[Ulasan Film] Ngeri-Ngeri Sedap Tunjukkan Pentingnya Orang Tua Menyesuaikan Diri dengan Zaman

9:43 PM

Official poster by Imajinari

Score: 8,3/10

"Kalau anakmu berkembang, kamu sebagai orang tua pun harus ikut berkembang. Kita itu harus belajar terus."

Sebaris kalimat yang disampaikan Opung Domu (Rita Matumona) itu barangkali bisa merangkum pesan dari keseluruhan film ini. Betapa orang tua, seharusnya juga selalu belajar memahami zaman yang terus bertumbuh. Segala keilmuan tentang mendidik anak yang diperoleh dari orang tua di masa lampau, ternyata tak sepenuhnya berhasil bila diterapkan pada generasi masa kini. Zaman telah berubah. 

Dikisahkan Marlina (Tika Panggabean) merasa gelisah karena ketiga anaknya, Domu (Boris Bokir), Gabe (Lolox), dan Sahat (Indra Jegel) semakin jarang mengunjunginya di kampung halaman. Hanya ada Sarma (Gita Bhebhita), anak keduanya yang mengurusi mereka.

Oleh karena itu, sang suami, Pak Domu (Arswendy Beningswara) memutuskan untuk mengatur sebuah pertengkaran hebat dengan Marlina, supaya anak-anaknya segera pulang dari perantauan.

Berlatar adat budaya suku Batak, film ini berhasil disajikan utuh kepada penonton, baik awam maupun masyarakat Batak itu sendiri. Apalagi dibintangi oleh aktor berdarah Medan dan sekitarnya. Setting lokasinya pun persis di sekitar danau Toba. Dalam beberapa scene, kita akan dimanjakan dengan keindahan alam Indonesia di wilayah sana. 

Sutradara dan penulisnya pun berasal dari Sumatera Utara, Bene Dion Rajagukguk dan diproduseri oleh Ernest Prakasa. Di setiap wawancara, Bene mengaku ini adalah film drama keluarga. Sisipan komedinya tidak muncul dari komika, tetapi dari situasinya yang komedik. 

Tanpa mengesampingkan pemeran yang lain, saya mau beri hormat kepada Gita Bhebhita yang tampil memukau sekaligus mengejutkan di dua adegan one take shot yang cukup panjang. Puncak luapan emosi yang akhirnya ditumpahkan Sarma lantaran ia melihat Mamanya yang akhirnya berani "speak up". 

Entah sudah berapa lama Sarma memendam perasaannya itu, termasuk ia harus mengorbankan cita-citanya demi alasan keluarga. Di scene itu saya jamin siapa pun bakal menangis, meskipun tiga aktor yang menjadi saudaranya sedikit kurang maksimal aktingnya. Cukup disayangkan memang.

Satu hal lagi yang mengganjal tentang alasan Mamanya menahan anak-anaknya pulang ke perantauan. Sebab, alasan utama mereka pura-pura bercerai agar anaknya pulang dan menghadiri acara adat yang diadakan oleh opungnya, seharusnya selesai di sana. Saya kurang dapat alasan lain mencegah mereka. Kalau karena masih rindu sepertinya egois sekali. 

Terlepas dari itu, Arswendy, sebagai aktor kawakan sudah tidak perlu diragukan lagi. Saya sebagai penonton merasa kesal dan geregetan dengan perannya sebagai Pak Domu ketika mengambil segala keputusan penting secara sepihak, meskipun untuk tujuan yang baik. Kita tahu, bahwa hal baik harus disampaikan dengan cara yang baik. Itu adalah satu kesatuan. 

Opung Domu di sini memegang peran penting sebagai simpulan pergerakan para karakter menuju akhir cerita. Dialog nan bernas yang ditujukan kepada putranya, Pak Domu, betul-betul membuat bendungan air mata saya pecah. Betapa orang tua, selalu menjadi tempat berpulang anak-anaknya, sedewasa apa pun kita, di hadapan mereka kita tetaplah bocah yang perlu diberi nasehat. 

"Kenapa Mama tidak datang ke rumah?"

"Supaya kau tahu rasanya hidup sendirian tanpa anak dan istrimu," katanya tenang dan dalam. Seketika ego dalam dirinya runtuh. Ia ambruk. Menangis sejadi-jadinya.Dari sana Pak Domu menyadari kesalahannya. Ia rupanya tidak benar-benar mengenali istri dan anak-anaknya hanya karena tertutupi oleh egonya sendiri sebagai lelaki Batak. 

Saya rasa penantian delapan tahun kisah ini sampai berhasil difilmkan tidaklah sia-sia bagi Bene. Semua terbayarkan ketika melihat penonton keluar bioskop dengan mata sembap dan hati yang lapang. Kisah keluarga yang betul-betul menghangatkan. 

"HORMAS!"

Kupang, 6 Juni 2022

You Might Also Like

0 komentar