[RESENSI] NOVEL: PASUKAN MATAHARI (Penerbit Indiva, 2014)

8:39 PM



"Pasukan Peraih Impian"


Judul Buku      : Pasukan Matahari
Jenis Buku       : Novel
Penulis             : Gol A Gong
Penerbit           : Penerbit Indiva (Indiva Media Kreasi)
Tahun Terbit     : Cetakan I,
September 2014
ISBN               : 978-602-1614-43-3
Tebal                :
368 halaman
Harga               : Rp.
69.000,-


Apa cita-citamu di masa kecil? Adakah sebuah cita-cita yang pernah kamu coba wujudkan bersama teman-teman terbaikmu? Bila ada, segera capailah sekalipun butuh perjuangan serta pengorbanan yang tak semudah membalik telapak tangan.

Begitu kiranya yang ingin disampaikan oleh penulis Gol A Gong dalam novel terbarunya, “Pasukan Matahari”. Menceritakan tokoh sentral bernama Doni yang digambarkan sebagai seorang bocah yang masih bersekolah kelas 5 Sekolah Dasar Negeri Purwaraja Menes, Pandeglang. Doni adalah anak yang periang, memiliki semangat menggebu dan selalu dijadikan ketua atau pemimpin dalam lingkup teman-temannya. Layaknya anak kecil di masanya, sifat penasaran yang dimiliki Doni begitu tinggi. Tercermin ketika dia tengah menyaksikan sebuah helikopter yang mendarat di sekitar alun-alun Menes. Seorang Tentara usai terjun payung menghampiri Doni dan bertanya apa cita-citanya. Dengan lantang Doni menjawab, “Jadi pilot om!” (hal.148).
Doni benar-benar terkesan dengan tentara itu sewaktu melompat dari helikopter dan mendarat dengan mengembangkan parasut di punggungnya.

Sepulang dari  alun-alun, Doni ingin mencoba seperti apa yang dilakukan para tentara itu. Dia mengambil payung dari dalam rumah, kemudian menaiki pohon Seri (Kersen). Dia kembangkan payungnya lalu bersiap melompat. Teman-temannya mencoba mengingatkan kalau apa yang akan dilakukannya  berbahaya, tetapi Doni tetap bersikeras dan akhirnya dia melompat dari ketinggian 3 meter. Naas, dia terjatuh dengan sangat keras. Teman-temannya berteriak dan segera menghampirinya. Tangan kiri Doni terluka. Mang hendi, Asisten Rumah Tangga di rumahnya, datang menolong. Kemudian dia mengabari Pak Akbar, ayahnya Doni, yang masih berada di sekolah. Pak Akbar berprofesi sebagai guru olahraga.

Sungguh malang, tangan kiri Doni mengalami patah tulang. Berbagai usaha telah ditempuh. Baik melalui pengobatan alternatif (Dukun urut), hingga ke rumah sakit. Tetapi Dokter menyarankan bahwa tangannya harus di amputasi kalau tidak nyawa taruhannya. Sebab setelah melalui pemeriksaan, ada bisa ular yang menjalar di tangan kiri Doni. Akhirnya di usia 11 tahun Doni terpaksa melanjutkan hidup dengan satu tangan. Dan itu benar-benar membuat psikisnya terpuruk.

Sewaktu di rumah sakit, Doni dipertemukan dengan: Yayat, Ujer, dan Herman. Ketiganya bernasib serupa dengannya: Yayat kaki kanannya buntung di bawah lutut; Ujer hanya memiliki tangan kiri, dan Herman kehilangan lima jari tangan kirinya tersebab bermain petasan. Sejak saat itu semangat Doni kembali bangkit. Dia tersadar bahwa beruntung masih diberi kehidupan dan sanggup mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya. Mereka akhirnya bersahabat, tersebab merasa senasib dan sepenanggungan, kemudian membentuk kelompok yang diberi nama Pasukan Matahari.

Pembaca dibawa dengan cerita masa sekarang pada bab pertama. Di mana tokoh Doni sudah berkeluarga dan berprofesi sebagai penulis dan wartawan profesional di salah satu media cetak.
Pada bab pertama: “Pulang ke Kampung Halaman”, menceritakan kisah hidup Doni—dengan memakai sudut pandang orang pertama (aku)—yang mulai dihinggapi kegamangan dalam menentukan keputusan.
Pertama: Doni sudah bekerja hampir 12 tahun di media cetak—yang konon berjasa pula membesarkan namanya. Kepercayaan perusahaan pada kinerjanya membuat dia diminta untuk meliput kegiatan pada hari kemerdekaan di Jogjakarta. Namun yang Kedua: Doni sudah membuat janji dengan teman-temannya dari Pasukan Semut dan Empat Matahari—sebutan untuk grup masa kecilnya—untuk bersilaturahim setelah puluhan tahun tidak saling berjumpa. Dia benar-benar tengah dihadapkan pada keputusan tersulit. Keduanya datang di saat yang bersamaan. Akan tetapi setelah mendapatkan masukan dari Pratiwi, istrinya dan berbagai pertimbangan, Doni memilih untuk mengundurkan diri. Keputusan itu dia ambil demi menepati janjinya pada teman-teman masa kecilnya untuk berjumpa di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Ya, janji itu sudah dia ikrarkan sewaktu masa SD dulu bersama Pasukan Semut bahwa: “29 tahun yang akan datang, saat kita berumur 40 tahun, kita harus berkumpul lagi.” (Hal.128). Maka mereka memproklamirkan akan bertemu lagi di Gunung Anak Krakatau, dengan membawa kisah keberhasilan mewujudkan cita-cita dan kesuksesannya masing-masing.

Memasuki bab kedua hingga bab keempat, suara narator berganti menjadi sudut pandang orang ketiga serba tahu. Mengisahkan lika-liku perjalanan Doni sejak kecil. Mulai dari cerita pembentukan nama Pasukan Semut yang beranggotakan: Doni, Yusuf, Nurdin, Wahyu, Iroh, Nani, Fitri dan Irma, hingga perjalanan menggapai cita-cita Doni yang beralih dari pilot menjadi penulis dan atlet bulutangkis setelah kehilangan sebelah tangannya. Cerita semakin seru dan pembaca dibawa dalam nuansa lokalitas wilayah Menes, Pandeglang yang begitu khas dan kental.

Jangan salahkan penulis kalau ketika membaca buku Pasukan Matahari kita akan dibuat penasaran dengan segala tempat wisata yang ada di kota Menes dan wilayah Banten. Sebut saja seperti: bermain di jembatan gantung, berlibur ke pantai Anyer, menyeberangi pulau Sebesi hingga finalnya pendakian ke gunung Anak Krakatau. Penggambaran setting tempat yang detail hingga penokohan yang berkarakter khas, membuat cerita dalam buku ini terasa hidup. Tentu semuanya tak lepas dari kelihaian penulis dalam merangkai kata dan riset lapangan yang sangat mendalam.

Cerita sederhana yang mudah dicerna oleh segala kalangan; baik anak kecil, remaja hingga orang tua membuat kita nyaman dalam membacanya. lengkap sudah segala keindahan provinsi Banten tercurah dalam buku ini. Setidaknya, kehadiran buku Pasukan Matahari sanggup mengubah persepsi negatif seperti: Jawara, Dinasti dan Perdukunan di Banten menjadi provinsi yang dikenal banyak sekali destinasi wisata liburannya dan membangun kegiatan literasi. Satu hal, “Inilah saatnya otak, bukan otot. Banten harus dilepaskan dari budaya otot” (Hal. 349). Kalimat itu yang melekat pada buku ini.

Di bagian akhir saya kutipkan sebuah kalimat Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu buku, bahwa: “Menulis bukanlah satu-satunya cara untuk menikmati untaian kata, karena masih ada cara lain untuk merayakannya, yakni membacanya.”

Hadiahkanlah buku ini pada orang-orang yang kita cintai dan sayangi. Atau panggillah anak-anak untuk berkumpul. Kisahkan pada mereka bahwa cita-cita wajib dimiliki oleh setiap insan. Wujudkan impianmu, raihlah dengan semangat menggebu seperti yang akan dan telah buku ini tularkan pada pembaca sekalian.[]
Cilegon, 01 Desember 2014
________________________________________________

You Might Also Like

0 komentar