[Ulasan Film] Parasite; Film yang Belum Selesai

1:25 AM

image by: google.com

Score: 3/5

Barangkali saya akan menjadi yang paling berbeda dari penonton lainnya. Saya bahkan masih ragu untuk menuliskan ulasan singkat ini, tapi ya bagaimana, saya cukup menyayangkan (menghindari kata kecewa) setelah selesai menonton film Parasite ini. Pertama kali saya tahu film ini dari akun instagram Joko Anwar. Ia mengatakan kalau ini adalah “film jenius bikinan orang jenius”. Lalu setelahnya review bermunculan termasuk dari teman-teman saya. Semakin penasaran dongs, tentunya. Saya sampai khawatir nggak kebagian nonton di bioskop lantaran di Cilegon nggak ada CGV, Cinemaxx, dan Flix. Intinya film itu nggak masuk ke Bioskop di Cilegon dan Serang. Kebetulan karena saya sedang ada di Depok sekarang, jadilah saya nonton di Dmall pukul 21.10, karena pagi dan siang ada jam kuliah. >>> baca di sini <<<

Ekspektasi saya soal film ini cukup tinggi sekali, karena dipuja sana-sini seolah tidak ada cacatnya yang patut diperdebatkan, saya saja sampai khawatir dicap nggak ngerti film/penonton alay/ceb-kamp atau ejekan lainnya, tapi kemudian saya bertanya kenapa saya mesti memikirkan stempel itu, ini hanya soal selera dan sudut pandang sebagai penonton.

Opening film sangat bagus, menggambarkan kemiskinan tanpa perlu diungkapkan lewat dialog, cukup dengan memvisualkan situasi, dan begitulah sebuah film seharusnya bekerja. Film ini, seperti yang dikatakan para pengulas, banyak memainkan simbol dan metafora-metafora. Tentu saja itu sebatas asumsi penonton yang membandingkan dengan pengalaman-pengalaman menontonnya, interteks dari sebuah karya a ka asumsi.

Dan asumsi, kadang bisa melampaui apa yang sebetulnya ingin disampaikan kreator itu sendiri. Sepengalaman saya, pernah ada yang meneliti cerpen-cerpen saya untuk skripsi, saya terkejut karena pembaca punya interpretasi tersendiri dari karya saya yang bahkan saya sendiri tidak mempersiapkan sejauh itu—bisa jadi itu pula yang dialami Bong Joon-ho, sutradara dan penulis skenario film ini (meski kemudian netijen akan bilang, makanya tonton film-film Bong sebelumnya, dan ini asumsi saya, dan bodoh amat dengan film sebelumnya, biarkan karya berdiri sendiri). Bahkan banyak yang memberi nilai film ini dengan skor tertinggi seperti 10/10, 100/100, 95/100 dan seterusnya.

Film ini memang detil, saya sepakat. Saya justru mengkhawatirkan jangan-jangan, lagi-lagi asumsi saya, para fanboy dan fangirls film ini sulit menemukan atau enggan mencari celah karena sebelum film diputar, di bagian awal tertulis, “Wins Palme d'Or at Cannes film festival 2019”. Berhubung terlampau banyak yang memuji, jadi biarkan saya yang membuat antitesisnya, meski saya tidak bilang film ini jelek. Jujur film ini memang bagus, tapi bukan bagus banget, hanya bagus saja gitu, khas rata-rata film-film luar negeri lainnya; yang rapi, detail, gagasan yang kuat, ide brilian dan lain-lain.
image by: google.com
Saya mempertanyakan kenapa anak kecil si orang kaya jadi tiba-tiba nurut dengan guru les seninya, tanpa ada penjelasan setelahnya (“kan nggak semau scene kudu dijelasin, Bambang”, netijen said). Lalu soal batu cendekia yang saya naruh harapan besar banget sama scene itu, dia muncul di hampir setiap scene penting, tapi lepas begitu saja dari cerita. Kalaupun itu simbol, saya nggak relate. Lalu kenapa si tokoh bapak miskin sampe ngebunuh majikannya hanya karena merasa dilecehkan dibilang bau? Film ini dibuat abu-abu mungkin, ya, agar penonton terpecah untuk berada di belakang karakter yang mana. Tapi saya berpikir, seharusnya ending film ini bisa dibuat dengan alternatif lain, kalau memang ingin menyampaikan pesan damai, bukan dendam. Kalau begitu, lalu apa bedanya posisi si miskin dan si kaya? Atau memang itu pesan sebenarnya bahwa kita semua adalah Parasite?

Paling fundamental, kenapa rumah orang kaya nggak ada cctv di bagian dalam rumah? Saya nggak tahu ya budaya korea bagaimana, tapi setahu saya, orang kaya pasti insecure dan mudah curigaan—mereka juga pasti punya penasehat dan orang yang dipercaya sebelum mengambil sebuah keputusan. Buktinya, saat ada tamu, pintu gerbang mesti dibuka otomatis dari dalam agar tamu bisa masuk dan mesti bicara dulu pada semacam walkie-talkie yang dipasang di depan gerbang, masa cctv dalam rumah saja nggak ada?

Saya juga ingin tahu ke mana temannya yang kuliah, kenapa tidak diberi scene tambahan atau apa pun agar membuat ia juga khawatir dengan murid yang disukai dan dititipkan pada guru les penggantinya. Kalau dari awal disebutkan banyak simbol dan metafora, kenapa ending-nya tidak dibuat metaforis juga sekalian, bukan dengan saling membunuh seolah bunuh-membunuh adalah cara terbaik untuk mengakhiri cerita dan menyelesaikan sebuah masalah(?)

Depok, 17 Juli 2019

You Might Also Like

0 komentar