun sudah mampir. :)

      Delete