[Ulasan Film] Mencuri Raden Saleh: Kenalkan Sejarah Indonesia dalam Kemasan Film Pencurian Lukisan

10:39 PM

 

ilustrasi oleh Visinema

Score: 8,8/10

Piko (Iqbaal Ramadhan) seorang mahasiswa tingkat akhir, memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemalsu lukisan. Ucup (Angga Yunanda) adalah sahabat sekaligus rekan bisnisnya yang bertugas mencari pelanggan “lukisan” karya Piko. Selain itu, rupanya Ucup memiliki keahlian di bidang IT, ia adalah seorang hacker. Di lukisan Piko yang terakhir, yang memalsukan karya Widayat, berhasil laku 900 juta saat dilelang, sementara Piko dan Ucup hanya menerima uang tak lebih dari 50 juta. Padahal, Piko sedang butuh banyak uang untuk membantu Budiman (Dwi Sasono), Papanya, keluar dari penjara. Sejak itu keduanya mulai berani bermain harga dengan Dini (Atiqah Hasiholan), langganannya. Dini menyetujuinya asalkan Piko mau memalsukan lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh. Awalnya Piko sempat ragu, tetapi saat Dini memberitahu angka yang bakal dibayar, akhirnya ia sepakat.

Kurang lebih begitu pembuka cerita film ini. Lalu scene by scene berjalan sembari mengenalkan keenam karakter dan perekrutannya yang tidak bertele-tele dan menarik sekali untuk diikuti. Penonton langsung dibawa masuk ke backstory masing-masing tokoh dengan segala masalah hidupnya secara proporsional dan tidak mendikte sama sekali. Sejak awal, motif para tokoh dibuat jelas dan masuk akal ketika memutuskan untuk mencuri lukisan Raden Saleh yang akan dipamerkan di Istana Negara.

Setiap pergerakan dan ucapan tokoh memiliki motivasi dan tidak menyeberang dari penokohan yang sudah dikenalkan sejak awal. Bagaimana Gofar (Umay Shahab) dan Tuktuk (Ari Irham) yang mudah meledak sekaligus komikal misalnya. Lalu Fella (Rachel Amanda) dan Sarah (Aghniny Haque) yang penuh perhitungan dan kehati-hatian, semua grand design characternya betul-betul dipikirkan sehingga saat dihadapkan pada satu situasi, respons masing-masing jadi beragam. Itu pula yang kemudian membuat cerita ini hidup di tangan mereka para aktor muda berbakat, tentu berkat arahan Angga Dwimas Sasongko selaku penulis skenario dan sutradara. Ia  benar-benar telaten sekaligus detail merangkai frame by frame-nya.

Licik, manipulatif, pengkhianatan, perjuangan, dan kerja sama, semua muncul dalam satu kesatuan yang utuh di film ini. Angga berhasil mengenalkan awal mula sejarah serta alasan dibuatnya lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” tahun 1857 oleh Raden Saleh Sjarif Boestaman (Mei 1811 – 23 April 1880) itu. 

Official poster oleh Visinema
Kita sedikitnya, bagi yang belum tahu, mengenal siapa itu Raden Saleh lewat narasi yang dituturkan Piko sebagai seorang pelukis. Itu pula kata “perlawanan” muncul dari Piko yang menunjukkan bagaimana Raden Saleh di masa penjajahan kolonial Belanda dahulu. Analogi penjajah di sini adalah Pak Permadi (Tyo Pakusadewo) si mantan presiden yang berkhianat kepada Piko dan Ucup. Ia memperalat komplotan bocah-bocah itu untuk membalaskan dendamnya pada negara.

Saya teringat dengan film-film David Fincher yang mampu memanipulasi penontonnya, lalu tak bisa lepas pula dengan serial Lupin, trik-trik Kaitou Kids di serial Detektif Conan, dan tentu saja Money Heist yang sempat ramai di Netflix beberapa waktu lalu. Kejelian Angga merajut kisah Mencuri Raden Saleh ini patut diapresiasi, mengingat belum banyak film-film karya sineas Indonesia yang mengeksplorasi tema aksi pencurian (heist) seserius ini penggarapannya.

Tak boleh pula ketinggalan nama Bagoes Tresna Aji diberi tepuk tangan sebagai Director of Photography (DOP) yang ciamik memainkan lensa kameranya begitu fleksibel mengikuti pergerakan setiap karakter. Durasi 2,5 jam terasa kurang lantaran, selain cerita, dukungan dari aspek gambar dan sinematografinya berhasil membius mata.

Kalau mesti menunjukkan satu plot hole, ada satu scene yang membuat saya bertanya-tanya tentang motivasi Budiman sampai memilih datang ke pesta ulang tahun Pak Permadi? Apa urgensinya? Sebab, kemunculannya ini jadi poin penting dan akan berkaitan erat dengan akhir cerita yang memorable dan bikin saya tanpa sadar memaki (dalam konotasi positif) di bioskop studio 4 XXI Cilegon sore itu.

Sejak pertama kali diumumkan, saya sudah sangat menantikan penayangan film Mencuri Raden Saleh ini. Walaupun sejujurnya, sempat pesimis saat melihat deretan nama pemain utamanya. Pencurian macam apa yang bakal disuguhkan dari bocah-bocah ingusan itu? Pikir saya. Saat trailer pertama tayang keraguan itu masih ada. Namun ketika final trailer tayang, saya sedikit melihat harapan. Ketika sore tadi di hari pertama penayangannya saya menonton langsung, semua keraguan saya luruh. Apalagi akting Umay dan Iqbaal yang matang dan mencuri perhatian. Saya pikir, sejauh ini, Mencuri Raden Saleh adalah film terbaik yang karakternya berhasil mereka mainkan. 

Film ini layak box office dan menjadi benchmark film action tema pencurian dan sejarah bagi sineas Indonesia ke depannya.

Cilegon, 25 Agustus 2022

You Might Also Like

0 komentar