[FF] DEVVI PURNAMA

image by: google.com


Ini kali ketiga aku masuk toilet. Sial betul memang. Barangkali salah satu bumbu rahasia dalam mi buatannya adalah obat pencahar. Ingin sekali aku membalikkan wajannya saat ia membuat pesanan untuk pembeli lain, karena hal ini. Tetapi rasa-rasanya tak mungkin, sebab tiga jam lalu hanya aku sendiri pembelinya. Dan kalaupun sekarang aku keluar rumah, menyelusuri jejak sandal jepitnya, mengendusnya dan melihat langit, ia tak akan mudah ditemukan.  Untuk hal yang kusebutkan paling akhir, aku memiliki alasannya.

Sebulan lalu aku menjenguk Kakek di kampung Rantingan. Di satu kesempatan, ia berkisah soal perempuan.
“Dahulu, setiap malam purnama, hadirlah seorang perempuan bergaun sutra di langit. Hidungnya selancip bulan sabit. Dia bernama, Devvi Purnama.” Semula aku mengira gigi palsu kakek bergeser, sehingga sewaktu pikirannya memerintahkan ia mengucap, ‘Dewi’ tetapi yang melompat dari bibirnya, ‘Devvi’.
“Dewi, maksudnya, Kek?”
“Bukan.” Kakek bergeser, mulutnya yang bau tembakau mendekat ke telingaku, “Devvi. Ditulis pakai dua huruf ‘v’.” Jari telunjuk dan tengahnya ia angkat ke wajahku. Baiklah, ada apa dengan Devvi Purnama?

Selesai membayar mi tek-tek, aku berbalik dan kembali ke rumah. Kukunci pintu dan lekas melahap minya. Itu yang kubayangkan. Sialnya, hal itu tak lekas terjadi. Sewaktu aku berjalan, kulihat sekelebat bayangan melawati tubuhku dari depan ke belakang. Itu bayangan yang mungkin kau dapati ketika melihat segerombol laron atau lembetuk atau codot berputar-putar di bawah tiang lampu jalan dan bayangannya jatuh ke tanah. Kuangkat kepala dan, astaga, itu perempuan yang dikisahkan kakek. Tangannya seperti menggendong bayi.

“Devvi melahirkan saat bulan bulat sempurna. Belum sempat ia melihat sosok anaknya, sekalipun jenis kelaminnya, bayi itu lenyap digondol dukun yang membantu ia bersalin.”
“Tak adakah orang lain selain dirinya di sana? Keluarganya mungkin, Kek?”
“Dia dari kayangan.”
Aku mengerutkan kening, ia paham, “di atas sana, setiap kali ada yang melahirkan, ia akan dijauhi. Dianggap tak suci lagi. Karenanya ia turun ke bumi.”

Aku tak hendak tahu lebih banyak, tetapi kakek belum selesai.
“Dukun tadi menaruh bayinya di atas wajan yang ia bawa. Warnanya putih keperakan.”

Lalu aku teringat pada pedagang mi tek-tek. Wajan yang ia pentung-pentung sebagai pemanggil pembeli itu, baru. Biasanya hitam legam, tetapi tadi sesuai dengan kisah kakek.

Tapi, ah, nanti kulanjutkan ceritanya. Aku harus kembali lagi ke toilet.



Cilegon, 04 Oktober 2016

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Film] Muhammad: The Messenger of God

[Ulasan Film] Mengurai Trauma Somatik dan Fatherless Issue dalam "Sore: Istri dari Masa Depan"

[REVIEW FILM] The Words: Buku, Penulis dan Skandal-skandal

Lake Maning Bocah ( 4 Puisi Bahasa Jawa Banten)

TRICK INTERNET GRATIS SEMUA OPERATOR

Aku Tahu Kau akan Pergi (9 Puisi tentang Pertemuan dan Perpisahan)

[Ulasan Film] Gadis Kretek: Kisah Cinta Menyesakkan Dada dan Sejarah Kelam yang Menyengsarakan

[Ulasan Film] One Piece Live Action: Alur yang Dipadatkan dan Ikatan Emosional yang Memudar

[Catatan] Panggilan Sinema: Dari Rumah Dunia dan Komunitas Bahasa Jawa Serang untuk Yuni

[Ulasan Film] Hamnet: Duka yang Tumbuh Menjadi Panggung Keabadian