[Cerbung] RAHIB - Bab 1

1:53 PM



#1

Usai berbasa-basi dengan orang di sebelahnya, kembali Ba memejamkan mata. Kurang lebih masih ada tiga jam perjalanan sampai ke Siem Reap. Sleeper bus yang ditumpanginya terus berjalan membelah kesunyian malam. Lampu di dalam bus redup. Tidak ada yang benar-benar dikenalnya dalam bus itu selain teman seperjalanan. Bahkan kalau diminta mengulangi nama pria Korea yang tidur di sampingnya, ia kesulitan. Barangkali kau bisa membayangkan, di negeri asing, nun jauh dari tempat kau tinggal, tidak ada kawan untuk sekadar diajak nongkrong minum kopi.

Nyaris orang-orang yang ia temui tidak mengerti bahasa inggris. Ia senasib dengan orang Korea itu ternyata, datang ke Kamboja seorang diri, lalu ketika bertanya mengenai rute jalan atau alamat penginapan, penduduk lokal gelagapan. Pria Korea memang tak bermaksud menyamaratakan kalau penduduk lokal di sana benar-benar nol soal bahasa inggris, ungkapnya. Hanya, aku tidak tahu mesti bagaimana agar mereka mengerti maksudku. Pria asal Indonesia itu mengangguk-angguk setuju. Lalu satu di antara mereka pamit untuk rehat. Perjalanan yang kutempuh masih jauh, kata si pria Korea. Lalu menarik selimut dan memiringkan badannya menghadap dinding bus. Ia memunggungi Ba.

Ini pengalaman baru untuk Ba. Tidak mudah menurutnya menumpangi bus di mana kursi penumpang berupa kasur untuk dua orang. Andai kau pria dengan tinggi di bawah rata-rata tentu tak jadi soal. Namun untuk Ba, ia harus melipat kaki ke lawan arah agar tidak mengganggu “teman tidurnya”. Lebih-lebih ransel besarnya ia taruh di ujung kasur yang kecil itu. Ia sebal sekali, namun ia tidak ingin membuat masalah di negeri orang.

Matanya sayup-sayup terpejam. Sejak mendarat di Bandar Udara Internasional Phnom Penh, ia belum meluruskan badannya. Ransel yang beratnya kurang lebih 7 kilogram itu ia bawa sepanjang perjalanan tanpa jeda. Kalau bukan untuk bertemu, Mar, seharusnya aku sedang telanjang dada dan hanya mengenakan kolor di ranjang tidur kamarku. Sebaris kalimat itu yang menjadi motivasinya untuk kuat melakukan perjalanan jauh, bahkan ketika tak ada cukup uang untuk membeli tiket pulang.
“Aku tidak akan membunuhnya untuk kedua kali,” ucapnya setengah sadar. Lalu ia terlelap dan mimpi bertemu Mar.
***
Suhu AC dalam bus berhasil membuat ia menggigil. Selain karena kedinginan, ia terbangun oleh suara seseorang yang mengetuk kaca jendela berulang-ulang. Karena penasaran sekaligus agak terganggu, ia mesti bangun, keluar dari kasur, berjongkok, lalu berdiri dan berjalan melewati lorong sempit bus dan menuju pintu. Ia sadar ternyata bus sedang berhenti. Sopirnya mencuri waktu untuk sekadar memejamkan mata. Wajar memang, dalam perjalanan sejauh ini, tidak mungkin ia akan terus menyetir, apalagi tanpa ada sopir cadangan yang menggantikannya.
Ba melihat keluar. Rupanya seorang gadis Kamboja, penumpang baru yang ingin masuk. Jalanan di hadapannya lengang. Ia sebetulnya bingung, bagaimana bisa ada penumpang di luar dan di pinggir jalan sedangkan dia mesti memesan tiket di biro travel lebih dahulu? Namun daripada banyak bertanya, ia mencari cara bagaimana membuka pintu masuk bus. Ia mengira cara membukanya tidak jauh berbeda dengan bus di daerahnya tinggal. Sialnya tidak. Si gadis yang terdengar samar-samar bicara dalam bahasa Kamboja, menunjuk ke arah sopir, sementara Ba masih sibuk mencari panel, tuas, gagang pintu atau apalah untuk membukanya.
Akhirnya Ba menyerah. Ia menuruti petunjuk yang diberikan si gadis. Ia menangkap kalau dirinya mesti membangunkan sang sopir. Ia tak tega, namun apa daya, ia hanya ingin semuanya segera selesai dan ia kembali bisa memejamkan mata.

Tubuh pria berbadan besar dan berkulit hitam itu ia goyang-goyang.
Sorry, sir,” ucapnya ragu namun terus menerus ia ulang-ulang hingga akhirnya pria itu terbangun. Sorot matanya yang tajam dan penuh amarah itu terus memandangi Ba. Ba tahu si sopir tidak paham bahasa inggris, jadi ia hanya menunjuk ke luar pintu. Tanpa menjawab, si sopir menggoyangkan kepala dan menaikkan tangannya ke udara—ekspresi kesal, pikir Ba. Setelah itu, ia menekan sebuah tombol berwarna merah, atau hitam ia tak peduli, dekat kemudi. Secara otomatis, pintu terbuka ke kanan. Si gadis masuk begitu saja, hanya mengangguk sekali ketika berpapasan dengan Ba dan si sopir. Pintu kembali tertutup. Ba menengok ke arah sopir untuk berbasa-basi, tapi sial ia sudah memejamkan matanya kembali.
Ba balik ke kasur penumpang miliknya yang sempit itu. Kejadian barusan benar-benar ingin ia hapus dari dalam benaknya.
***
Pejalan adalah orang-orang yang berani ambil keputusan. Bukan tentang seberapa jauh ia melangkah, namun seberapa ia siap menghadapi resiko yang bahkan belum pernah ia alami seumur hidupnya. Seperti waktu petang itu. Ba terbangun oleh guncangan yang cukup kuat. Sopir bus di mana pun, menurutnya sama saja. Karena merasa berkuasa atas kendaraan itu dan orang-orang di dalamnya, mereka, si para sopir bus keparat itu, dengan seenaknya menginjak pedal gas dalam kecepatan di luar batas aman—dan mengancam banyak nyawa penumpang.
Ketika Ba terduduk, si sopir tiba-tiba menginjak rem pakem sekali. Suara berdebam sulit dielakkan. Benturan yang sangat keras dialami kepala Ba. Ia menyundul alas kursi penumpang di atasnya. Ia kesakitan. Namun lekas teringat untuk mengecek jam tangannya. Sudah pukul 3 pagi waktu Kamboja. Gawat!
Ba bangkit dari tempat tidurnya. Ia mendekati si sopir menyebalkan itu. Ia tanya apa yang terjadi, namun si sopir menunjuk-nunjuk ban belakang lewat kaca di sebelah kirinya. Kemudi mobil bus ini berada di sisi kiri, berbeda dengan mobil di Indonesia pada umumnya. Pria berkulit sawo matang itu panik. Ia teringat pesan Mar, kalau sampai ia terlambat, Mar bersumpah tidak akan lagi memberikan maaf untuknya. Bagaimana ini?
What place is this?” Ba lihat sekeliling. Sisi kanan dan kiri jalan hanya ada hamparan sawah dan pohon-pohon. Tidak ia temukan rumah-rumah penduduk. “Hey, where is it? Can you hear me?!” Ba semakin kesal. Bagaimana bisa sepanjang perjalanan ia tidak memberitahu tempat tujuan penumpangnya. Ba menyesal dan berpikir salah menumpangi kendaraan. Sopir yang dungu, dan orang-orang yang tidak peduli. Bayangkan, satu bus, tidak ada yang menolongnya.
Ba berteriak siapa yang bisa membantunya menjelaskan di mana dia sekarang. Penumpang hanya bangun dan memandang kosong ke arahnya. Pria Korea itu nyaris tidak bergerak sama sekali setelah telinganya disumpal earphone sejak tidur tadi. Sempurna! Sekarang, apa yang mesti aku lakukan? tanya Ba kebingungan.

Lalu Ba hendak kembali lagi ke tempat tidurnya. Si sopir pun berdiri dan lekas keluar bus. Ba penasaran mengikutinya. Ternyata, ban mobilnya betus. Sejauh mata memandang, tidak ada satu tukang tambal ban pun di sana. Si sopir membuka bagasi, ia punya ban cadangan. Ba mengecek setiap markah jalan, ia ingin tahu di mana ia sekarang. Apakah sudah sampai di Siem Reap?
Ia menyalakan ponselnya, berharap mendapatkan sinyal untuk mengecek google maps. Usahanya nihil. Baterai ponselnya lemah dan tidak ada satu sinyal pun yang muncul. Selagi ia sibuk sendiri, si sopir kembali ke pintu masuk. Gerakan tangannya seolah mengajak Ba untuk kembali ke dalam. Ba diam sesaat. Lalu menggeleng. Ia mencoba lagi.
“Siem Reap?” tanyanya berulang-ulang. Ia berharap si sopir paham kali ini. Tapi kemudian ia ragu sendiri, apa mungkin ia yang salah menyebutkannya? Saat si sopir menggeleng-geleng, gadis yang tadi dibantu dibukakan pintunya oleh Ba, muncul.
“Aku menyesal harus mengatakan ini, tapi Siem Riep sudah satu jam yang lalu kita melewatinya,” katanya lirih dalam bahasa inggris.
What do you say? Are you kidding me?” Ba kesal bukan main. Gadis itu menunduk merasa bersalah. Si sopir tak ambil pusing. Lekas ia duduk lagi di belakang setir bus. Kepalanya ia gelengkan kepada Ba untuk segera naik kembali.
“Turunlah di sini, sebelum kamu semakin jauh. Kamu mesti putar balik. Naiklah taksi atau motor untuk sampai ke Siem Reap. Sekali lagi aku minta maaf,” gadis itu memelas. Ba jadi tidak enak hati. Tak seharusnya ia lakukan itu padanya. Ia masuk bus melewati gadis itu, lalu mengambil tas ranselnya. Lekas ia kembali turun dan sewaktu menatap gadis itu, ia ucapkan terima kasih. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Mobil sleeper bus kembali melaju meninggalkannya seorang diri.
Tas ranselnya ia banting dengan keras. Ia lihat kembali jam tangannya sudah menunjukkan pukul 3.51 pagi. Tidak ada kendaraan yang lewat. Ia terpekur untuk beberapa lama. Bagaimana bisa ini terjadi padanya? Ternyata tidak semudah seperti yang dibayangkannya. Keputusan tetaplah keputusan. Ia tidak bisa menyesalinya begitu saja atau menyalahkan siapa pun. Semua atas kehendaknya sendiri demi bisa bertemu Mar. Ada hal yang belum tuntas, hatinya berkata.
Ba duduk di sisi trotoar jalan, di bawah lampu merah. Satu dua mobil melaju dalam kecepatan penuh. Mereka tak memberikan kesempatan untuknya sekadar melambaikan tangan. Kalau bukan karena cinta yang menggerakkan, pastilah bukan keputusan ini yang ia ambil. Bahkan ia rela kehilangan pekerjaan lantaran izinnya tak dipenuhi oleh pihak perusahaan. Dengan uang seadanya ia memutuskan untuk menemui Mar ke Kamboja.
Selagi pikiran kalutnya mengembara dari satu peristiwa ke peristiwa lain, seseorang dengan motor Honda Astrea melintas di hadapannya. Ia berhenti, lalu bertanya, “Ada yang bisa aku bantu?”
Ba mengangkat dagunya. Ia terkejut ada seseorang dengan wajah penduduk lokal mampu berbahasa melayu. Tak mau buang waktu lekas ia jelaskan hendak ke mana ia diantar. Tersesat di negara asing itu, ia bukan takut akan ditipu atau dijahati oleh penduduk setempat, yang ia pikirkan adalah soal bagaimana ia mengirit-irit uangnya.
Sebelum ia naik, ia tunjukkan berapa sisa uang yang ada di dompetnya. Si pemilik motor tersenyum. Ia mengatakan tidak perlu khawatir, aku datang hanya untuk membantumu keluar dari masalah ini.
Ba membalas senyumnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ternyata, perjalanan bukan tentang seberapa banyak uang yang dimiliki, tetapi seberapa banyak kebaikan yang kau semai, untuk kemudian kau tuai hasilnya.
Mar, tunggu aku....

Cilegon, 15 Februari 2019


bersambung....

You Might Also Like

0 komentar