[CERPEN] RANTING (Haluan Padang, 19 Maret 2017)

11:02 PM

[CERPEN] RANTING (Haluan Padang, 19 Maret 2017)


cerpen ini dimuat di Haluan Padang, kolom Budaya, (19/03).


Itu aku
Ketika terjulur menciumi bulan

Kalau aku diizinkan bicara, saban hari dari atas sini aku memerhatikanmu. Dahulu kau tak begitu kusut dan bermuram durja. Wajah tulusmu yang kuingat berseri-seri. Aku malu untuk berbincang denganmu. Selalu saja aku memandang diriku sendiri setiap kali akan mencoba memanggilmu dari atas sini. Kuakui, suaraku tak selantang angin puting beliung yang biasa berpusar di ujung timur.

Lihatlah, kerut di wajahmu semakin menampakkan kemurungan. Bulan kian berganti. Tahun bergulir tiada henti. Aku tak tahu kapan usiaku akan dimamah masa. Bahkan tak mungkin selamanya aku bertengger di bagian batang tubuh yang paling ujung ini. Namun meski begini, aku bersyukur. Dari atas sini seolah bisa kujangkau rembulan. Awan yang berarak dan burung-burung yang tak jarang menghampiriku. Ia mengajakku berbincang dengan suara merdunya. Langit itu seperti sejengkal lagi dapat kuraih.

Tubuhku kian hari kian memanjang. Terjulur ke segala arah. Tetapi tenang saja, aku masih memandangmu dari sini. Aku masih berharap bisa jatuh dipelukanmu. Meski tentunya itu akan sangat menyakitkan bila sampai terjadi.

Oh, ya. Sesekali aku penasaran dengan makhluk-makhluk yang melintasi tubuhmu. Apa yang mereka maksudkan melakukan banyak hal sesuka hatinya. Kawananku pun sering dijadikan korban oleh mereka. Beruntung aku yang berada di puncak ini selalu lolos dari terkaman mereka. Aku tahu, kau sangat kesakitan setiap kali mendapatkan perlakuan yang melebihi batas kewajaran dari mereka. Anehnya, yang kutahu mereka sering membuat peraturan yang ketat, tetapi mereka malah melanggarnya sendiri. Permainan macam apa itu? Apa kau tahu?

Sewaktu rembulan pamit meninggalkanku, mentari melambaikan cahaya indahnya yang meliuk-liuk di tubuhku. Sesaat aku terbangun. Yang kuingat.... hanya kau saat itu. Sebenarnya..., sepanjang waktu aku selalu memikirkanmu. Kulihat makhluk-makhluk yang kepalanya ditumbuhi daun berwarna hitam, sebagian lainnya putih itu sering mengusikmu. Herannya mereka bukan malah berterima kasih padamu, tetapi kian hari semakin membuatku kesal. Andai saja aku bisa melompat dari sini, sudah kujatuhkan tubuhku di atas kepalanya. Sayangnya aku tak boleh melawan takdir. Begitu leluhurku berpesan.

Itu aku
Ketika gigil ditampar malam
Itu aku
Ketika terbakar dipapar siang

Kau kini sudah renta, apa masih sanggup hidup dengan menopang dosa-dosa mereka? 
Satu hal yang membuatku semakin peduli dan hormat denganmu adalah jiwa besarmu. Kelapangan jiwa di tubuhmu itu tiada bandingannya. Kaulah yang nomor satu bila bicara tentang kesabaran. Harusnya mereka belajar darimu. Aku saja selalu berusaha menjadi sepertimu meski begitu sulit. Setiap malam setiap siang, apa pun yang terjadi padamu, kau tetap tegap. Mantap menatap langit. sedangkan tubuhku? Aku ringkih. Semakin aku menjulang mencapai langit, aku kian mudah ditampar malam, dikuliti siang.

Tuhan Mahaadil. Meski kutahu kau lebih dahulu tercipta dibanding aku, akan tetapi kau besar dan tumbuh tetap dengan tubuh yang tegap. Meski usia tak bisa membohongi waktu. Sesekali kudengar batukmu yang menggelegar. Mungkin penyebabnya karena ulah mereka-mereka juga. Gerombolan kubik air yang menggerusmu memang terkesan sepele bagimu. Namun bila semakin lama itu terjadi dan dibiarkan, aku takut kehilanganmu lebih cepat, sebelum aku benar-benar berhasil menggapaimu. Memelukmu dengan penuh ketulusan.

Aku kesal! Sering melihat perbuatan buruk mereka padamu. Hanya sebatas melihat yang mampu kulakukan. Mereka melemparimu dengan sesuatu yang bagi mereka tak layak pakai lagi. Dengan seenaknya kedua tangkai di tubuhnya mengayun mengisi setiap sudut ditubuhmu. Hingga, maaf, kau menghasilkan aroma busuk yang mampu membunuh lalat-lalat yang padahal lalat-lalat tersebut hidup dari lingkungan semacam itu. Mungkin saking mencekiknya aroma itu hingga mematikan saluran pernapasan siapa pun yang menghirupnya.

Aku ada
Kecil saja

Kalau aku boleh berkata jujur padamu. Aku adalah bagian darimu. Tetapi seperti yang pernah ingin kubisikkan padamu, aku selalu merendah diri. Setiap kali aku ingin membelamu, atau sekadar menyapamu, aku tahu diri. Aku tahu siapa diriku. Aku melihat apa yang kupunya hingga berani-beraninya ingin memelukmu.

Andai waktu dapat berjalan mundur. Mungkin sekalipun Tuhan menawariku untuk menjadi serupa denganmu, aku akan menolak. Bukan aku lancang membelokkan tawaran Tuhan. Aku hanya berkata kalaupun Tuhan memberikan pilihan untuk itu, lebih baik aku tetap menjadi seperti ini. Aku hanya cukup melihat ketegaran dirimu. Kau hebat mau menjadi sesuatu yang terkesan biasa, namun Tuhan sebenarnya menumbuhkan ketenangan serta kesabaran dalam jiwamu.

Satu hal yang jelas, adanya diriku itu kuasa Tuhan. Meski aku kecil di matamu, apalagi dalam pandangan Penciptaku, aku tetap menikmati hidup ini. Sekalipun saban hari dibayangi rasa rindu yang begitu menggebu. Saat aku terlahir, aku sudah melihatmu. Aku sudah mengidolakanmu. Kumohon, bila makhluk-makhluk yang katanya lebih istimewa dari ciptaan-Nya yang lain itu mengganggumu, jangan segan-segan untuk menggertak mereka. Agar mereka sadar, adanya dirimu itu untuk dikasihi. Untuk saling memberi dan menyayangi. Bukan hanya ingin kenikmatannya saja mereka keruk darimu lalu setelah itu sepahnya kau yang merasakan pula. Berontaklah! Aku tahu, ada kekuatan yang Tuhan titipkan padamu. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu sebelum aku mampu memapahmu. Mengelus wajahmu yang dahulu begitu berseri.

Aku ada
Dalam bayang pongah tempatku bertumbuh

Aku 
Digenggam kehidupan
Bak lengan pemandu sorak

Kau yang berdiam di bawah sana. Bila kuperhatikan lebih jauh, tubuhmu ditumbuhi belukar-belukar yang kokoh dan menjulang. Tinggi mereka bahkan ada yang mencapai sepuluh kali lipat dari tinggi tubuhku. Aku takut ulah makhluk-makhluk yang menyeramkan itu bisa menghancurkanmu. Tangkai-tangkai besi mereka mampu menciptakan sesuatu yang besar dan perkasa itu. Mereka bisa mengakar beratus-ratus di tubuhmu, bahkan beribu-ribu.

Kehadiran mereka semakin menghawatirkanku. Beberapa hari yang lalu kawan-kawan serta leluhurku habis ditebas oleh makhluk yang pongah itu. Apa mereka tak sadar, kelangsungan hidup mereka juga Tuhan titipkan pada kami. Bila kroni-kroniku mati, maka lambat laun mereka pun akan mati. Aku rela bila memang takdirku harus dicekik lalu dipisahkan dari tubuhku dengan alat-alat yang berbunyi bising itu. Tetapi yang aku takutkan aku tak sempat pamit memelukmu. Mereka akan langsung membawaku di dalam alat besar melebihi besarnya gajah namun beroda itu. Mereka akan mengirimku dari satu pulau ke pulau lainnya.

Katakanlah sesuatu untukku. Aku ingin mendengarkan suara jiwamu. Aku sudah kenyang mendengar suara batukmu yang kadang menyemburkan cairan panas ke segala penjuru. Aku percaya, Tuhan bukan tak mampu menyingkirkan makhluk-makhluk ciptaanNya yang bandel macam mereka dari tubuhmu. Tuhan inginkan keseimbangan dalam kehidupan yang Ia ciptakan.

“Tapi mereka tuli, Tuhan. Mereka tak bisa menggunakan pendengarannya. Bahkan hati yang kau ciptakan, di tubuh mereka tak berfungsi,” gumamku di sepanjang malam. Aku hanya berteriak dalam diam. Kurasa kau merasakan getaran yang aku timbulkan. Namun kau tak akan pernah tahu apa yang aku katakan itu sampai aku bercerita sendiri padamu.
Lagi. Aku dipertemukan dengan sorotan cahaya dari ufuk timur pagi ini. Angin yang berembus hari ini terasa begitu kencang menggoyang tubuh. Terpaannya tak seakrab dulu. Kulihat kawan-kawan tumbang satu persatu. Tak ada niat dari makhluk-makhluk maruk itu untuk merawat barang sebagian.
Apa kau mendengar suara ‘Kreek?’ 
Itu berasal dari punggungku yang tiada berdaging. Kali ini angin benar-benar menunjukkan kemampuannya. Atau mungkin inilah takdir yang telah digoreskan olehNya.

Itu aku
Kering patah terkulai layu
Terurai waktu di dalam tanah

Aku melayang-layang di udara. Kulihat sekitar seperti berputar-putar. Aku merebah dalam wajahmu. Impianku untuk memelukmu terwujudlah hari ini. Biarkurasakan sakit yang membawa kenikmatan ini barang sejenak. Rasakan. Rasakanlah tubuhku yang melebur dan hancur menyatu bersamamu. Berkatalah sesuatu. Sebelum Sang Waktu menghabisi kehidupan kita.
Ada satu hal yang ingin aku bisikkan padamu. Sesuatu hal yang sebenarnya sangat rahasia. Kali ini aku benar-benar bisa merasakan panas di tubuhmu, begitu menyengat hingga menjalar ke seluruh tubuhku. 
Oh, ya. Sebelum aku berbisik padamu, berjanjilah kau akan hidup lebih lama lagi. Tenang saja, nanti akan aku ajukan keberatanku pada Tuhan, perkara makhluk yang konon diberi sesuatu yang bernama hati dalam tubuhnya—meski aku tak tahu apa gunanya bagi mereka. Kalau kau tetap diusik dan disiksa, kau masih memiliki Tuhan yang menciptakanmu. Berdoalah. Sampaikan segala kegelisahanmu padaNya. Sebab, aku tak akan ada lagi untuk memerhatikanmu.
Sebelum detik terakhirku, aku ingin berbisik sesuatu padamu. Sejak awal aku bertemu, hingga perlahan berbincang tentangmu pada kesunyian. Ada hal yang belum sepenuhnya kau ketahui. Izinkanlah aku berbicara untuk yang terakhir kalinya.

Perkenalkan, namaku:
“Ranting”,
sekata saja.[]

Cilegon, 31 Agustus 2014




_______________________________
Catatan:
Cerpen ini diilhami dari puisi berjudul “Ranting” yang terhimpun dalam buku kumpulan puisi “Rembang Dendang” (AG Litera, 2013), karya penyair asal Sumatera Barat, Denni Meilizon. 

You Might Also Like

0 komentar