[CERPEN] JEJALON IBU (Republika, 12 Juni 2016)

1:14 PM

Cerpen, "Jejalon Ibu" dimuat Koran Republika, (12/06/16)


Itu irisannya yang kesepuluh setelah aku mulai mengajaknya bicara, tetapi belum juga ada tanggapan. Kembali aku menghitung sampai ke angka duapuluh tiga, dan Ibu masih diam. Seperempat lagi menjelang irisan ke duapuluh empat jari telunjuk kiri Ibu berdarah. Aku menahan untuk tidak merengek lagi. Air muka ibu pias, dan menatapku dengan pandangan menuduh. Ada apa? Bukankah pisau itu Ibu yang pegang?
Ibu masih saja bungkam. Belum mau menanggapi kecemasanku. Ia berdiri dan menggamit kain mori di atas meja. Tidak seperti biasanya, untuk hal-hal sepele dan tanggung ditinggali, ibu selalu meminta bantuanku, namun tidak kali ini. Kenapa ibu tampak marah padaku? Bukankah ini hal biasa?
“Kata Pak Ishaq, besok hari terakhir melunasi tunggakannya, Bu.” Dengan hati-hati akhirnya mulutku bicara lagi. Kali ini dengan suara yang teramat rendah dan hampir tidak terdengar.
Ibu berhenti mengiris-iris singkong rebusnya, entah diirisan ke berapa, aku sudah tak memedulikannya lagi.
“Selagi cuaca masih terik, jemurkan ini di atas genting kandang ayam itu.” Seolah tak mendengar keluhanku, Ibu menyodorkan tetampah yang di atasnya sudah terisi banyak irisan-irisan singkong yang dipotong-potong secara vertikal; bentuknya memanjang seruas jari tengah, tidak beraturan dan tipis-tipis—tampaknya ibu lebih senang memotong dengan bentuk begitu tinimbang melingkar pada umumnya. Di salah satu sudut tetampah masih ada kain mori bekas mengelap luka ibu. Cukup banyak jejak bercak darah yang merembas, apa jemarinya baik-baik saja?

Aku agak kesulitan ketika harus menaruh tetampah yang berbentuk bundar sekitar satu meter ini di atas kandang ayam. Di tambah aku masih mengenakan rok rampel abu-abu yang panjangnya semata kaki. Merepotkan sekali! Juga tinggi kandang ayam piaraan bapak ini lebih dari dua meter melewati tinggiku yang hanya 140 sentimeter.
Aku mencari pijakan. Di sebelah kaki kandang aku menemukan dingklik—kursi kayu kecil buah tangan bapak. Lekas saja kugeser dengan kaki kananku.
Hap!
Sedikit perlahan melemparnya agak ke tengah genting, wadah berisi irisan singkong itu sudah bertengger di atasnya. Sekarang matahari yang bertugas mengeringkannya. Aku berjalan melewati pohon singkong yang ditanam bapak—dari sana muasal ibu berdagang jejalon—, lalu kembali ke dalam, mengharap anggukan dari Ibu lekas kudapat.
“Sudah kamu jemur Jejalonnya?” ibu benar-benar tak memberi waktu aku bernapas, atau minimal menanyakan lagi hal yang tadi masih ia gantung. Aku mengangguk malas dan kembali mengambil posisi di sebelah ibu.
Bukan karena ini bulan Ramadhan Ibu menjelma pedagang. Akan tetapi kesehariannya memang menjadi penjaja jejalon—sebutan untuk keripik singkong yang sudah kujelaskan tadi. Ia memutar badan dan tak sedikit pun ia mau memalingkan wajahnya ke arahku. Aku makin kesal dibuatnya. Kalau terus-terusan begini, dan ibu tak lekas memberiku uang iuran sekolah, bisa-bisa besok aku tak akan boleh masuk kelas dan mengikuti Ujian Akhir Nasional.
“Ibu...,” aku menahan ucapanku. Tepat ketika jemarinya mengusap keringat di dahinya yang mulai keriput. Tunggu..., ibu menangis? Aku mendengar sesenggukan dari balik punggungnya dan memastikan kalau ia benar-benar mengelap sesuatu dari matanya. Atau mungkin ia mengeluarkan airmata sebab ibu masih serius menggoreng jejalon—yang sudah kering sisa kemarin—dan asap yang keluar dari tungku memedihkan matanya? Aku juga merasakannya, tetapi tak sampai mengundang airmata. Aku melihat ibu berkali-kali mengelap sesuatu dari wajahnya, kali ini ia menggunakan lengan baju yang dikenakannya.
“Ibu kenapa?”
“Kamu sudah makan belum?” ia masih masyuk membalikkan jejalon di atas wajan dengan kodek di tangan kanannya. Belum aku jawab, ia melanjutkan, “ada dadar di meja. Makan dulu sana, usai itu bantu Ibu membungkusi keripik singkongnya.” Ibu bertanya begitu sebab tahu betul kalau hari ini aku sedang haid. Sungguh ibu membuatku terenyuh, harusnya aku menghormati ia yang sedang berpuasa, bukan sebaliknya.
Kali ini kekhawatiran yang menjalar di dadaku terasa berbeda. Apa aku melukai perasaannya? Maaf Ibu. Aku melangkah menuju kamar, gegas berganti pakaian dan melupakan sejenak apa yang membuatku resah sejak pelajaran sekolah berakhir.
***
Semua bermula ketika bapak sedang berada di sawah. Bukan sawah miliknya, ia hanya buruh tani di lahan milik pak Lurah. Saat itu aku masih kelas 3 SMP. Sepulang sekolah, bersama ibu aku bermaksud mengunjungi Bapak—untuk menunjukkan sesuatu padanya. Tentu dengan membawa rantang berisi makanan untuk kami makan bersama.
Aku merajuk pada ibu agar aku saja yang membawa sepeda ontel bapak, tetapi tak digubrisnya. Dengan wajah ditekuk, aku menuruti ibu dan membonceng di kursi belakang. Namun ibu paling bisa membuat aku kembali tersenyum. Seperti saat siang menjelang sore itu, ia mengkelok-kelokkan sepeda padahal jelas-jelas jalanan berkerikil di depannya lurus saja. Tubuhku berguncang-guncang. Lalu ibu mengundang tawa dan tentu saja aku berbaur dengannya.
Sepanjang jalan setapak yang kami lewati, anak-anak riuh bermain air, memecah deras sungai dengan terwengkal—lempengan genting-genting—yang dilempari, sambil berlomba dan adu ketangkasan, siapa yang bisa membuat terwengkal itu melompat lebih dari tiga kali di atas permukaan air, dialah pemenangnya. Mereka bertelanjang dada; sebagian lainnya tanpa memakai busana. Pernah suatu waktu, sekira usia delapan tahun, aku melakukan hal yang sama. Tetapi ibu menjemputku dan meminta aku segera memakai kembali pakaianku. Karena saat itu aku mandi bersama dengan teman laki-laki di kampung. Dulu aku tak mengerti kenapa ibu harus membeda-bedakan seperti itu, tetapi aku paham setelah usiaku kian bertambah.

Di sebuah gubuk, bapak sedang duduk dan mengipas-kipaskan caping ke wajahnya. Keringat bercucuran di keningnya yang hitam. Ibu memelankan kayuhan sepedanya dan aku melompat sebelum sepeda berhenti sempurna.
“Hati-hati, Ganis!” ibu berteriak tetapi aku tak acuh. Kaki-kaki kecilku membawa ke pelukan bapak. “Awas tumpah rantangnya!”
Aku tertawa-tawa lepas bersama bapak, sedang ibu bersungut-sungut sembari mempercepat laju kakinya dengan menyingsat kain sarungnya. Dan barangkali, itu menjadi tawa terakhir bapak yang kami dengar bersama.
***
Tepat pada suapan terakhir seekor burung gagak bertengger di atap gubuk. Ia berkoak-koak entah membawa kabar apa. Yang jelas, setelah itu, dari kejauhan banyak orang-orang berlarian ke arah kami. Angin kencang berembus bermain-main dengan rambutku. Ibu dan bapak bertukar tatap, tampak sepasang mata dari masing-masing mereka melempar tanya.
“Kang Badruuun! Kang Badruuun!” Bapak menautkan kedua alisnya. Barangkali kekhawatiran bercampur kebingungan menerjang perasaannya. Terlebih sekitar delapan orang saling dan terus-menerus berteriak. Entah apa yang dari jauh diucapkannya, hanya terdengar seperti dengung para lebah.
“Ada apa?”
“Rumahmu, Kang, rumahmu...,” Mang Ripin tergeragap. Apa yang hendak disampaikannya?
Geni, Kang. Anu...,” Bi Ranah mengambil alih. “Umahe keobongan. Gede murab-murab. Gage balik, Kang, Bu Ros![1]
“Allaaaaah!” aku tersengat mendengarnya. Ibu begitu syok. Matanya terbelalak dan bibirnya tampak kelu. Bapak gegas berlari disusul warga lainnya. Para buruh tani tak mau ketinggalan, dengan ember di tangan, mereka mengekor. Juga diikuti anak-anak yang bermain di sungai tadi. Bi Ranah memeluk ibu. Aku tak buang kesempatan, lekas mengayuh sepeda ontel bapak, sekalipun kesulitan dan pantatku tak sampai duduk ke joknya.
***
Langkah bapak bersama warga cepat sekali. Bahkan dengan menggunakan sepeda aku tak bisa mengejarnya. Apalagi setiap belokan aku harus turun dan memutar-menggeser roda belakangnya. Mengarahkan agar lurus dengan gang kecil yang hendak kulewati.

Setibanya di sana, mataku hanya dapat menjangkau orang-orang yang berkerumun. Mereka riuh berlarian membawa ember, bak, baskom, segala wadah yang bisa menampung air dari sungai di samping rumah.
“Ganis, mana Ibumu?”
“Masih di sawah dengan Bi Ranah, Mang,” kepalaku masih kuputar berkeliling, tak menatap Mang Ripin, pamanku. “Bapakku mana, Mang?”
“Ke dalam.”
“Ke dalam?”
“Iya, sudah kami cegah tapi masih terus saja berlari. Kami khawatir. Ia sudah lama di sana dan belum juga kembali.”
“Bapaaakkk!!!”
Tak banyak yang bisa kulakukan. Api melahap sebagian besar sisi depan rumah kami. sulit melihat ke dalam, sebab asap hitam membumbung pekat. Kulihat langit tampak mendung, entah mendung sebenarnya atau efek dari kobaran api. Aku hanya bisa berzikir dan memohon pertolongan Allah.
Lalu tak lama bapak keluar dengan membawa seragam sekolah juga buku-buku pelajaran milikku. Untuk apa, Pak?
Belum berhasil kudekap, bapak limbung dan ambruk. Paru-parunya kehabisan oksigen. Dan luka bakar menjalar di beberapa bagian tubuhnya.
***
“Semua gara-gara, Ibu.”
“Sudahlah, Bu. Ikhlaskan saja.” Aku berusaha kuat di depan ibu. Usai menyalakan lilin, aku mulai memasukkan keripik-keripik singkong ke dalam plastik putih ukuran perempatan itu. Untuk membungkusnya, aku melipat ujung plastik dan mendekatkannya ke sisi api pada lilin, lalu merekatkan masing-masing sisi plastik dengan ibu jari dan telunjuk, sebelum ia benar-benar mengering. “Andai Ibu ingat memadamkan api di tungku saat itu,” kami memang sangat gembira hingga lupa mengecek apakah api sehabis memasak air sudah dimatikan atau belum. Ibu teramat bangga dengan hasil ujian sekolahku, dan ia ingin lekas menunjukkannya pada Bapak—bahwa anaknya cerdas, juara pertama sejak di kelas satu. Namun, ini juga keteledoranku, harusnya aku juga membantunya mengecek sesuatu sebelum pergi meninggalkan rumah.

“Harusnya Bapak bersama kita, Nis.” Tangis ibu pecah tak terbendung. Ia mendekapku erat sekali. Sungguh aku tak bisa menahan semuanya lebih lama lagi. Ibu terus-menerus sesenggukan. Airmatanya adalah kesalahanku. Seharusnya aku sudah tidak meminta uang iuran lagi pada ibu; dan sekolah selalu mengingatkan ibu pada Bapak, membangkitkan memori lamanya. Betapa bapak bangga sekali anaknya bisa bersekolah. Hingga dalam pikirannya, dalam keadaan segenting apa pun, ia tetap memikirkan itu, menyelamatkan buku-buku dan seragam sekolahku, di banding nyawanya. Setelah kepergian bapak, biaya sekolahku sepenuhnya ditanggung dari hasil jualan jejalon yang dibuat ibu. Pulang sekolah selalu aku berkeliling menawarkannya ke rumah-rumah warga.
Tepat saat azan magrib berkumandang, tiba waktunya berbuka puasa, Ibu berbisik padaku, katanya, besok ia akan menjual ayam-ayam juga sepeda ontel milik mendiang Bapak untuk melunasi tunggakan iuran sekolahku.[]

Cilegon, 08 Juni 2016/
03 Ramadhan 1437 H.




[1] “Rumahnya kebakaran, apinya berkobar-kobar. Lekas pulang, Kang, Bu Ros!”

You Might Also Like

4 komentar